Korut Tembakkan 2 Rudal Balistik Secara Bersamaan, Ini Respons Korsel dan Jepang

Kondisi di Semenanjung Korea kembali menegang usai Korea Utara (Korut) kembali menembakkan rudal balistik. Militer Korea Selatan (Korsel) menyebut negara tetangganya tersebut baru saja menembakkan dua rudal balistik ke laut secara bersamaan pada Minggu (9/10) waktu setempat.
Informasi dari militer Korea Selatan ini disampaikan kantor berita Yonhap. Aksi Korea Utara ini terjadi di tengah ketegangan atas latihan militer gabungan Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Serikat di wilayah tersebut.
Kantor kepala staf gabungan militer Korea Selatan mengumumkan peluncuran dua rudal balistik Korea Utara tersebut yang ke-7 dalam dua minggu tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
"Sambil memperkuat pemantauan dan kewaspadaan kami, militer kami mempertahankan postur kesiapan penuh dalam kerja sama erat dengan Amerika Serikat," kata kantor kepala staf gabungan Korea Selatan.
Sementara itu, Kantor Perdana Menteri Jepang juga mengkonfirmasi peluncuran rudal Korea Utara tersebut.
"Korea Utara telah meluncurkan rudal balistik yang dicurigai. Lebih banyak pembaruan menyusul," kata kantor itu melalui Twitter dikutip dari AFP.
Pemerintah Jepang menyebut rudal itu tampaknya jatuh di luar laut ZEE Jepang. Kantor media Jepang, NHK, melaporkan penjaga pantai belum menerima laporan ada tidaknya kerusakan pada kapal Jepang.
Peluncuran rudal Korea Utara itu terjadi setelah latihan militer gabungan antara AS dan Korsel berakhir Sabtu (8/10), dan latihan gabungan antara AS, Korsel, dan Jepang pada awal pekan ini.
Penembakan rudal Korea Utara pada Minggu adalah yang terbaru dari serangkaian penembakan, termasuk rudal balistik jarak menengah yang ditembakkan Selasa (4/10) di atas wilayah Jepang. Mendorong peringatan bagi orang-orang di daerah yang terkena dampak untuk berlindung.
Pihak Korea Utara menyebut uji coba rudal baru-baru ini sebagai balasan yang terhadap ancaman militer AS di Semenanjung Korea.
Meski demikian, media Korut, KCNA, mengeklaim serangkaian peluncuran rudal tersebut tidak membahayakan keselamatan penerbangan sipil atau menimbulkan ancaman bagi negara-negara tetangga.
“Korea Utara menganggap kritik semacam itu sebagai provokasi politik AS dan pasukan bawahannya yang bertujuan untuk melanggar kedaulatan DPRK,” ungkap KCNA.
