Korea Utara Tuntut AS dan Korsel Hentikan Latihan Militer

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tentara Korea Selatan dan AS ambil bagian dalam latihan operasi penyeberangan sungai bersama di Yeoju, Korea Selatan. Foto: Kim Hong-Ji/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Tentara Korea Selatan dan AS ambil bagian dalam latihan operasi penyeberangan sungai bersama di Yeoju, Korea Selatan. Foto: Kim Hong-Ji/REUTERS

Korea Utara pada Senin (31/10) menuntut Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan menghentikan latihan militer skala besar yang tengah dilakukan kedua negara. Dikutip dari Reuters, latihan militer yang disebut sebagai provokasi dapat menimbulkan, "tindakan lanjutan yang lebih kuat" dari Pyongyang.

"Situasi di Semenanjung Korea dan area di sekitarnya telah memasuki fase konfrontasi kekuatan untuk kekuatan serius lagi-lagi karena langkah militer yang ceroboh dan tak henti-hentinya dari AS dan Korea Selatan," kata Menteri Luar Negeri Korut dalam pernyataannya yang diberitakan kantor berita KCNA.

AS dan Korsel memulai salah satu latihan militer gabungan terbesarnya pada Senin, dengan ratusan pesawat tempur dari kedua negara melakukan serangan tiruan 24 jam sehari.

Angkatan Udara AS mengatakan, operasi yang diberi nama Vigilant Storm itu akan berlangsung hingga Jumat (4/11) dan akan melibatkan sekitar 240 pesawat tempur yang melakukan sekitar 1.600 serangan mendadak.

Washington dan Seoul meyakini Pyongyang akan kembali melanjutkan uji coba bom nuklir untuk pertama kalinya sejak 2017 dan telah menerapkan strategi untuk "menghalangi" Pyongyang melalui latihan militer besar, yang menurut sejumlah pejabat dan mantan pejabat dapat memperburuk ketegangan.

kumparan post embed

Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri mengatakan Korut "siap mengambil langkah-langkah penting untuk mempertahankan kedaulatan, keamanan warga, dan integritas teritori dari ancaman militer luar".

"Jika AS terus bersikeras lewat provokasi militer, DPRK akan mengambil langkah lanjutan keras," kata mereka.

"Jika AS tidak ingin ada perkembangan serius yang tidak sesuai dengan kepentingan keamanannya, AS harus segera menghentikan latihan perang yang tidak berguna dan tidak efektif. Jika tidak, itu harus sepenuhnya disalahkan atas semua konsekuensinya," lanjut Korut.

Pada Jumat (28/10), pasukan militer Korsel menyelesaikan latihan lapangan Hoguk 22 selama 12 hari. Korut mengutuk latihan gabungan itu sebagai latihan invansi dan bukti kebijakan bermusuhan oleh Washington dan Seoul. Korut telah meluncurkan rudal, melakukan latihan udara, dan menembakkan artileri ke laut sebagai tanggapan atas latihan tersebut.

Langkah Korut itu mengabaikan permintaan AS untuk melanjutkan pembicaraan mengenai program nuklir dan misilnya, dan malah memulai serangkaian uji coba misil yang belum pernah terjadi sebelumnya tahun ini.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri AS Ned Price kembali meminta Korut agar kembali dalam pembahasan, sambil menambahkan kebijakan negaranya untuk denuklirisasi lengkap di Semenanjung Korea tidak berubah.