Korsel Dihantam Gelombang Panas, 16 Orang Tewas

Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung pada Selasa (4/8) meminta pemerintah meningkatkan dukungan bagi masyarakat yang terdampak gelombang panas ekstrem. Ia mengatakan jumlah korban jiwa akibat cuaca panas telah meningkat menjadi 16 orang.
Ia lalu memperingatkan bahwa cuaca ekstrem kini semakin sering terjadi.
Dalam rapat kabinet, Lee meminta para pejabat mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi kehidupan sehari-hari masyarakat.
Ia juga menginstruksikan pemeriksaan sistem kelistrikan di tengah lonjakan penggunaan pendingin ruangan akibat suhu yang terus meningkat.
"Kita perlu melakukan upaya untuk merombak secara mendasar sistem penanggulangan krisis nasional, karena cuaca ekstrem seperti ini kini menjadi hal yang normal," kata Lee dikutip dari Reuters.
Badan cuaca Korea Selatan melaporkan, Kota Yangsan di wilayah tenggara mencatat suhu mencapai 42,5 derajat Celsius pada Minggu (3/8). Angka tersebut menjadi suhu tertinggi yang pernah tercatat dalam 122 tahun pengamatan cuaca di negara itu.
Sementara itu, Administrasi Meteorologi Korea (KMA) untuk pertama kalinya mengeluarkan peringatan gelombang panas bagi sebagian wilayah Seoul dan Provinsi Gyeonggi pada Senin (3/8). Pada Selasa, peringatan tersebut diperluas hingga mencakup seluruh wilayah ibu kota.
Gelombang panas yang melanda Korea Selatan terjadi di tengah meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia.
Pemerintah kini berupaya memperkuat langkah mitigasi guna mengurangi dampak panas ekstrem terhadap keselamatan warga dan infrastruktur penting.
