Korsel Protes Rusia Usai Pasang Spanduk “Kemenangan” di Seoul

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang pria berjalan di depan kedutaan Rusia di Seoul yang dipasangi spanduk bertuliskan "Kemenangan akan menjadi milik kita" pada 23 Februari 2026. Foto: Jung Yeon-je / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Seorang pria berjalan di depan kedutaan Rusia di Seoul yang dipasangi spanduk bertuliskan "Kemenangan akan menjadi milik kita" pada 23 Februari 2026. Foto: Jung Yeon-je / AFP

Korea Selatan (Korsel) melayangkan protes kepada Rusia setelah kedutaannya di Seoul membentangkan spanduk raksasa bertuliskan “Kemenangan akan menjadi milik kita”, yang diduga merujuk pada peringatan perang Ukraina.

Seoul menentang invasi besar-besaran Moskow ke Ukraina serta perekrutan tentara dari Korea Utara, negara yang secara teknis masih berperang dengan Korea Selatan.

Spanduk berwarna merah, putih, dan biru yang ditulis dalam bahasa Rusia itu pertama kali terlihat pada akhir pekan dan masih terpasang di gedung kedutaan pada Senin (23/2) pagi, menurut laporan jurnalis AFP.

Kemunculan spanduk tersebut bertepatan dengan peringatan empat tahun perang Ukraina, yang jatuh pada Selasa (24/2).

“Pemerintah Korea Selatan secara konsisten mempertahankan posisi bahwa invasi Rusia ke Ukraina merupakan tindakan ilegal,” kata Kementerian Luar Negeri Korsel dalam pernyataan pada Minggu (22/2).

“Dalam konteks ini, kami telah menyampaikan posisi kami kepada pihak Rusia terkait pemasangan spanduk di dinding luar Kedutaan Besar Rusia di Seoul serta pernyataan publik yang disampaikan Duta Besar Rusia untuk Korea Selatan,” tambahnya.

Baik Kedutaan Rusia maupun Ukraina di Seoul belum segera menanggapi permintaan komentar media.

Sebuah spanduk bertuliskan "Kemenangan akan menjadi milik kita" dipajang di dinding luar kedutaan Rusia di Seoul pada 23 Februari 2026. Foto: Jung Yeon-je / AFP

Peristiwa ini terjadi setelah laporan mengenai pernyataan Duta Besar Rusia untuk Korsel, Georgy Zinoviev, pada awal Februari yang memuji tentara Korea Utara (Korut) yang bertempur untuk Rusia.

“Rusia sangat menyadari besarnya kontribusi pasukan Korea Utara dalam membebaskan bagian selatan wilayah Kursk dari pasukan Ukraina,” ujar Zinoviev dalam pertemuan dengan wartawan Korsel menurut surat kabar Chosun Ilbo, seperti dikutip AFP.

Korut telah mengirim ribuan tentaranya untuk bertempur demi Rusia, menurut badan intelijen Korea Selatan dan negara-negara Barat.

Seoul memperkirakan sekitar 2 ribu tentara telah tewas.

Para analis menyebut Korut menerima bantuan finansial, teknologi militer, serta pasokan pangan dan energi dari Rusia sebagai imbalan.

Seoul menyatakan pengerahan pasukan tersebut merupakan ancaman serius terhadap keamanan nasionalnya dan bahwa kerja sama militer antara Korea Utara dan Rusia harus dihentikan.

Korea Utara dan Korea Selatan secara teknis masih berperang karena Perang Korea 1950–1953 berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.