Korut Kritik Dukungan AS ke Taiwan, Tegaskan Kedekatan dengan China-Rusia

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden AS Donald Trump bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di zona demiliterisasi yang memisahkan kedua Korea, di Panmunjom, Korea Selatan, (30/6). Foto: AFP PHOTO/Brendan
zoom-in-whitePerbesar
Presiden AS Donald Trump bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di zona demiliterisasi yang memisahkan kedua Korea, di Panmunjom, Korea Selatan, (30/6). Foto: AFP PHOTO/Brendan

Korea Utara (Korut) mengkritik Amerika Serikat (AS) terkait penjualan senjata dan dukungan militer kepada Taiwan. Pyongyang menilai kebijakan Washington justru meningkatkan ketegangan di Selat Taiwan.

Kantor berita Korut KCNA mengutip analis urusan internasional Korea Utara, Kim Myong Chol, yang mengecam kemunculan jet tempur F-16 buatan AS di Taiwan pada Jumat (2/10).

Ia memperingatkan AS agar mempertimbangkan konsekuensi jika berhadapan langsung dengan China.

“AS seharusnya berpikir dua kali apakah mereka siap menghadapi kekuatan nasional Republik Rakyat China yang kuat demi keamanan Taiwan dan apakah mereka mampu menghadapi konsekuensinya,” demikian pernyataan tersebut, dikutip Reuters.

Pesawat tempur F-16V Block 70 yang baru dibeli mendarat di Pangkalan Udara Chihhang di Taitung, Taiwan, Jumat (2/10/2026). Foto: CHENG Yu-chen / AFP

Pernyataan ini muncul setelah Taiwan menerima dua unit pertama dari 66 jet tempur F-16V Block 70 yang dipesan pada 2019.

China mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, sementara Taiwan menolak klaim tersebut.

Tegaskan Dukungan untuk Rusia

Di sisi lain, Pemimpin Korut Kim Jong-un menegaskan dukungannya kepada Rusia dan perang yang dijalankan Moskow.

Dalam pesan ulang tahun kepada Presiden Rusia Vladimir Putin pada Rabu (7/10), Kim mengatakan Pyongyang akan terus menjalankan kerja sama dalam kemitraan strategis kedua negara.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un meresmikan Museum Peringatan Prestasi Tempur di Operasi Militer Luar Negeri untuk menghormati pasukan Korut yang gugur saat bertempur untuk Rusia di Pyongyang, Korea Utara, Minggu (26/4/2026). Foto: KCNA/via REUTERS

Kim juga menyebut perang Rusia sebagai “perang suci keadilan” untuk mempertahankan kedaulatan, kepentingan keamanan, dan integritas wilayah Rusia, serta meyakini perang tersebut akan berakhir dengan kemenangan.

Korea Utara dan Rusia semakin mempererat hubungan sejak menandatangani pakta pertahanan bersama pada Juni 2024.

Sejak 2024, Pyongyang juga diperkirakan telah mengirim sekitar 14.000–15.000 tentara untuk membantu Rusia dalam perang di Ukraina, berdasarkan perkiraan Ukraina dan Korea Selatan.