Kosovo Tuding Rusia Terlibat dalam Eskalasi Konflik Etnis dengan Serbia

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga Serbia Kosovo memblokir jalan dekat desa Rudine, Mitrovica Utara, Kosovo, Minggu (11/12/2022). Foto: Ognen Teofilovski/Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Warga Serbia Kosovo memblokir jalan dekat desa Rudine, Mitrovica Utara, Kosovo, Minggu (11/12/2022). Foto: Ognen Teofilovski/Reuters

Menteri Dalam Negeri Kosovo, Xhelal Svecla, menuduh Serbia berada di bawah pengaruh Rusia menciptakan eskalasi konflik yang terjadi di Kosovo utara. Di sisi lain, Rusia membantah tuduhan tersebut namun mendukung upaya Serbia untuk melindungi etnisnya di Kosovo utara.

Svecla menilai Rusia mendukung minoritas Serbia di Kosovo utara yang menjadi dalang pemblokiran jalan beberapa minggu terakhir. Etnis Serbia yang tinggal di Kota Mitrovica, Kosovo utara, mendirikan barikade baru pada Selasa (27/12) lalu.

Barikade ini berhasil memblokir jalan yang menghubungkan Kosovo dan Serbia tersebut. Pemblokiran jalan ini dilakukan sekitar 50.000 etnis Serbia di Kosovo utara sebagai bentuk perlawanan terhadap Pristina.

Mereka enggan mengakui pemerintahan Pristina dan menegaskan bahwa Beograd sebagai ibu kota negara. Alhasil, eskalasi konflik pun tidak dapat dihindari.

Konflik semakin diperparah dengan penempatan militer Serbia di daerah perbatasan. Serbia berdalih bahwa mereka hanya ingin melindungi minoritas Serbia di wilayah tersebut alih-alih mengintervensi Pristina.

Seorang anggota angkatan bersenjata Jerman yang merupakan bagian dari misi penjaga perdamaian NATO di Kosovo berjaga di dekat blokade yang dibuat oleh warga Serbia di Rudare, Kosovo. Foto: Florion Goga/REUTERS

Upaya menempatkan militer ke wilayah perbatasan dilakukan karena Serbia percaya Kosovo tengah bersiap menyerang negaranya dan berupaya dengan paksa menghancurkan barikade.

"Justru Serbia, dipengaruhi oleh Rusia, yang telah meningkatkan kesiapan militer dan memerintahkan pembangunan barikade baru, untuk membenarkan dan melindungi kelompok kriminal yang melakukan teror," kata Svecla dalam sebuah pernyataan.

Tidak hanya Svecla, mantan Menteri Luar Negeri Kosovo Meliza Hardinaj juga menilai konflik ini bukan dilandasi oleh pemenuhan hak yang kurang kepada etnis Serbia.

Namun, perintah langsung Serbia bekerja sama dengan Rusia untuk memicu konflik di Kosovo utara. Akademisi di Pusat Kajian Keamanan Kosovo, Skender Perteshi, menuduh Serbia dan Rusia dengan sengaja mengganggu kawasan itu.

Anggota Angkatan Bersenjata Polandia, bagian dari misi penjaga perdamaian NATO di Kosovo, berada di dalam kendaraan di dekat barikade di bagian utara kota Mitrovica, Kosovo, yang terbagi secara etnis, Minggu (11/12/2022). Foto: Florion Goga/Reuters

"Gagasan Serbia dan Rusia bersama-sama adalah untuk mencoba membuat konflik dan krisis di mana pun di mana Barat memiliki peran dan untuk meningkatkan ketidakstabilan semacam ini di kawasan untuk meningkatkan pengaruh Rusia dan Serbia di kawasan tersebut," kata Perteshi.

Walaupun memiliki kapasitas untuk membongkar barikade, Kosovo memutuskan untuk menunggu kebijakan pasukan perdamaian NATO, Angkatan Bersenjata Kosovo (Kosovo Force/KFOR), lebih lanjut terkait barikade tersebut.

Respons Rusia

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov membantah tuduhan Svecla yang menuding adanya keterlibatan Rusia dalam konflik Kosovo-Serbia. Menurutnya, Serbia merupakan negara yang berdaulat sehingga Rusia tidak memiliki andil untuk mempengaruhinya.

"Serbia adalah negara berdaulat dan sangat salah mencari pengaruh destruktif Rusia di sini," kata Peskov dikutip oleh Reuters.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov. Foto: Alexander Zemlianichenko/POOL/AFP

"Serbia adalah negara berdaulat, dan tentu saja melindungi hak-hak orang Serbia yang tinggal di dekatnya dalam kondisi sulit seperti itu, dan secara alami bereaksi keras ketika hak-hak ini dilanggar," tambahnya.

Kendati demikian, Peskov menjelaskan bahwa Kremlin akan mendukung Beograd melihat hubungan sejarah dan spiritual dengan Serbia.

Bantahan serupa disampaikan oleh Presiden Serbia Aleksandar Vucic yang menegaskan bahwa Serbia akan terus mengedepankan perdamaian.

Seorang anggota angkatan bersenjata Jerman yang merupakan bagian dari misi penjaga perdamaian NATO di Kosovo berjaga di dekat blokade yang dibuat oleh warga Serbia di Rudare, Kosovo. Foto: Florion Goga/REUTERS

"Memiliki hubungan sekutu yang sangat dekat, hubungan sejarah dan spiritual dengan Serbia, Rusia memantau dengan cermat apa yang terjadi, bagaimana hak-hak orang Serbia dihormati dan dijamin," kata Peskov.

"Dan, tentu saja, kami mendukung Beograd dalam tindakan yang diambil," pungkasnya.

Kosovo yang mayoritas dihuni etnis Albania mendeklarasikan kemerdekaan dari Serbia pada 2008 lalu dengan bantuan negara Barat. Saat itu, NATO ikut campur tangan dalam melindungi etnis Albania.

Hingga saat ini, masih banyak negara yang enggan mengakui kedaulatan Kosovo. Rusia dan Serbia bahkan memboikot keanggotaan Kosovo di PBB.

Penulis: Thalitha Yuristiana.