KPAI Awasi Persiapan Pembukaan Sekolah di Bogor, Bandung, hingga Mataram

kumparanNEWSverified-green

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
KPAI Pengawasan Langsung Ke Sejumlah Sekolah Di Berbagai Daerah  Foto: KPAI
zoom-in-whitePerbesar
KPAI Pengawasan Langsung Ke Sejumlah Sekolah Di Berbagai Daerah Foto: KPAI

Kemendikbud telah mengizinkan sekolah-sekolah di zona kuning dan hijau penyebaran corona untuk dibuka kembali. Untuk memastikan keamanan dan kesehatan siswa, guru, dan tenaga pendidik, maka Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melakukan pengawasan persiapan pembukaan sekolah.

Komisioner KPAI Retno Listyarti menjelaskan, pengawasan dilakukan untuk memastikan sekolah-sekolah di zona kuning mempersiapkan protokol kesehatan sebaik mungkin.

"Persiapan sekolah yang tidak maksimal memenuhi kriteria pencegahan penularan penyakit dalam protokoler kesehatan COVID-19 akan berpotensi membahayakan anak. Melindungi anak bukan dengan zona, tapi dengan persiapan pencegahan bahaya penularan yang ketat," kata Retno dalam keterangannya, Selasa (11/8).

KPAI Pengawasan Langsung Ke Sejumlah Sekolah Di Berbagai Daerah Foto: KPAI

KPAI melakukan pengawasan langsung ke beberapa SD, SMP, SMA/SMK di berbagai wilayah di Bogor, Bekasi, Depok, Bandung, Subang, Tangerang, Tangerang Selatan, dan DKI Jakarta. Bahkan, pengawasan virtual juga dilakukan di beberapa sekolah di Kota Mataram (NTB) dan Seluma (Bengkulu).

Pada Senin (10/8) kemarin, KPAI menyambangi SMPN 1 dan SMAN 1 Kota Subang. Dan rencananya, Rabu (12/8) esok akan mendatangi dua sekolah di Kota Bogor, lalu dilanjutkan pengawasan ke dua sekolah di Kota Bekasi pada sehari setelahnya. Termasuk beraudiensi dengan pimpinan daerah masing-masing.

Menurut Retno, pengambilan keputusan apakah sekolah sudah bisa dibuka atau belum sangat tergantung pada terpenuhinya kriteria persiapan, yang bertujuan melindungi anak secara sehat, sabar, dan cerdas.

"Kepercayaan dan keberanian publik Tanah Air, khususnya orang tua, melepas anak kembali belajar tatap muka di sekolah sangat tergantung dari persiapan konsep regulasi dan praktik nyata. Melakukan persiapan dalam ruang lingkup sistem pencegahan bahaya COVID-19 di sekolah, seperti menyediakan infrastruktur kenormalan baru di pendidikan," tuturnya.

KPAI Pengawasan Langsung Ke Sejumlah Sekolah Di Berbagai Daerah Foto: KPAI

Selain itu, KPAI juga mengecek persiapan daftar periksa buka sekolah lewat aplikasi. Namun, seluruh persiapan ini butuh kerja sama dari semua stakeholder, sehingga tercipta kedisiplinan dalam menjalankan protokol kesehatan.

Dari hasil sementara pengawasan KPAI, baru ada 1 sekolah dari 21 sekolah yang telah memenuhi kesiapan infrastruktur dan SOP bagi guru dan murid-muridnya. Bahkan, masih banyak sekolah yang belum membentuk tim Gugus Tugas COVID-19 sendiri.

“Mayoritas sekolah masih bingung mempersiapkan apa saja untuk menuju kenormalan baru, mereka butuh bimbingan dan pengawasan,” ujar dia.

Kasus-kasus Corona di Sekolah

Seorang murid yang mengenakan pelindung wajah san masker saat mengikuti kelas tatap muka di sebuah taman kanak-kanak di Semarang, Jawa Tengah. Foto: Stringer/REUTERS

Selain itu, KPAI sebelumnya mengungkapkan kekecewaan karena pembukaan sekolah secara tatap muka ini belum disertai evaluasi SKB 4 Menteri yang dikeluarkan 15 Juni lalu.

"Perluasan buka sekolah di zona kuning sangat disayangkan, karena kasus COVID-19 masih begitu tinggi di Indonesia. Kasus COVID-19 juga terjadi di berbagai sekolah dan pondok pesantren yang membuka sekolah," ungkap Retno.

Dalam catatan KPAI, setidaknya ada 3 sekolah dan 5 pondok pesantren yang terdapat kasus infeksi COVID-19. Sekolah dan ponpes ini antara lain:

  1. 51 santri positif COVID-19 di Ponpes Gontor 2 Ponorogo, Jawa Timur

  2. 5 guru Ponpes di Karawaci, Kota Tangerang, Banten

  3. 35 santri Ponpes Sempon, Wonogiri, Jawa Tengah

  4. 35 santri Ponpes di kecamatan Margoyoso, Pati, Jawa Tengah

  5. 38 pembina dan 1 santri di Ponpes Parbek, Agam, Sumatera Barat

  6. 1 guru dan 1 operator sekolah di Pariaman terinfeksi COVID-19. Sekolah dibuka 13 Juli 2020 dan ditutup kembali 20 Juli 2020

  7. 1 siswa di Tegal terinfeksi COVID-19 dari tamu yang menginap di rumahnya. Siswa tersebut sempat belajar tatap muka di kelasnya, di saat Tegal termasuk zona hijau saat itu

  8. 1 guru SD di Lumajang yang sempat melakukan aktivitas guru sambang (kunjung) sejak 28 Juli, ternyata terinfeksi COVID-19

Santri Pondok Pesantren Gontor asal Kalbar menjalani rapid test di aula Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar di Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (17/6). Foto: Jessica Helena Wuysang/ANTARA FOTO

Selain itu, terdapat kasus corona baru dari klaster sekolah yang terjadi di Kalimantan Barat. Dalam pemeriksaan rapid test sebelum dimulainya pembukaan sekolah tatap muka, ada 8 guru dan 14 pelajar di Kalbar yang reaktif.

“Pembukaan sekolah diberbagai sekolah di zona hijau sebelumnya, tidak didahului dengan pemeriksaan rapid tes terhadap seluruh guru dan sampel siswa. Padahal pengetesan ini penting sebagai upaya pencegahan,” jelas Retno.

Dengan munculnya kasus-kasus virus corona dari klaster sekolah ini dinilai Retno menunjukkan pembukaan sekolah tanpa persiapan jelas sangat berisiko bagi kesehatan.

embed from external kumparan

“KPAI mendorong penyiapan tidak hanya urusan infrastruktur seperti wastafel, sabun, disinfektan dan lain-lain. Namun, juga perlu menyiapkan kenormalan baru saat pembelajaran tatap muka akan dilakukan,” ucap Retno.

Lalu juga masih ada sekolah di zona hijau yang telah membuka sekolahnya, namun belum mengisi daftar periksa dalam aplikasi Kemendikbud. Daftar itu berisi 11 pertanyaan tentang persiapan-persiapan pembukaan sekolah.

“Padahal daftar periksa hanya 11 pertanyaan dan hanya check list, mengisi tersedia atau tidak tersedia (fasilitas). Tanpa diminta data rinci, seperti misalnya jumlah wastafel dengan rasio jumlah siswa, keadaan wastafel yang ada seperti apa, dan seterusnya,” pungkasnya.

=====

Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona