KPAI Desak Keluarga Berperan Aktif Atasi Tradisi Duel Siswa di Bogor

3 September 2019 7:16 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi perkelahian pelajar. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perkelahian pelajar. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
ADVERTISEMENT
Kasus duel antarpelajar hingga memakan korban jiwa kembali terjadi di Bogor. Kebiasaan buruk ini seakan menjadi sebuah tradisi yang tak pernah selesai.
ADVERTISEMENT
Baru-baru ini, terjadi duel antarpelajar SMK di wilayah Gunung Putri, Kabupaten Bogor, 22 Agustus lalu. Akibat duel ini, satu pelajar berinisial A (17) tewas terkena bacok.
Merespons kejadian ini, KPAI tak menampik masalah duel di Bogor menjadi sebuah tradisi. KPAI mendesak keluarga berperan aktif dalam mengembangkan pendidikan karakter pelajar untuk mencegah tradisi duel.
"Kalau bicara pendidikan karakter bukan hanya di sekolah, tapi memiliki karakter seperti apa dimulai dari keluarga, pendidikan karakter pertama dan utama. Ini yang perlu didesak," jelas Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti, saat dihubungi, Senin (2/9) malam.
Komisioner bidang pendidikan Retno Listyarti saat konferensi pers tentang KPAI di awal 2019 mencatat banyaknya kasus-kasus anak di bidang pendidikan, Jakarta, Jumat (15/2/2019). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Menurut Retno, apabila pelajar memiliki karakter yang terbentuk secara baik di lingkungan keluarga, maka karakter tersebut dapat dikembangkan secara mudah di sekolah.
ADVERTISEMENT
"Terus kalau si anak punya kesibukan sendiri fokus pada prestasi, minatnya, hobinya sesuai karakternya yang terbentuk dari rumah. Misal suka futsal didalami (di sekolah), jadi enggak ada kesempatan tawuran," ungkapnya.

Pendekatan hukum belum mampu atasi duel antarpelajar

Ilustrasi perkelahian pelajar. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Selain itu, Retno mengatakan, penyelesaian kasus duel antarpelajar tak cukup hanya dengan pendekatan hukum, namun juga proses rehabilitas. Retno mengatakan, perlu adanya kerja sama semua pihak dalam mengatasi kasus ini.
"Selama ini pendekatannya kan hukum selalu diselesaikan di kepolisian karena sampai ada korban jiwa, tapi ya hukum juga enggak menghentikan tawuran (duel), gladiator berhenti," terangnya.
"Bogor ini kan tinggi sekali (kasus duel antarpelajar) dalam setahun bisa terjadi banyak. Mungkin penyelesaiannya tidak hanya secara hukum, tetapi juga rehabilitasi yang dilakukan dan tak hanya bekerja sendiri juga," imbuhnya.
Ilustrasi perkelahian pelajar. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Terkait kasus yang sedang terjadi, Retno mengaku pihaknya sedang mengikuti perkembangan dari pihak kepolisian. Menurutnya, dalam waktu dekat KPAI akan turun ke lapangan.
ADVERTISEMENT
"Kita KPAI belum mengambil sikap, menentukan siapa yang turun ke lapangan pengawasan. Kalau berkoordinasi dengan polisi sih biasa sudah dilakukan by phone. Kita masih mengikuti. Besok coba kita update," pungkasnya.
Barang bukti kasus pembunuhan siswa SMK di Polres Bogor. Foto: Ferry Fadhlurrahman/kumparan
Polres Bogor sudah menetapkan dua orang sebagai tersangka, yakni J (17) yang merupakan lawan duel korban dan AM (17) yang menginisiasi duel itu.
“Korban didampingi oleh 2 orang temannya. Tersangka didampingi oleh 4 orang temannya dan perkelahian tersebut korban akhirnya meninggal, karena kena bacokan celurit,” ujar Kapolres Bogor AKBP AM Dicky.
Korban dan tersangka merupakan pelajar SMK yang berbeda. Kedua SMK itu diduga sering melakukan aksi tawuran.