KPAI Ungkap Pemicu Anak Akhiri Hidup: Bullying di Sekolah

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Komisioner KPAI Dr. Diyah Puspitarini. Foto: Dok KPAI
zoom-in-whitePerbesar
Komisioner KPAI Dr. Diyah Puspitarini. Foto: Dok KPAI

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Diyah Puspitarini menyoroti bullying sebagai salah satu penyebab utama anak bunuh diri di Indonesia.

Hal ini disampaikannya menyusul kasus bunuh diri siswa di Sukabumi, Jawa Barat; dan dua siswa di Sawahlunto, Sumatera Barat.

Diyah mengatakan dari hasil pemantauan lembaganya, sebagian besar anak yang mengakhiri hidupnya tahun ini didorong oleh perundungan, termasuk di lingkungan sekolah.

“Sebagian data yang kami himpun penyebab anak mengakhiri hidup adalah karena bullying,” ujar Diyah saat dihubungi kumparan, Kamis (30/10).

“Kami sangat prihatin sekali jika terjadi lagi anak mengakhiri hidup disebabkan oleh bullying, dan sebagian terjadi di sekolah,” lanjutnya.

Diyah menjelaskan, hingga 12 Oktober 2025, KPAI mencatat 22 kasus bunuh diri anak di Indonesia, namun jumlah itu meningkat menjadi 25 kasus setelah insiden di Sukabumi dan Sawahlunto.

Ilustrasi memutus mata rantai bunuh diri. Foto: Shutterstock

“Jujur saya kaget yang di Sawahlunto, data laporan yang kami hitung ada 22 kasus bunuh diri anak sepanjang 2025 sampai tanggal 12 Oktober, jadi ini terlewat. Jika ditambah ini, jadi 25 anak,” kata Diyah.

KPAI mencatat, meskipun jumlahnya menurun dibanding tahun sebelumnya, sebanyak 46 kasus pada 2023 dan 43 kasus pada 2024, angka tersebut tetap menjadi peringatan serius terhadap situasi kesehatan mental anak di Indonesia.

Kasus Bunuh Diri Siswi di Sukabumi

Ajeng (14 tahun), siswi MTs Negeri (setara SMP) di Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, ditemukan tewas dalam kondisi leher tergantung menggunakan sarung, di rumahnya, pada Selasa (28/10).

Bersamaan dengan itu, ditemukan juga wasiat berbahasa Sunda yang ditulis tangan Ajeng, di sebuah buku tulis.

Pertama-tama, Ajeng menuliskan bahwa ia meminta maaf ibu dan bapaknya, kemudian ke guru-gurunya.

Sedangkan untuk teman-temannya, Ajeng hanya bisa bilang maaf ke empat teman yang tidak pernah menyakitinya.

Lalu Ajeng mulai menyinggung soal teman-temannya yang membuatnya bunuh diri. Dalam wasiat tersebut, Ajeng menyatakan bahwa ia sudah berusaha memaafkan, tapi teman-temannya sering bikin sakit hati, entah dari perkataan atau perilaku.

“Seperti kejadian tadi, bilang ‘Mati saja kamu’,” demikian tercantum dalam surat wasiat berbahasa Sunda itu.

Dua Siswa SMP di Sawahlunto Bunuh Diri pada Oktober Ini

Kepala Dinas Pendidikan Kota Sawahlunto, Asril, mengatakan telah ada dua kasus pelajar SMP bunuh diri di sekolah pada Oktober 2025.

Peristiwa pertama terjadi pada 6 Oktober 2025. Korban adalah siswa kelas IX SMPN 2 Kota Sawahlunto berinisial ANJ (15 tahun).

“Yang pertama ini kejadiannya malam hari pukul 21.00 WIB di ruangan OSIS sekolah. Ruangan ini terkunci, anak ini masuk dari belakang,” kata Asril, Rabu (29/10).

Peristiwa kedua terjadi pada Selasa, 28 Oktober 2025. Korban adalah siswa kelas IX SMPN 7 Kota Sawahlunto berinisial BE (15 tahun). BE diduga bunuh diri di ruangan kelasnya dengan kondisi leher terikat dasi di jendela.

Kasus di dua kota ini menambah panjang daftar anak yang mengakhiri hidupnya di Indonesia, sebagian besar karena tekanan psikologis dan dugaan perundungan di sekolah.