KRI Nanggala-402 dan Kisah Latihan Penyelamatan Kapal Selam 2018

Risiko pekerjaan TNI adalah menghadapi bahaya setiap hari. Begitu kata Menhan Prabowo Subianto saat mengadakan jumpa pers bersama jajaran TNI pada Kamis (22/4) atas musibah yang menimpa kapal selam KRI Nanggala-402 di laut Bali.
“Kemungkinan menghadapi kecelakaan di darat, laut, dan udara, itu adalah way of life dari tentara,” tandas mantan Danjen Kopassus ini.
“Jangankan latihan perang, latihan biasa, patroli biasa saja, sudah mengandung bahaya,” imbuh Prabowo dari balik masker medisnya.
Bicara latihan, KRI Nanggala-402 mengalami kecelakaan saat mengikuti latihan penembakan torpedo.
Sesaat setelah KRI menyelam di laut Bali pada Rabu (21/4) pukul 03.00 WIB dan hendak mendapat otorisasi untuk menembakkan senjatanya, kapal selam berusia 44 tahun itu tidak bisa dikontak.
Prosedur terhadap kapal selam yang mengalami kedaruratan pun dilakukan. Prosedur itu dengan menetapkan status kapal selam mulai dari SUBLOOK (mencari), ditingkatkan kapal selam hilang atau SUBMISS dan terakhir kapal selam dinyatakan SUBSUNK alias tenggelam. SUB kependekan dari submarine atau kapal selam.
Kisah Latihan 2018: KRI Nanggala di Kedalaman 42 Meter
Sebagai pemilik kapal selam, TNI AL tentu secara rutin mengadakan latihan penyelamatan kapal selam, misalnya yang dilakukan 28 Agustus 2018. Latihan itu melibatkan KRI Nanggala-402, bertempat di perairan Situbondo, Jawa Timur.
Dikutip dari akun Satuan Kapal Selam Hiu Kencana -- korps kapal selam TNI AL -- dalam latihan itu diskenariokan kapal selam KRI Nanggala-402 mengalami kedaruratan atau DISSUB (Distressed Submarine).
Akibatnya, KRI Nanggala tidak dapat timbul ke permukaan sehingga duduk di dasar laut dan menantikan pertolongan.
Upaya pencarian KRI-Nanggala pun dilakukan. KRI Spica-934 yang dikomandani oleh Letkol Laut (P) Hengky Iriawan diterjunkan.
KRI Spica dengan menggunakan alat deteksi High Precisision Acoustic Positioning (HIPAP 501) dengan dibantu Under Water Telephone (UWT) KRI SIM 367, berusaha mencari posisi KRI Nanggala-402 yang berada di dasar laut.
KRI Spica sekaligus menjalin komunikasi dalam serial latihan komunikasi (Comex).
Setelah beberapa saat, KRI Spica-934 bergerak untuk melokalisasi area dengan menggunakan MultiBeam Echosounder EM 2040.
Teknik yang digunakan yaitu melaksanakan penyapuan dengan menyalakan Water Column (WCL) dan menggunakan frekuensi tinggi serta lebar sapuan yang terbaik.
Dari hasil pelaksanaan tersebut didapatkan posisi KRI Nanggala-402 yang sedang duduk di dasar laut pada kedalaman 42 meter.
Dalam berita itu disertakan juga citra sosok KRI Nanggala hasil tangkapan KRI Spica.
Sekarang KRI Nanggala Diduga di Kedalaman 850 Meter
Sekarang, akibat musibah yang terjadi pada Rabu, 21 April 2021, KRI Nanggala diduga berada di posisi yang lebih dalam, tidak lagi 42 meter seperti saat latihan dulu.
“Kedalaman laut yang kita deteksi tadi adalah pada kedalaman 850 (meter),” ujar Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono dalam jumpa pers di Bali, Sabtu (24/4/2021).
Yudo mengakui pendeteksian pada kedalaman 850 meter ini cukup riskan dan memiliki kesulitan cukup tinggi. Namun, itu tak berarti operasi pencarian dihentikan.
Pencarian terus dilakukan dengan menggandeng militer negara sahabat untuk mendeteksi posisi tepat KRI Nanggala bersama 53 krunya.
Kapal negara lain yang terlibat antara lain MV Swift Rescue Singapura yang bisa mendeteksi sonar hingga 900-1.000 meter dan Kapal HMS Ballarat milik Australia yang bisa mendeteksi sonar di bawah air.
"Jadi tinggal menentukan apakah itu KRI Nanggala-402 atau tidak," kata KSAL.
Seiring pencarian tiada henti itu, slogan Korps Hiu Kencana menggema di media sosial: Wira Ananta Rudira, Tabah Sampai Akhir.
