Krisis Murid, SD Negeri di Kudus Hanya Punya 2 Siswa Baru Tahun Ini

SD Negeri 3 Mlati Lor, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, hanya mendapat dua siswa baru pada tahun ajaran 2026/2027. Meski jumlah peserta didik baru sangat minim, sekolah tetap menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) seperti biasa.
Dua siswa baru tersebut adalah Excellino Deka Pratama dan Alea Draganova. Selama MPLS, keduanya mengikuti pengenalan lingkungan sekolah, fasilitas, hingga kegiatan belajar di dalam kelas.
Di ruang kelas 1, kedua siswa tampak menyimak penjelasan guru dan sesekali bertanya ketika ada materi yang belum dipahami.
Kepala SD Negeri 3 Mlati Lor, Murih Widyastuti, mengatakan kondisi minimnya siswa baru bukan terjadi kali ini saja. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah peserta didik baru di sekolah tersebut tidak pernah mencapai 10 orang.
"Tahun lalu hanya dapat tujuh siswa. Kemudian tahun ini dua siswa saja," kata Murih saat ditemui kumparan, Rabu (15/7).
Saat ini total siswa di SD Negeri 3 Mlati Lor berjumlah 36 orang yang tersebar di enam tingkat kelas. Jumlah tersebut menurun dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 46 siswa.
Penyebab Minim Murid
Murih menilai salah satu penyebab minimnya pendaftar adalah lokasi sekolah yang berdekatan dengan beberapa SD negeri lain, yakni SD 1 Mlati Lor dan SD 2 Mlati Lor.
Selain itu, selama beberapa tahun terakhir pihak sekolah juga tidak aktif melakukan promosi karena sempat beredar rencana regrouping atau penggabungan sekolah.
"Beberapa tahun ini kami memang tidak melakukan promosi karena sempat ada kabar regrouping sekolah. Kekhawatiran kami nanti kalau promosi ternyata ada regrouping sekolah, kasihan anak-anak," ujarnya.
Menurut Murih, perubahan preferensi orang tua juga ikut memengaruhi jumlah pendaftar. Banyak orang tua kini memilih menyekolahkan anaknya ke Madrasah Ibtidaiyah (MI) karena mendapatkan tambahan pelajaran agama.
Meski hanya memiliki dua siswa baru, pihak sekolah memastikan proses MPLS tetap berlangsung selama lima hari, mulai 13 hingga 17 Juli 2026.
"Meskipun hanya dua siswa, MPLS tetap kami laksanakan. Seperti pengenalan fasilitas sekolah dan hal lainnya," katanya.
Tetap Semangat Sekolah
Setelah MPLS selesai, kedua siswa tersebut juga tetap akan belajar di kelas 1 tanpa digabung dengan jenjang kelas lain.
Murih memastikan keduanya tetap antusias mengikuti kegiatan sekolah.
"Walaupun hanya ada dua siswa, mereka tetap enjoy mengikuti MPLS. Kondisi keduanya juga baik-baik saja," ujarnya.
Ke depan, sekolah berencana lebih aktif melakukan promosi karena hingga kini belum ada kepastian mengenai rencana regrouping.
Minat pada MI Meningkat
Sementara Kepala Seksi Kurikulum Disdikpora Kudus, Maulana Majid, mengatakan minimnya jumlah siswa baru di SD Negeri 3 Mlati Lor dipengaruhi banyaknya sekolah negeri maupun swasta yang berada di sekitar lokasi.
Selain itu, menurutnya, minat masyarakat terhadap Madrasah Ibtidaiyah โ sekolah di bawah Kemenag โ juga terus meningkat.
"Bahkan Madrasah Ibtidaiyah sering kali menolak murid baru karena peminatnya sangat banyak," kata Majid.
Ia menambahkan, jumlah anak usia sekolah di wilayah tersebut yang semakin sedikit juga menjadi faktor lain penyebab rendahnya penerimaan siswa baru.
13 SD Krisis Murid
Disdikpora Kudus mencatat kondisi serupa tidak hanya terjadi di SD Negeri 3 Mlati Lor. Hingga 14 Juli 2026, sedikitnya 13 sekolah dasar di berbagai kecamatan di Kabupaten Kudus hanya menerima dua hingga lima siswa baru, di antaranya SD 2 Rahtawu (2 siswa), SD 4 Getassrabi (3 siswa), SD 5 Jurang (4 siswa), SD 3 Jojo (4 siswa), hingga SD 1 Jati Wetan (5 siswa).
Meski demikian, Dinas Pendidikan menyatakan belum memutuskan untuk melakukan regrouping terhadap sekolah-sekolah tersebut dan masih akan mengkaji berbagai pertimbangan sebelum mengambil kebijakan.
