Kritik di Balik Pertukaran Tahanan Pebasket AS dengan Penjual Senjata asal Rusia
·waktu baca 5 menit

Atlet basket wanita asal Amerika Serikat, Brittney Griner, telah dibebaskan dari penjara Rusia dalam pertukaran tahanan yang disepakati kedua negara.
Pembebasan Griner ditukar dengan mantan penjual senjata dan buronan internasional asal Rusia, Viktor Bout.
Baik Griner dan Bout sudah dipulangkan ke negara masing-masing pada Kamis (8/12). Hal ini disampaikan langsung oleh Presiden Joe Biden, yang mengatakan bahwa pembebasan Griner merupakan hasil jerih payah negosiasi dan proses panjang, diperumit dengan konflik yang masih berlangsung di Ukraina.
“Dia aman, dia berada di pesawat, dia dalam perjalanan pulang setelah berbulan-bulan ditahan secara tidak adil di Rusia, ditahan dalam keadaan yang tidak dapat ditoleransi,” kata Biden, seperti dikutip dari Reuters.
“Ini adalah hari yang telah kami upayakan sejak lama. Kami tidak pernah berhenti mendorong pembebasannya,” imbuhnya.
Alasan Griner Dipenjara
Sebelumnya, Griner (32) yang merupakan pebasket populer dari tim Phoenix Mercury di bawah naungan Asosiasi Bola Basket Nasional Wanita itu ditangkap oleh otoritas Rusia pada 17 Februari lalu ketika baru tiba di bandara Moskow.
Tujuan Griner datang ke Rusia adalah untuk bertanding dengan tim basket UMMC di Kota Yekaterinburg. Dengan cara ini, Griner semula ingin mencari penghasilan tambahan.
Penangkapan Griner terjadi hanya beberapa hari sebelum Presiden Vladimir Putin mengerahkan pasukannya ke Ukraina — sekaligus menandai kembali memburuknya hubungan antara Washington dan Moskow.
Griner dilaporkan membawa cartridge vape berisi minyak ganja yang ia letakkan di dalam kopernya. Nahas bagi Griner, penggunaan zat narkotika itu masih dilarang di Rusia dan terancam pidana penjara hingga sembilan tahun.
Alhasil, atlet peraih dua medali emas Olimpiade itu dijatuhi hukuman penjara oleh pengadilan Moskow pada 4 Agustus atas tuduhan kepemilikan zat terlarang dan penyelundupan narkoba.
Griner kemudian ditahan di sebuah penjara di wilayah Mordovia yang terletak sekitar 514 km dari ibu kota Moskow.
Viktor Bout dan Kasus Kriminalnya
Di saat bersamaan ketika Griner dalam penerbangan menuju Texas, Bout telah mendarat di ibu kota Moskow.
Kedatangan Bout disiarkan di televisi, yang mana terlihat ia membawa sebuah buket bunga besar sambil menuruni tangga pesawat, langsung memeluk ibu dan istrinya yang sudah menunggu di landasan pacu.
Viktor Bout (55) adalah warga Rusia yang tersohor akan keahliannya dalam penyelundupan dan penjualan senjata.
Memiliki kemampuan berbicara dalam lima bahasa, Bout telah menjual persenjataan ke kelompok pemberontak, panglima perang, dan negara berkonflik di berbagai belahan dunia.
Melansir dari New York Times, Bout bahkan dituding memasok senjata kepada kelompok teroris Al Qaeda, Taliban, serta pemberontak di Rwanda.
Bout sangat terkenal, hingga ia dijuluki ‘pedagang kematian’ dan ‘pengacau sanksi’ atas kemampuannya menyiasati embargo senjata.
Namun, karier kriminal Bout terhenti ketika ditangkap di Thailand di tahun 2008 oleh agen AS yang saat itu memburu dirinya. Ia kemudian dijatuhi hukuman pidana 25 tahun penjara oleh pengadilan pada 2012 atas tuduhan penjualan dan penyelundupan senjata.
Bout mengaku tidak tahu-menahu terkait kabar pertukaran tahanan itu dan bahwa ia akan segera menghirup napas segar. “Di tengah malam mereka hanya membangunkan saya dan berkata ‘kumpulkan barang-barang anda’ dan hanya itu,” kata Bout kepada media lokal.
“Saya berhasil. Itu yang utama,” imbuhnya.
Mantan Marinir AS Masih Ditahan di Rusia
Sementara orang terdekat Griner dan Bout merayakan pembebasan mereka, seorang warga AS lainnya yang ditahan di Rusia, Paul Whelan, masih harus mendekam di balik jeruji.
Whelan adalah mantan marinir AS yang ditangkap otoritas Rusia pada 2018 dan dituding sebagai mata-mata. Sayangnya, ia tidak terlibat dalam pertukaran tahanan yang berlangsung pada pekan ini.
Merespons hal itu, ia mengaku sangat kecewa. “Saya tidak mengerti mengapa saya masih duduk di sini,” kata Whelan, berbicara melalui telepon di penjara di mana saat ini ia berada.
“Saya sangat kecewa karena tidak ada lagi yang dilakukan untuk mengamankan pembebasan saya, terutama karena peringatan empat tahun penangkapan saya akan segera tiba. Saya ditangkap karena kejahatan yang tidak pernah terjadi,” ungkap Whelan.
Di sisi lain, Presiden Joe Biden mengatakan pihaknya telah melakukan upaya negosiasi untuk turut membebaskan Whelan. Namun, ia mengaku perlakuan otoritas Rusia kepada Whelan berbeda dengan yang dilakukan terhadap Griner.
“Sayangnya, untuk alasan yang sama sekali tidak sah, Rusia memperlakukan kasus Paul berbeda dari kasus Brittney,” tutur Biden.
Biden pun berjanji untuk memperjuangkan kebebasan Whelan dan mengatakan perjuangan itu akan terus berlanjut.
“Dan sementara kami belum berhasil mengamankan pembebasan Paul, kami tidak menyerah. Kami tidak akan pernah menyerah,” tegas dia.
Dikritik oleh Oposisi
Meski berhasil membebaskan Griner, pertukaran dirinya dengan seorang buronan internasional penjual senjata telah mengundang kritik pedas dari oposisi di AS, dalam hal ini Partai Republik.
Pemimpin Partai Republik, eks presiden Donald Trump, dalam postingannya di media sosial tidak segan-segan mengejek keputusan pemerintah AS saat ini yang dikuasai Partai Demokrat.
Trump mencemooh langkah untuk menukar seorang pemain basket dengan pria yang bertanggung jawab atas puluhan ribu kematian di berbagai negara — tanpa menyertakan pembebasan Whelan yang merupakan seorang patriot di AS.
“Sungguh memalukan, 'bodoh', dan tidak patriotik bagi AS!!!” seru Trump.
Kritik serupa juga dilontarkan oleh pemimpin Partai Republik di DPR AS, Kevin McCarthy. “Ini adalah hadiah untuk Vladimir Putin, dan membahayakan nyawa orang Amerika,” ujarnya.
Merespons kritik itu, Biden menjawabnya dengan tenang. “Adalah tugas saya sebagai presiden Amerika Serikat untuk membuat keputusan yang sulit dan melindungi warga Amerika di mana pun di dunia,” kata pria berusia 80 tahun itu.
Menimpali pernyataan Biden, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken juga menyatakan argumen yang sama. “Ini bukan pilihan orang Amerika mana yang harus dibawa pulang,” ucap Blinken.
“Pilihannya adalah satu atau tidak sama sekali,” jelas dia.
