Kronologi Dokter Internship di Jambi Sakit hingga Meninggal Dunia

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
dr. Myta Aprilia Azmi. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
dr. Myta Aprilia Azmi. Foto: Dok. Istimewa

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membeberkan kronologi lengkap meninggalnya dr Myta Aprilia Azmy, dokter internship di RSUD Kuala Tungkal, Jambi.

Kemenkes menyebut dr Myta meninggal dunia dengan kondisi penyakit paru berat setelah sempat menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan.

Kronologi itu disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Inspektur Jenderal Kemenkes, Rudi Supriatna Nata Saputra, dalam konferensi pers hasil investigasi terkait kematian dokter internship tersebut, di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Kamis (7/5).

Rudi menjelaskan, kondisi kesehatan dr Myta sebenarnya dalam keadaan normal saat pertama kali mengikuti program internship.

“Inilah kronologis yang kami akan sampaikan di awal, bahwa pelaksanaan internship dokter MAA yang wafat kemarin ini sampai dengan mendapatkan perawatan,” kata Rudi.

Berikut kronologi lengkap dr Myta hingga wafat:

Agustus 2025

Myta mengikuti seleksi internship dan menjalani medical check up (MCU). Berdasarkan data Kemenkes, hasil pemeriksaan kesehatannya dinyatakan normal.

11 Agustus 2025–10 Februari 2026

Myta menjalani internship di stase Puskesmas di Puskesmas Kuala Tungkal II. Selama periode itu tidak ditemukan keluhan kesehatan.

11 Februari 2026

Myta mulai menjalani stase di RSUD Daud Arif Kuala Tungkal, tepatnya di Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Menurut Rudi, dalam program internship peserta dibagi ke dua kelompok, yakni stase IGD dan bangsal rawat inap dengan masa rotasi masing-masing tiga bulan.

26 Maret 2026

Myta mulai mengalami gejala sakit saat menjalani stase IGD, namun tetap bertugas.

“Di tanggal 26 Maret ketika menjalani stase IGD tadi di Kuala Tungkal, dokter MAA ini merasakan gejala penyakit dan tetap bertugas di UGD, kemudian yang bersangkutan menjalani pengobatan mandiri,” ungkapnya.

31 Maret 2026

Kondisi dr Myta memburuk. Ia mengalami demam, batuk, dan pilek namun tetap menjalani jaga malam.

Namun, menurut Kemenkes, ia tidak melaporkan kondisinya kepada dokter pendamping internship.

Pada hari yang sama, Kemenkes juga menemukan adanya pemanggilan peserta internship oleh dokter pendamping terkait kritik terhadap program internship di media sosial dan situs pengaduan.

1 April 2026

Myta mengirim voice note kepada rekannya sesama peserta internship mengenai kondisi sakit yang dialaminya.

Dalam rekaman itu, dr Myta mengeluhkan panas tinggi, batuk pilek, menggigil, hingga mual.

11–12 April 2026

Myta masih menjaga IGD dalam kondisi sakit.

“Nah, berikutnya di tanggal 11, ini dokter MAA masih jaga pagi di IGD, dengan kondisi masih batuk pilek, demam. Diberikan obat oleh dokter IGD,” kata Rudi.

“Demikian pun di tanggal 12,” lanjutnya.

13 April 2026

Bertepatan dengan hari ulang tahunnya, dr Myta kembali menjalani jaga malam dan mendapat infus setelah bertugas.

“Jadi dokter MAA merayakan ulang tahunnya dengan kondisi pasca jaga malam, dengan tangan terinfus, kondisi tadi masih ada keluhan demam batuk pilek,” tutur Rudi.

15 April 2026

Myta mengirim voice note kepada rekannya untuk meminta pergantian jadwal jaga karena sudah merasa tidak kuat dan mengalami sesak napas pada pagi hari.

Rekannya kemudian bersedia menggantikan jadwal jaga dr Myta.

Pada sore hari, ibu kandung dr Myta menghubungi rekan di RSUD Daud Arif Kuala Tungkal karena tidak bisa menghubungi anaknya.

Myta kemudian ditemukan dalam kondisi linglung di bawah tangga tempat kos.

“Jadi, tidak menggunakan jilbab, mengenakan celana pendek, dan atasan seragam scrub. Setelah ditanya oleh dokter F tadi, dokter MAA menjawab dia ingin berangkat jaga. Jadi, kondisi sudah agak confused, linglung, mungkin ada hipoksia di situ,” kata Rudi.

Pada malam harinya, dr Myta dibawa ke UGD RSUD Daud Arif Kuala Tungkal oleh rekan-rekannya menggunakan sepeda motor.

20 April 2026

Dokter penanggung jawab pasien memperbolehkan dr Myta pulang pada pukul 12.44 WIB. Namun dr Myta sempat meminta observasi tambahan hingga siang.

Setelah pulang, kondisi dr Myta kembali memburuk karena mengalami demam tinggi.

21 April 2026

Ilustrasi kesibukan di IGD. Foto: PeopleImages/Shutterstock

Myta kembali masuk UGD dengan keluhan sesak dan demam pada dini hari. Pada pagi harinya, keluarga datang dari Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan dan memutuskan membawa dr Myta ke RSUD Raden Mattaher Jambi.

Kemenkes mengungkap proses pemindahan dilakukan menggunakan mobil pribadi, bukan ambulans.

“Nah jadi transfer dari Rumah Sakit Mattaher Jambi dengan mobil pribadi, karena untuk proses transfer ini harus masuk UGD dulu, kemudian harus melakukan persis rute, yang ibunya ingin cepat supaya bisa diantar. Nah atas inisiatif itu, akhirnya menggunakan mobil pribadi, dan terpasang oksigen pinjam dari dokter pendamping,” ujar Rudi.

“Dan proses transfer tanpa melalui persis rute, dan tidak menggunakan ambulans. Karena tidak mengikuti proses yang tadi. Yang seharusnya dengan kondisi seperti ini, harusnya juga menggunakan ambulans,” lanjutnya.

Di siang hari, dr Myta tiba di RSUD Raden Mattaher Jambi dan masuk UGD dengan keluhan batuk serta sesak napas.

24 April 2026

Setelah dirawat sekitar tiga hari, dr Myta diperbolehkan pulang dan dijadwalkan kontrol ke poli paru pada 29 April. Namun hasil pemeriksaan belum diterima keluarga.

Setelah itu dr Myta kembali dibawa ke Kuala Tungkal untuk melanjutkan internship.

24-25 April 2026

Karena kondisi belum pulih, keluarga meminta izin membawa dr Myta pulang ke OKU Selatan.

Perjalanan dilakukan dari Jambi menuju Palembang terlebih dahulu untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan. Namun di Palembang, dr Myta kembali mengalami demam.

26 April 2026

Myta tiba di OKU Selatan dan sempat dibawa ke Klinik Ismada milik pamannya. Hanya dua jam berada di klinik tersebut, keluarga memutuskan membawa Myta kembali ke Palembang untuk dirujuk ke RSUP Mohammad Hoesin.

27 April 2026

Myta tiba di RSUP Mohammad Hoesin Palembang dan langsung dirawat di ruang isolasi infeksi.

“Kemudian di Rumah Sakit Hoesin, Palembang, akhirnya karena kondisi penyakitnya adalah penyakit infeksi, maka prosedurnya dirawat di ruang isolasi infeksi,” katanya.

Kondisi dr Myta terus menurun hingga akhirnya dipindahkan ke ICU dan dipasangi ventilator.

“Karena ada gangguan paru, bernafasnya berat, maka perlu alat bantu pernafasan,” ujar Rudi.

Myta meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di ICU RSUP Mohammad Hoesin Palembang.

“Dan dokter MAA dirawat di ICU hingga wafat. Dengan kondisi penyakit paru berat di Rumah Sakit Hoesin,” kata Rudi.