Kronologi Kerusuhan Dua Desa di Buton yang Hanguskan Puluhan Rumah

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Puluhan rumah yang terbakar akibat bentrokan di Buton, Sulawesi Tenggara, Rabu (5/6). Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Puluhan rumah yang terbakar akibat bentrokan di Buton, Sulawesi Tenggara, Rabu (5/6). Foto: Dok. Istimewa

Sebanyak 871 warga terpaksa mengungsi akibat pertikaian yang pecah antara Desa Gunung Jaya dengan Desa Sampuabalo di Buton, Sulawesi Tenggara, Rabu (5/6). Tak hanya itu, puluhan rumah di kedua desa hangus setelah dibakar oleh massa kedua kubu.

Karopenmas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengungkapkan, kejadian itu sebenarnya berawal dari konvoi motor para pemuda Desa Gunung Jaya. Berikut kronologi kerusuhan di Buton yang diungkapkan Dedi di Mabes Polri, Jumat (7/6):

Selasa, 4 Juni 2019

Para pemuda dari Desa Gunung Jaya menggelar konvoi motor ke Desa Sampuabalo sekitar pukul 21.00 WITA. Namun, masyarakat di Desa Sampuabalo merasa terganggu dan resah dengan suara bising yang dihasilkan.

Menurut Dedi, hal ini menjadi pemicu awal bentrok antara kelompok pemuda dari kedua desa tersebut.

Rabu, 5 Juni 2019

Salah satu pemuda dari Desa Sampuabalo hendak mengunjungi saudaranya di momen lebaran. Namun, saat melewati Desa Gunung Jaya, pemuda tersebut terkena panah di bagian dada kiri dan langsung melaporkan kejadian itu ke warga desanya.

Pukul 14.00 WITA

Puluhan rumah masih dalam kondisi terbakar di Desa Gunung Jaya usai terjadi keributan antar pemuda di perbatasan antara Desa Gunung Jaya dan Desa Sampuabalo, Buton, Sulawesi Tenggara, Rabu (5/6). Foto: ANTARA FOTO/ Emil

Sekitar 100 warga Desa Sampuabalo lalu berkumpul dan menyerang Desa Gunung Jaya secara spontan. Sekitar 50 rumah dibakar, berikut dengan satu unit mobil dan sebuah sepeda motor.

Kamis, 6 Juni 2019

Kerusuhan kembali memanas dan melibatkan etnis tertentu. Sejumlah orang di Desa Sampuabalo terluka dan dua orang lainnya meninggal dunia.

Tiga Satuan Setingkat Kompi (SSK) Brimob, dua SST Korem, dan satu SST Polres Bau Bau langsung diterjunkan untuk mengamankan perbatasan dua desa tersebut. Kapolda Sultra bersama Danrem, Bupati setempat, serta tokoh masyarakat dan agama langsung menggelar rapat untuk meredakan situasi.

"Kita masih mendata, karena ada warga yang mengungsi akibat rumah rusak dan ketakutan secara psikis. Saat ini sudah didata, siapa provokator dan pelaku, baik penganiayaan, perusakan, pembakaran, dan lain-lain," ucap Dedi.

Menurut Dedi, kasus kerusuhan yang melibatkan kedua desa tersebut baru pertama kali terjadi. Selain itu, pihaknya juga belum menangkap terduga provokator kericuhan ini karena masih sibuk menginventarisir kerugian.

“Saat ini belum. Masih fokus mendamaikan dulu, mendata, kemudian mengevakuasi korban,” tutup Dedi.