Kronologi Krisis di Sri Lanka: Keadaan Darurat hingga Presiden Mundur
ยทwaktu baca 4 menit

Sri Lanka dihantam krisis politik dan ekonomi hebat. Pada Sabtu (9/7) Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe menyatakan kesiapannya untuk mundur. Disusul dengan pernyataan Ketua Parlemen Sri Lanka Mahinda Abeywardana yang menyebut Presiden Gotabaya Rajapaksa setuju untuk mundur pada 13 Juli pekan depan.
Mundurnya dua pemimpin politik teratas di Sri Lanka tersebut dikarenakan demonstrasi yang semakin membara. Kediaman Rajapaksa di Kolombo diserbu demonstran. Bahkan kediaman Wickremesinghe dibakar massa yang marah.
Demonstrasi dipicu krisis yang menimpa negara berpenduduk 22 juta orang itu. Sri Lanka dihantam krisis selama berbulan-bulan. Masyarakat dilaporkan kekurangan makanan, bahan bakar, pemadaman listrik yang kerap terjadi, hingga inflasi yang tinggi.
Sebagai catatan, Sri Lanka memiliki cadangan devisa mencapai USD 7,6 miliar pada akhir tahun 2019. Namun angka tersebut turun menjadi USD 2,3 miliar pada April 2022 dan devisa yang dapat digunakan hanya sekitar USD 300 juta. Angkanya terus turun hingga saat ini.
Penyebab krisis ekonomi Sri Lanka dipicu banyak faktor. Mulai dari kronisme di pemerintahan Perdana Menteri Mahinda Rajapaksa, yang terpilih lagi di tahun 2020 lalu, hingga berbagai masalah ekonomi. Seperti kebijakan populis yang menjerumuskan Sri Lanka ke dalam krisis, diperparah dengan dampak pandemi COVID-19.
Kronisme pemerintahan Mahinda Rajapaksa merambah berbagai bidang. Dia sendiri merupakan kakak dari Presiden Sri Lanka, Gotabaya Rajapaksa. Di kabinet, juga ada kakak laki-lakinya, Chamal, dan keponakan tertuanya, Namal.
Berikut kronologi krisis di Sri Lanka dikutip dari AFP:
1 April Memasuki Keadaan Darurat
Rajapaksa mengumumkan keadaan darurat sementara, memberikan kewenangan besar kepada pasukan keamanan untuk menangkap dan menahan tersangka, setelah serentetan protes yang terjadi di Sri Lanka.
3 April Kabinet Mengundurkan Diri
Hampir semua kabinet Sri Lanka mengundurkan diri, menyisakan Rajapaksa sebagai presiden dan saudaranya Mahinda selaku perdana menteri. Tercatat 26 menteri mundur saat itu. Gubernur bank sentral Sri Lanka mundur sehari setelahnya.
5 April: Presiden Kehilangan Dukungan
Permasalahan di pemerintahan Sri Lanka semakin menjadi. Setelah pengunduran diri massal para menteri, Menteri Keuangan Ali Sabry yang baru diangkat sehari turut mundur.
Rajapaksa kehilangan mayoritas dukungan di parlemen setelah koalisi pendukungnya turut menyuarakan desakan mundur.
10 April: Kekurangan Obat
Para dokter Sri Lanka mengatakan mereka hampir kehabisan obat-obatan yang menyelamatkan jiwa, memperingatkan bahwa krisis itu bisa berakhir dengan kematian yang lebih banyak daripada pandemi virus corona.
12 April: Gagal Bayar Utang Luar Negeri
Pemerintah mengumumkan gagal bayar utang luar negerinya sebesar USD 51 miliar sebagai "upaya terakhir" setelah kehabisan devisa untuk mengimpor barang-barang yang sangat dibutuhkan.
19 April: Korban Pertama Jatuh
Polisi membunuh seorang pengunjuk rasa, korban pertama dari beberapa minggu protes anti-pemerintah terjadi sejak keadaan darurat diumumkan.
Hari berikutnya IMF mengatakan telah meminta Sri Lanka untuk merestrukturisasi utang luar negerinya yang sangat besar sebelum paket penyelamatan dapat disetujui.
9 Mei: Hari Kekerasan, Mahindra Mundur
Sekelompok loyalis pemerintah yang datang dari pedesaan menyerang pengunjuk rasa damai yang berkemah di luar kantor presiden di pinggir laut di Kolombo.
Sembilan orang tewas dan ratusan lainnya terluka dalam serangan balasan yang menyusul, dengan kerumunan menargetkan mereka yang bertanggung jawab atas kekerasan dan membakar rumah anggota parlemen.
Mahinda Rajapaksa mengundurkan diri sebagai perdana menteri, dan harus diselamatkan oleh pasukan setelah ribuan pengunjuk rasa menyerbu kediamannya di Kolombo.
Dia digantikan oleh Ranil Wickremesinghe, seorang veteran politik yang telah menjabat beberapa periode sebagai perdana menteri.
10 Mei: Penembakan
Kementerian pertahanan memerintahkan pasukan untuk menembak di tempat siapa pun yang terlibat dalam penjarahan atau melakukan perbuatan yang mengancam nyawa.
Pemerintah menerapkan jam malam bagi masyarakat. Namun demonstran menentangnya. Kebijakan itu dibatalkan di pekan yang sama setelah diterapkan.
Perwira tinggi polisi di Kolombo diserang dan kendaraannya dibakar.
10 Juni: Darurat Kemanusiaan
PBB memperingatkan bahwa Sri Lanka sedang menghadapi krisis kemanusiaan yang mengerikan, dengan jutaan orang sudah membutuhkan bantuan.
Lebih dari tiga perempat populasi telah mengurangi asupan makanan mereka karena kekurangan pangan yang parah, kata PBB.
27 Juni: Penjualan Bahan Bakar Ditangguhkan
Pemerintah mengatakan Sri Lanka hampir kehabisan bahan bakar dan menghentikan semua penjualan bensin kecuali untuk layanan penting.
1 Juli Rekor Inflasi Baru
Pemerintah menerbitkan data yang menunjukkan inflasi telah mencapai rekor tertinggi untuk bulan kesembilan berturut-turut, sehari setelah IMF meminta Sri Lanka untuk mengendalikan harga tinggi dan laju inflasi.
9 Juli: Rumah Presiden Diserbu
Presiden Rajapaksa melarikan diri dari kediaman resminya di Kolombo dengan bantuan pasukan, sesaat sebelum para demonstran menyerbu kompleks itu, dan dia dibawa ke lokasi yang dirahasiakan di lepas pantai.
Rekaman dari dalam kediaman menunjukkan pengunjuk rasa yang gembira melompat ke kolam dan menjelajahi kamar tidurnya yang megah.
Kediaman Wickremesinghe dibakar. Polisi mengatakan dia dan keluarganya tidak ada di tempat kejadian.
Rajapaksa kemudian disebut bersedia untuk mundur pada 13 Juli mendatang sebagaimana yang disampaikan oleh ketua parlemen Mahinda Abeywardana dalam sebuah pernyataan yang disiarkan televisi. Hal yang sama disampaikan kantor Wickremesinghe, atas kesediaan perdana menteri itu mundur dari jabatannya.
=====
Ikuti program Master Class Batch 2, 3 hari pelatihan intensif untuk para pelaku UMKM, gratis! Daftar sekarang di LINK INI.
