Kronologi Tabrakan Pesawat Batik Air dan TransNusa

Tabrakan terjadi di landasan pacu (runway) Halim Perdanakusuma antara pesawat Batik Air Boeing 737 yang akan lepas landas dan pesawat ATR 42 milik TransNusa yang sedang ditarik oleh towing car (Mobil Penderek Pesawat) terjadi pada 4 April 2016 tahun lalu. Bagaimana kronologi detailnya?
Dalam laporan terakhir yang dibuat Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) pada 10 April 2017 kemarin, tertulis secara rinci kronologi peristiwa tersebut. Selain itu KNKT juga mengeluarkan 13 rekomendasi yang termasuk peningkatan pelatihan, regulasi dan prosedur yang berurusan dengan penarikan pesawat.

Meskipun kedua pesawat mengalami kerusakan yang cukup parah, tidak ada korban akibat tabrakan tersebut.
Berikut ini kronologi kejadi sesuai laporan yang dirilis dalam laporan KNKT 10 April 2017 kemarin:
Pada Senin 4 April 2016, pesawat Batik Air Boeing 737 hendak lepas landas dari Bandara Halim Perdanakusuma menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Pesawat ini berisikan 56 orang yang terdiri dari 2 pilot, 5 pramugari dan 49 penumpang.
Dalam kawasan parkir B-1 terparkir pesawat ATR 42 milik TransNusa Aviation Mandiri. Apron Movement Control (AMC) menginstruksikan ATR 42 untuk dipindahkan dari landasan utara ke selatan.
Proses pemindahan pesawat dilakukan oleh PT. JAS yang telah memiliki kerjasama dengen TransNusa. Mobil penderek pesawat yang digunakan PT. JAS terdiri dari 2 orang yakni seorang pengemudi dan seorang staf pembantu. Sementara di dalam pesawat TransNusa terdapat 2 orang teknisi TransNusa yang bertugas untuk melakukan pengereman pesawat yang dibutuhkan saat proses pemindahan dengan berkoordinasi dengan staf pembantu di mobil penderek pesawat tadi.
Sang pengemudi mobil penderek pesawat tidak hanya bertugas menyetir namun juga harus berkomunikasi dengan pihak menara ATC Halim.

Pesawat yang dipindahkan tanpa mesin dan listrik (termasuk sistem komunikasi radio dan lampu) yang menyala.
Komunikasi antara pengemudi mobil penderek pesawat dan menara ATC Halim menggunakan hanheld radio (HT) dan pencahayaan pesawat menggunakan lampu portabel yang dipasang di bagian kanan dan kiri sayap pesawat.
Di Menara ATC terdapat 4 orang staf yang bertugas yakni controller, assistant controller, supervisor dan flight data officer.
Pada pukul 19.45 WIB pesawat Batik Air terparkir di kawasan B-2 meminta izin pushback dari menara ATC melalui frekuensi radio 118.6 Mhz dan diizinkan.
Setelah Pesawat Batik Air berhasil melakukan pushback, pengemudi mobil penderek pesawat meminta izin untuk memindahkan pesawat ATR 42 ke bagian selatan landasan. Pengemudi tersebut kemudian diberi instruksi untuk mengikuti pesawat Batik Air dan melapor jika telah sampai di taxiway C.
Komunikasi antara pengemudi mobil penderek pesawat dengan menara ATC dilakukan dengan frekuensi radio 152.73 KHz dan ditangani oleh assistant controller.
Sementara itu controller memonitor komunikasi antara assistant controller dengan pengemudi mobil penderek pesawat, controller mengetahui posisi pesawat ATR 42 yang diderek berada di B-1. Controller tidak melihat pesawat tersebut diterangi lampu tambahan saat pemindahan.
Pada pukul 19.48 WIB pilot Batik Air menerima izin untuk memasuki landasan pacu 24 (runway 24) lewat taxiway C dan 2 menit kemudian controller menginstruksikan pilot untuk menunggu di taxiway c karena ada pesawat yang akan mendarat.
Pesawat yang akan mendarat akan parkir di B-1 dan sehingga pesawat Batik Air harus menunggu pesawat yang akan mendarat untuk melintas. Assistant controller lalu menginstruksikan pengemudi mobil penderek pesawat untuk bergerak dan melapor bila telah sampai di taxiway C. Pilot Batik Air mengaku tidak mengetahui adanya pesawat ATR 42 yang sedang diderek di belakangnya.

Pada pukul 19.53 WIB pilot Batik Air menerima izin dari controller untuk memasuki runway 24.
Assistant controller mengetahui posisi terakhir pesawat ATR 42 yang diangkut ketika pesawat tersebut berada di depan menara ATC. Setelah itu assistant controller melakukan koordinasi dengan unit Air Traffic Services (ATS) lain yang berkaitan dengan pesawat yang akan lepas landas. Assistant controller tidak mengingat adanya cahaya lampu yang terlihat di pesawat yang diderek kecuali cahaya lampu mobil penderek pesawat tersebut.
Pesawat Batik Air mengantre di belokan runway 24 yang berjarak 200 meter dari permulaan landasan pacu tersebut. Saat antre, sang pilot menganggap cahaya yang mengitari jalur belokan sangat terang dan sekilas mempengaruhi pandangan ke depan.

Pukul 19.56.05 WIB pilot melaporkan untuk siap lepas landas. Menara ATC tidak melihat kendaraan atau objek apapun di runway dan memberikan izin untuk lepas landas kepada pilot Batik Air. Tidak ada koordinasi antara controller dan assistant controller terkait kondisi lalu lintas di area manuver lepas landas menjelang dikeluarkannya izin untuk lepas landas.
Pukul 19.56.51WIB Setelah mendapat izin untuk lepas landas, pilot kedua menarik tuas tenaga dan menekan tombol the Take Off / Go Around (TOGA).
Saat itu mobil penderek pesawat dan pesawat ATR 42 yang diderek berada di runway dan berjalan ke arah timur. Pengemudi mobil penderek melihat pesawat Batik Air sedang bergerak untuk lepas landas dan bertanya kepada menara ATC tentang apakah pesawat Batik Air akan lepas landas, namun tidak ada jawaban dari menara ATC. Pengemudi mobil penderek pesawat menggerakkan mobil dan berbelok ke sebelah kanan runway sebagai upaya menjaga jarak dari pesawat Batik Air yang akan lepas landas.

Pukul 19.57.08 WIB saat melaju dengan pada kecepatan 90 knots, pilot kedua melihat sebuah objek di runway dan memberitahu piot tentang objek yang membahayakan tersebut. Pilot tersebut tidak dapat mengidentifikasi objek tersebut sampai akhirnya pilot kedua menyadari bahwa objek tersebut adalah pesawat.
Pilot kemudian mengarahkan pesawat ke sebelah kanan garis tengah runway dan mempertahankan posisi pesawat di antara garis tengah runway dan pinggiran runway. Sang pilot kemudian berupaya untuk membatalakan lepas landas, namun beberapa saat kemudian sang pilot merasakan adanya benturan. Sang pilot lalu membatalkan lepas landas dan pesawat Batik Air tersebut berhenti pada jarak 400 meter dari pesawat ATR 42 yang diderek.
Assistant controller melihat api di bagian kiri pesawat Batik Air dan kemudian menekan tombol kecelakaan dan menginformasikan kepada pemadam kebakaran bandara.
Setelah pesawat Batik Air berhenti, Pilot memerintahkan pilot kedua untuk melakukan prosedur gawat darurat. Pilot menyadari api membakar ujung sayap kiri pesawat dan segera mematikan kedua mesin dan menyalakan pemadam api dari kedua mesin tersebut serta memerintahkan pramugari untuk mengevakuasi penumpang dari bagian sebelah kanan.
Setelah mendapat perintah dari pilot, prara pramugari memantau kondisi di dalam dan di luar pesawat. Tidak ada kerusakan di dalam pesawat dan mereka tidak melihat api di luar pesawat.
Para pramugari kemudian membuka semua pintu dan mengeluarkan peluncur darurat.
Pilot tersebut menyadari objek yang tertabrak adalah pesawat ATR 42 yang diderek setelah turun dari pesawat.
Sementara ATC baru mengetahui bahwa pesawat yang diserek berada di runway dan berbenturan dengan pesawat Batik Air setelah bertanya kepada pengemudi mobil penderek pesawat.

Berdarkan kronologi tersebut KNKT menyimpulkan 3 faktor yang menyebabkan insiden tabrakan tersebut terjadi.
Pertama, pengendalian dua pergerakan di dalam satu area oleh controller yang berbeda dalam frekuensi yang terpisah tanpa koordinasi yang baik berimbas pada minimnya pengetahuan atau informasi yang diterima controllers, pilot dan pengemudi mobil derek.
Kedua, miskomunikasi terkait instruksi untuk mengikuti pesawa Batik Air berkontribusi pada masuknya pesawat ATR 42 yang diderek ke landasan pacu.
Ketiga, kondisi penerangan di menara ATC dan area untuk berbelok ke runway 24 mengurangi kemampuan controllers dan pilot untuk melihat keberadaan pesawat ATR 42 yang diderek yang memiliki penerangan yang minim.
