KSAL Akan Gandeng SKK Migas Angkat KRI Nanggala-402

KSAL Laksamana TNI Yudo Margono mengatakan pihaknya akan menggandeng Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) untuk membantu mengangkat KRI Nanggala-402 yang tenggelam di perairan Bali.
"Sampai dengan saat ini posisi kapal masih tetap belum bergeser," kata Yudo Margono, usai mengunjungi rumah salah satu kru KRI Nanggala-402 yakni Komandan Satuan Kapal Selam (Dansatsel) Kolonel (P) Harry Setiawan, di Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (28/4) seperti dikutip dari Antara.
Ia mengemukakan, pihaknya juga melakukan pengamanan di lokasi tenggelamnya kapal selam tersebut dengan menyiagakan petugas di lokasi.
Ke depan kami ajukan untuk dilakukan pengangkatan, dan kami sudah koordinasi dengan SKK Migas karena mereka yang memiliki kemampuan untuk mengangkat kapal tersebut.
-KSAL Laksamana Yudo Margono
Seperti diketahui, untuk mengangkat kapal selam dari kedalaman laut dibutuhkan alat berat yang mumpuni. Kapal crane yang biasa digunakan untuk membangun konstruksi sumur minyak di kedalaman air lebih dari 1.000 meter disebut-sebut mampu untuk mengangkat beban lebih dari 1.500 ton.
Masih Dihitung
Yudo mengatakan, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan kepolisian, dan petugas aslog juga sudah menghubungi SKK Migas supaya kapalnya bisa segera diangkat.
"Minta doanya saja supaya kapalnya bisa segera diangkat. Saat ini masih rapat dan dihitung berapa beratnya, dari gambar-gambar tersebut," ujarnya lagi.
Dalam jumpa pers hari hari Minggu lalu, disebutkan bahwa kapal selam terbelah menjadi tiga. Bodi kapal selam berada di kedalaman 835 meter.
TNI AL meyakini penyebab kecelakan itu bukan human error, melainkan faktor alam. Misalnya muncul arus kuat di laut. Namun hal itu masih akan diselidiki. Pengangkatan badan kapal selam antara lain juga dimaksudkan dalam rangka investigasi.
Kondisi Psikologis
Disinggung terkait dengan kondisi psikologis keluarga kru kapal itu, Yudo mengatakan saat ini menyiagakan petugas psikologi untuk mendampingi keluarga yang ditinggalkan.
"Petugas psikologi siap mendampingi karena kondisi psikologis keluarga yang ditinggal berbeda-beda," ujarnya.
