KSAL: Diduga Awak Kapal Selam KRI Nanggala Buang Benda Cair Agar Tetap Mengapung

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kapal Angkatan Laut Indonesia tiba untuk bergabung dalam operasi pencarian KRI Nanggala 402 di Pelabuhan Tanjung Wangi, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (22/4).  Foto: AFP
zoom-in-whitePerbesar
Kapal Angkatan Laut Indonesia tiba untuk bergabung dalam operasi pencarian KRI Nanggala 402 di Pelabuhan Tanjung Wangi, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (22/4). Foto: AFP

Kapal selam KRI Nanggala 402 belum juga ditemukan. Meski begitu, TNI AL belum menyatakan kapal selam buatan Jerman itu tenggelam.

Saat proses pencarian, sejumlah KRI dan helikopter TNI AL melihat adanya tumpahan minyak di sekitar lokasi terakhir kali KRI Nanggala meminta izin untuk menyelam dan akhirnya hilang kontak.

KSAL Laksamana TNI Yudo Margono menjelaskan ada beberapa kemungkinan mengapa sampai ada tumpahan minyak yang ada di lokasi penyelaman KRI Nanggala. Pertama, bila kedalaman penyelaman masih di kisaran 50-100 meter lalu terjadi masalah, awak kapal sengaja mengeluarkan semua benda cair yang ada di kapal.

"Awak kapal mengeluarkan semua benda cair yang ada di kapal, minyak, oli, supaya tetap mengapung, paling tidak meringankan beban sehingga tetap bisa mengapung," kata Yudo dalam konferensi pers bersama di Bali, Kamis (22/4).

Kapal Selam KRI Nanggala-402. Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO

Kapal selam KRI Nanggala memang didesain dapat menyelam di kedalaman maksimal 250 meter. Diduga posisi terakhir kapal ada di kedalaman 500-700 meter di palung perairan Bali.

"Kalau di kedalaman 500 meter, kemungkinan tangki retak, lalu black out, air masuk," tambah dia.

Pencarian masih dilakukan karena masih ada harapan KRI Nanggala ditemukan. Meski dalam kondisi black out, oksigen untuk 53 awak kapal masih cukup untuk 72 jam. Artinya, masih bisa sampai Sabtu (24/4) dini hari.

Karena itu, tim terus mendatangkan kapal-kapal yang memiliki sonar dan kemampuan evakuasi kapal selam untuk dapat segera mengevakuasi KRI Nanggala.

"Nanti akan datang KRI Rigel. Lalu kapal bantuan dari Singapura dan Malaysia juga sudah menuju ke lokasi," ucap dia.

Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono. Foto: Dispen AL

Yudo bersama Menhan Prabowo Subianto, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit juga ikut dalam pemantauan langsung pencarian di perairan Bali melalui KRI Soeharso.

KRI Nanggala hilang kontak saat latihan peluncuran torpedo sebagai bagian dari latihan penembakan senjata strategis TNI AL.

Kapal selam ini diduga mengalami black out, lalu tidak terkendali, dan hilang atau tenggelam. Diduga, badan kapal ada di kedalaman 700 meter.

Saat itu, KRI Nanggala membawa total 53 awak. Kapal dikomandani oleh Letkol Laut P Hery Oktavian. Selain itu, ikut serta dalam latihan Dansatsel Koarmada II Kolonel Harry Setyawan.