KSP soal Inflasi Pengamat: Bukan Antikritik, tapi Pakai Data Akurat-Tepat
·waktu baca 2 menit

Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari merespons sorotan terkait pernyataan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengenai fenomena "inflasi pengamat".
Ia menegaskan pemerintah tidak anti kritik, namun menekankan pentingnya penggunaan data yang akurat dalam menyampaikan pendapat.
"Nggak, nggak antikritik. Yang ditekankan itu harusnya adalah soal penggunaan data yang tepat dan akurat dalam memberikan pendapat," ujar Qodari di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (13/4).
"Pakai data, pakai teori — itu sebetulnya yang ditekankan kalau saya melihatnya," lanjutnya.
Berlaku untuk Semua, Terutama Pengamat Berlatar Akademik
Qodari menambahkan, prinsip penggunaan data berlaku untuk semua pihak — namun terutama bagi kalangan pengamat yang umumnya memiliki latar belakang akademik.
"Menurut saya itu berlaku untuk siapa saja, tapi terutama pengamat, karena pengamat itu biasanya berasal dari latar belakang akademik," katanya.
Pernyataan Qodari merespons pernyataan Teddy Indra Wijaya yang menyoroti fenomena "inflasi pengamat" di tengah maraknya opini publik dari berbagai kalangan.
Teddy menilai jumlah pengamat saat ini meningkat pesat, namun tidak semuanya memiliki latar belakang maupun data yang relevan. Ia mencontohkan munculnya pengamat di berbagai bidang — mulai dari pangan hingga militer — yang dinilai tidak sesuai dengan keahliannya.
"Sekarang ini ada fenomena yang namanya inflasi pengamat. Banyak sekali pengamat — ada pengamat beras tapi latar belakangnya bukan di situ, ada pengamat militer, ada pengamat luar negeri. Dan pengamat-pengamat itu datanya tidak sesuai fakta, datanya keliru," ujar Teddy di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (10/4).
