KSP: Tak Mungkin Presiden Datang Sepi, tapi Kerumunan Jadi Bahan Evaluasi

24 Februari 2021 18:44
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Dosen Filsafat UI Donny Gahral Adian dalam diskusi 'Menolak Pembusukan Filsafat', Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (13/2). Foto: Rizki Baiquni/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Dosen Filsafat UI Donny Gahral Adian dalam diskusi 'Menolak Pembusukan Filsafat', Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (13/2). Foto: Rizki Baiquni/kumparan
ADVERTISEMENT
Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Donny Gahral Adian, memberikan penjelasan terkait kerumunan saat kunjungan kerja Presiden Jokowi di Maumere, Nusa Tenggara Timur, Rabu (23/2) kemarin.
ADVERTISEMENT
Menurutnya, pelanggaran protokol kesehatan berupa tak jaga jarak akibat kerumunan tersebut bukan semata-mata faktor Jokowi, tapi ada pemerintah daerah dan aparat yang harusnya juga berperan.
"Ya ini kan bukan presiden yang melanggar. Ini ada elemen pemerintah daerah, elemen pengawalan presiden. Ini sesuatu yang berbeda," kata Donny, Rabu (24/2).
Donny mengatakan, kerumunan terjadi karena tidak ada antisipasi. Apalagi setiap kunjungan Jokowi ke daerah pasti akan memicu kerumunan masyarakat. Oleh karena itu, dia meminta evaluasi dilakukan sehingga ke depan tidak terulang lagi.
"Jadi presiden kan simbol negara yang pasti akan mengundang banyak massa. Tidak manajemen pengawalan dan pengaturan kerumunan saja sebenarnya. Tapi ini bisa jadi bahan evaluasi," ujarnya.
Presiden Joko Widodo meninjau lokasi food estate yang terletak di Bukit Ngora Lenang, Lai Patedang, Desa Makata Keri, Kec Katiku Tana, Kab Sumba Tengah, NTT, Selasa (23/2/2021). Foto: Agus Suparto/Presidential Palace
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Joko Widodo meninjau lokasi food estate yang terletak di Bukit Ngora Lenang, Lai Patedang, Desa Makata Keri, Kec Katiku Tana, Kab Sumba Tengah, NTT, Selasa (23/2/2021). Foto: Agus Suparto/Presidential Palace
Ia juga menyebut tidak mungkin kedatangan Jokowi sebagai presiden tidak mendorong berkumpulnya massa. Sehingga ia menekankan perlunya antisipasi agar kerumunan seperti di NTT tak terulang lagi.
ADVERTISEMENT
"Enggak mungkinlah presiden kemudian datang sepi-sepi saja. Ini sudah bisa diprediksi, tapi tidak seperti yang dibayangkan kerumunannya. Manajemen antisipasi dan mitigasinya harus diperbaiki," tuturnya.
Kerumunan yang terjadi di NTT, kata dia, merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindarkan. Apalagi masyarakat sudah lama menanti kedatangan Jokowi.
"Ya animonya luar biasa. Jadi, ya, hal yang tidak terhindarkan. Saya kira ini menjadi pelajaran untuk tata kelola pengamanan standar protokol kesehatan di kemudian hari," pungkasnya.
Dalam kunjungan kemarin, banyak masyarakat yang antusias bertemu dengan Jokowi. Pada video yang beredar, Jokowi menyapa masyarakat dari dalam mobil dan membagikan suvenir kepada mereka sehingga akhirnya memicu kerumunan.
Dalam beberapa kesempatan, Jokowi juga mengingatkan masyarakat di lokasi untuk memakai masker demi mencegah penularan COVID-19. Jokowi di sana meninjau kawasan food estate atau lumbung pangan di Desa Makata Keri, Kecamatan Katiku Tana, Kabupaten Sumba Tengah hingga meresmikan Bendungan Napun Gete di Kabupaten Sikka.
ADVERTISEMENT
***
Saksikan video menarik di bawah ini.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020