kumparan
21 Okt 2017 8:17 WIB

KTT D-8: Erdogan Desak Perdagangan dengan Mata Uang Nasional

Erdogan berjanji akan memberantas organisasi Gulen (Foto: Kayhan Ozer/Presidential Palace/Handout)
Negara-negara D-8 didesak agar saling menggunakan mata uang nasional dalam perdagangan.
ADVERTISEMENT
Desakan disampaikan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) D-8 di Istanbul, demikian disiarkan Turkish Radio and Television (TRT) dipantau kumparan Den Haag, Jumat malam (20/10).
“Jika kita dapat membuka jalan untuk menggunakan mata uang nasional kita dalam perdagangan di antara negara-negara kita, kita akan membuat sebuah revolusi dalam sejarah D-8,” ujar Erdogan.
Menurut Erdogan, langkah negara-negara D-8 saling menggunakan mata uang nasionalnya dalam perdagangan itu sebagai cara untuk meringankan tekanan nilai tukar mata uang negara-negara anggota.
Erdogan juga mendesak negara-negara anggota D-8 untuk mengumpulkan bank-bank sentral mereka dan membentuk rumah kliring, melakukan upaya untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas dan kekuatan.
"Kita memiliki potensi kerjasama yang luas di berbagai bidang, dari praktik pertanian yang baik sampai energi bersih, dari transportasi sampai lingkungan dan pendidikan,” imbuh Erdogan.
ADVERTISEMENT
Erdogan juga menyarankan perlunya memasukkan negara-negara anggota baru dalam organisasi tersebut.
"Di dunia ini, di mana segala sesuatu berubah, tak pernah bisa diterima kalau D8 tetap tidak berubah," cetus Edogan.
D-8 dibentuk pada tahun 1997 atas prakarsa PM Turki Necmettin Erbakan untuk menciptakan kelompok ekonomi delapan negara berkembang di dunia Islam.
Pada konferensi pers seusai KTT, Erdogan mengatakan bahwa negara-negara D8 berencana untuk meningkatkan kerja sama dalam bidang industri pertahanan, pertanian, pariwisata, pendidikan dan energi.
Menyinggung pentingnya generasi muda, Erdogan juga mengumumkan lebih banyak upaya terfokus pada proyek yang diperuntukkan bagi populasi pemuda, termasuk mewujudkan Universitas D8 yang akan didirikan di Iran.
Krisis Rohingya
Erdogan mengatakan D-8 harus menjadi platform untuk mengatasi masalah dan konflik yang dihadapi umat Islam.
ADVERTISEMENT
Mengutip contoh tragedi yang sedang berlangsung di negara bagian Rakhine, Myanmar, dia mengatakan bahwa D-8 seharusnya tidak tinggal diam mengenai situasi Muslim Rohingya.
Erdogan mengatakan kurang tepat kalau beban untuk membantu Rohingya hanya dipikul oleh Bangladesh. Erdogan meminta negara-negara anggota D-8 untuk meringankan beban Bangladesh.
"Apa yang penting di sini adalah bagaimana kita bisa meringankan Bangladesh," demikian Erdogan.
Bedasarkan laporan PBB, sejak 25 Agustus sekitar 589.000 warga Rohingya telah menyeberang ke Bangladesh.
Para pengungsi tersebut lari menyelamatkan diri dari operasi militer, di mana pasukan keamanan dan kelompok Buddha membunuh pria, wanita dan anak-anak, menjarah rumah dan membakar desa Rohingya.
Laporan kumparan Den Haag: Eddi Santosa
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan