Kumpulkan Organisasi Mahasiswa, Kemenpora Minta Waspadai Radikalisme

Kementerian Pemuda dan Olahraga mengumpulkan sejumlah organisasi mahasiswa yang ada di Indonesia dalam sebuah diskusi pada Selasa (22/5). Pertemuan antara Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga Asrorun Ni'am Sholeh dengan organisasi ekstra kampus itu membahas masalah terorisme dan radikalisme.
Dalam kesempatan itu, Ni'am meminta mahasiswa ikut melawan penyebaran paham radikal yang memperbolehkan tindakan teror. Hal itu diucapkan karena kelompok teror mengincar mahasiswa sebagai pengikutnya.
Ni'am mengatakan, data Badan Nasional Penanggalan Terorisme pada 2016 menunjukkan 16,4 persen terorisme berlatar belakang sebagai mahasiswa. Dia menduga, mahasiswa yang masuk dalam jaringan teror adalah kelompok yang masih dalam tahapan pencarian jati diri.
Kelompok tersebut dianggap Ni'am haus masalah keagamaan sehingga rentan salah mencari teman dan guru untuk menimba ilmu. Dalam keadaan itu paham radikal mulai masuk.
"Jadi perlu penguatan pemahaman keagamaan yang moderat di kalangan mereka," kata Asrorun Ni'am berdasarkan rilis yang diterima kumparan, Rabu (24/5).

Untuk mencegah keadaan tersebut terjadi, Ni'am merasa perlu peran organisasi mahasiswa menyebarkan paham moderat. "Salah satu caranya dengan memperkuat pemahaman keagamaan moderat di kalangan pemuda dan mahasiswa," sebut Ni'am.
Selain pemahaman keagamaan, Ni'am juga meminta organisasi mahasiswa mulai menyuarakan pendidikan bela negara. "Wawasan kebangsaan dan pendidikan bela negara perlu dikuatkan di kalangan pemuda seiring semakin longgarnya semangat kebangsaan akibat perubahan sosial yang begitu cepat. Ini menjawab dua masalah sekaligus, radikalisme dan liberalisme di kalangan muda. Akan tetapi, polanya harus dikemas dengan kekinian, sesuai dengan tren generasi millenial," jelasnya.
Selain Ni'am, pembicara lain pada diskusi tersebut adalah Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) Ali Muthohirin dan Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) Muhammad Nur. Peserta diskusi berasal dari sejumlah organisasi tingkat pemuda, antara lain seperti IPNU, IPPNU, PMII, HMI, PII, IPM, IMM, KOPRI PMII, BKPRMI, PMKRI dan GMKI.
