Kutipan Emas Pram yang Cocok Untukmu Jomblo

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Ilustrasi simbol cinta  (Foto: Getty Images)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi simbol cinta (Foto: Getty Images)

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis."

Kutipan dari Pramoedya Ananta Toer itu bisa jadi salah satu inspirasi untuk kalian yang masih menjomblo. Kalian bisa menemukan kalimat itu dalam buku Anak Semua Bangsa, salah satu bagian dari Tetralogi Pulau Buru.

Berdasarkan kutipan itu saja kita bisa memilih, misal, untuk: menulis jika ingin dicintai, mencintai mereka yang menulis, atau mencintai tulis menulis. Bagaimana?

Tapi, satu hal yang berulang kali ditekankan oleh Pram, menulis membuat kita abadi, tanpa harus minum obat kimia atau bertapa sekian puluh hari.

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Menulis memang tidak serta-merta membuat kita digandrungi oleh lawan jenis. Tapi mungkin secara perlahan di kemudian hari akan ada, bahkan banyak, yang mencintai kita karena tulisan yang kita buat hari ini. Percayalah.

Siapa yang akan mencintai? Tergantung siapa yang membaca dan menyukai tulisan kita. Itu artinya tergantung pada tulisan yang diciptakan. Jika kita tidak juga mendapat jodoh setelah menulis sekian banyak, itu takdir namanya.

Jangan berkecil hati. Pepatah lama bilang, banyak jalan menuju Roma. Jadi, banyak cara untuk mendapatkan cinta. Tapi, Pram selanjutnya mengingatkan agar jangan sampai menjadi kriminal dalam percintaan.

Juga jangan jadi kriminil dalam percintaan, yang menaklukan wanita dengan gemerincing ringgit, kilau harta dan pangkat. Lelaki belakangan ini adalah juga kriminil, sedang perempuan yang tertaklukan hanya pelacur.

Pesan ini sangat tegas. Adakah yang merasa tersinggung dengan kutipan tersebut?

Jika kita memercayai bahwa cinta adalah sesuatu yang suci atau agung, mungkin kita akan bersepakat dengan Pram.

Siapa pula yang ingin dicintai hanya karena harta belaka, meskipun uang kini begitu dominan dalam kehidupan hingga muncul istilah segala sesuatu bisa dibeli dengan uang.

Tapi benarkah uang begitu berkuasa hingga bisa benar-benar membeli cinta?

Cinta, bagi Pram, ibarat cahaya terang. Oleh karenanya dia memiliki bayang-bayang, dan bayang-bayang itu bernama derita.

Jadi, jika kalian siap mencintai, maka harus siap juga untuk menderita.

Cinta itu indah, Minke, juga kebinasaan yang mungkin membuntutinya. Orang harus berani menghadapi akibatnya

Hampir semua kisah cinta yang dituliskan Pram memiliki sisi tragis, dan berkelindan dengan perjuangan demi tanah air dan kemanusiaan.

Contohnya kisah cinta Wiranggaleng dan Idayu dalam Arus Balik, Annelies dan Minke dalam Bumi Manusia, atau Ken Arok dan Ken Dedes dalam Arok Dedes.

Kisah cinta mereka bukan sekadar cinta untuk mendapat cinta itu sendiri lalu selesai. Dalam buku Arok Dedes, Pram menuliskan:

Darimana asalnya kedunguan itu? Dari terlalu banyak mengurusi diri sendiri sehingga buta terhadap yang lain-lain.

Meskipun begitu, di salah satu tulisannya, Pram seperti bersepakat dengan Agnes Monica bahwa cinta itu kadang tak punya logika.

“Sepandai-pandainya lelaki, kata bujang nenekku dulu semasa aku masih sangat muda, kalau sedang gandrung: dia sungguh sebodoh-bodoh si tolol.”

Gandrung pada kalimat di atas maksudnya ialah kasmaran.

Ilustrasi Pramoedya Ananta Toer (Foto: Muhammad Faisal Nu'man/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pramoedya Ananta Toer (Foto: Muhammad Faisal Nu'man/kumparan)

Jadi, kutipan mana yang paling kamu sukai dari karya-karya Pram?

Simak juga