kumparan
30 Mar 2019 16:43 WIB

Label Halal MUI Jadi Patokan Umat Yahudi Manado Pilih Makanan Kosher

Makan bersama setelah Ibadah Sabat di Sinagoge Tondano. Foto: Cornelius Bintang/kumparan
Tak ada yang mencolok jika melihat sekilas rumah milik Reginald Tanalisan (54) di Mapanget, Manado, Sulawesi Utara. Namun, jika diperhatikan lebih jeli, dapat dilihat simbol Bintang Daud terukir di pagar rumah itu.
ADVERTISEMENT
Logo berbentuk heksagram yang merupakan tanda jati diri orang Yahudi. Selain di pagar, lambang bintang berujung enam itu juga tampak dilukis di kaca depan rumah.
“Itu kan ada Bintang Daud di situ. Jadi kalau siang ada matahari, nanti muncul (bayangan) bintangnya di sini,” kata Reginald kepada kumparan, Jumat (22/3) seraya menunjuk salah satu sisi dinding rumahnya.
Rumah Regi, sapaan akrab Reginald, memang memiliki banyak simbol dan benda-benda khas orang Yahudi. Di beberapa sudut, dapat dilihat barang-barang yang berlambangkan Hanukkah dan Menorah, simbol yang menyerupai tempat lilin bercabang 9 dan 7.
Reginald, pemeluk Yudaisme di Manado berfoto di depan simbol Hanukkah. Foto: Cornelius Bintang/kumparan
Tak hanya itu, dalam rumah berlantai dua tersebut ada pula sejumlah tulisan berbahasa Ibrani berupa kutipan ayat-ayat Taurat yang ditempel di dinding ruang tengah, ruang makan, hingga dapur.
ADVERTISEMENT
Regi pun tidak lupa memamerkan foto Kota Yerusalem sembari bercerita tentang kunjungannya ke kota suci tiga agama itu, 2010 silam. Saat berkunjung ke sana, dia mengaku, tengah dalam penjelajahan spiritual untuk memeluk agama Yahudi atau Yudaisme.
Sejak saat itu, Regi pun berusaha menjadi penganut Yudaisme yang taat. Terlihat, ketika dia meminta izin untuk melaksanakan ibadah pagi atau shakarit pada pukul 08.00 WITA.
“Sebentar, paling cuma 5 menit. Biasanya 3 kali sehari, tapi ini cukup 2 kali aja, pagi sama sore aja,” ujar dia sambil mempersiapkan ritual.
Pria dengan cambang dan janggut panjang itu lalu mengenakan jubah putih yang disebut tallit. Kemudian, dia mengambil sepasang tefillin, sebuah kotak kulit hitam berisi gulungan perkamen bertuliskan ayat suci. Gulungan itu kemudian dililitkan di dahi dan lengan kirinya. Tak lupa, dia mengenakan peci kecil berwarna putih yang disebut kipah.
ADVERTISEMENT
Video
Regi mulai merapal doa dari kitab Siddur yang digenggamnya. Sambil berdiri, sesekali dia mengangguk-anggukan bahunya ke depan. Lalu saat hampir selesai, dia bergoyang ke kanan dan ke kiri sebagai tanda salam.
Ibadah harian seperti itu kebanyakan dilakukan Regi di rumah. Hanya sepekan sekali ia menunaikannya di Sinagoge Shaar Hashamayim di Tondano, Kabupaten Minahasa.
Regi bercerita, perjalanan spiritualnya menganut Yahudi dimulai dari tahun 1999. Saat itu, konflik horizontal di kampung halamannya, Maluku Utara, tengah berkecamuk. Akibatnya, dia memutuskan untuk mengungsi ke kampung istrinya di Manado.
Dalam suasana gamang akibat konflik, Regi yang kala itu belum memeluk Yudaisme mulai lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Namun, walau fisiknya merasa aman, dia mengaku tidak menemukan ketenangan.
ADVERTISEMENT
Puncaknya, pada 2002, Regi merasakan konflik batin dalam dirinya. Dia pun mulai mencari tahu dan belajar banyak seputar agama.
“Cari tahu ke akar Ibrani. Belajar cari tahu teks-teks yang aslinya bagaimana, latar belakang penulisannya bagaimana,” ucap pria yang dalam data kependudukan tercatat beragama Kristen Protestan itu.
Lalu pada 2004, Regi mengaku mendapat semacam wahyu. Saat itu, dia mengaku, mendengar suara ‘le dor va dor’ yang berarti dari generasi ke generasi. Mirip tradisi agama Yudaisme yang umatnya berdasarkan keturunan darah. Dia pun merasa, perjalanan spiritualnya mengarah ke agama Yudaisme.
Dia lantas bertekad pergi ke Israel, yang kemudian terwujud tahun 2010. Di Israel, Regi bertemu seorang pria misterius dan seorang Rabi yang mengajaknya berdoa. Itulah sejumlah kejadian yang membuat Regi mantap memilih Yudaisme sebagai keyakinannya.
ADVERTISEMENT
Namun, menjadi seorang Yahudi tanpa memiliki garis keturunan yang jelas bukan hal mudah. Regi harus melakukan konversi yang syaratnya tidak sederhana.
Sulitnya memeluk Agama Yudaisme. Foto: Putri Sarah Arifira/kumparan
“Menjadi Yahudi itu harus menunjukkan dua hal. Pertama, ada surat (silsilah) keturunan atau tidak. Kalau dia memang tidak dapat membuktikan, harus ada convert. Dan convert itu harus di hadapan tiga orang rabi di depan, atau satu orang rabi dan dua tokoh-tokoh tua Israel yang selalu mengetahui keberadaan local jew setempat,” jelas pria yang baru secara legal diterima sebagai Yahudi tahun 2014 itu.
Regi menjelaskan, dalam Yudaisme, nilai-nilai agama mesti diterapkan menjadi kebiasaan atau gaya hidup terlebih dahulu. Dalam hal ini, para rabi yang menjadi saksi konversi harus melihat komitmen calon pemeluk Yudaisme.
ADVERTISEMENT
“Bagaimana kamu sudah melaksanakan (ibadah) Sabat atau belum? Bukan pada saat nanti convert baru kamu lakukan, sebelum kamu convert, kamu sudah menjalankan nilai-nilai itu,” kata Regi.
Tak Mudah Jadi Yahudi di Indonesia
Sejumlah produk makanan milik Reginald Tanalisan terdapat logo halal. Foto: Agaton Kenshanahan/kumparan
Salah satu praktik nilai ajaran Yudaisme yang sulit bagi Regi berkenaan dengan kosher, semacam halal dan haram dalam Islam terkait perkara makanan. Hanya saja, aturan dalam kosher, bisa dibilang lebih ketat.
“Makanya paling pertanyaannya yang ending adalah motivasinya kamu apa? Kenapa harus jadi Yudaisme? Karena apa, pantangan makanan banyak, tidak boleh makan sembarang. Makanan enak-enak enggak boleh,” ujarnya.
Berdasarkan Taurat, makanan yang tidak kosher (tidak layak konsumsi) tersebut terbagi dalam beberapa jenis. Pertama, jenis makanan laut seperti udang, kepiting, dan lobster. Kedua, makanan pada bagian yang mengandung lemak dan darah, semisal lendir lemak pada daging, termasuk babi.
ADVERTISEMENT
Lalu ketiga, makanan yang produksinya tidak diawasi rabi. Fungsi rabi adalah untuk memastikan tidak ada penyiksaan hewan dalam proses produksi makanan tersebut.
“Yang ketiga ini, kalau ada logo MUI diharapkan memenuhi standar kosher. Dan lembaga lain di indonesia tidak menerapkan hukum ini,” ucap pemilik nama Yahudi, Yehuda Ben Abraham tersebut.
Sejumlah produk makanan milik Reginald Tanalisan terdapat logo halal. Foto: Cornelius Bintang/kumparan
Karena tidak ada toko kosher di Indonesia, menurutnya, memilih produk makanan berlogo Halal MUI menjadi alternatif terbaik. Setidaknya, dia bisa mengurangi kemungkinan sebuah makanan tidak kosher.
Dicaci karena Yahudi
Memilih berpindah keyakinan menjadi seorang Yahudi bukan tanpa risiko. Regi mengaku pernah menerima cacian karena agama barunya itu.
“Dalam sosial kemasyarakatan ada saja kadang kata-kata kasar. ‘Eh kamu Yahudi, eh kamu ini pulang saja kamu, kamu tidak ada tempat di sini, kamu pulang saja ke tempatmu Yahudi’,” ucapnya sembari meniru si pencaci.
Seorang penganut Yahudi, Ayub Dareda, bersiap melaksanakan ibadah di sinagog Shaar Hashamayim di Tondano, Kabupaten Minahasa. Foto: Agaton Kenshanahan/kumparan
Pengalaman itu juga dialami oleh penganut Yahudi konversi lain, Ayub Dareda (63). Dia mengaku, sempat dianggap gila oleh tetangga dan istrinya sendiri.
ADVERTISEMENT
“Mereka bilang orang gila saya,” curhat pengajar teologi yang juga pensiunan polisi itu ke kumparan sebelum beribadah di Sinagoge Shaar Hashamayim, Tondano, Sabtu (23/3).
Tetapi Ayub tak ambil pusing dengan semua cacian yang dialamatkan kepadanya. Begitu pula dengan Regi yang justru memilih tetap menjalin hubungan baik dengan pemeluk agama lain.
Video
“Jangan sampai orang (beranggapan) negatif, wah kita ini (dikira) begini, kita ini begini. Padahal hukum kita adalah mengasihi sesama manusia,” kata Regi.
Sementara itu, seorang tetangga Regi bernama Chandra Barus mengaku, tak pernah ada masalah dengan keberadaan penganut Yahudi di lingkungannya.
“Pernah seperti dulu kejadian, waktu almarhum istri Pak Regi meninggal, ada acara Yahudi itu, tetangga pada ngumpul semua dengan berbagai macam agama,” katanya.
ADVERTISEMENT
Simak story lain tentang komunitas Yahudi di topik Kisah Yahudi Manado.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan