Ladang Amal di Peternakan Kambing Kurban

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

video youtube embed

Bau kotoran kambing begitu menyengat tercium di seisi kandang Bagas Farm yang terletak di Desa Selawangi, Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Bogor. Bagi yang tidak biasa, perlu daya lebih untuk menahan rasa mual tak terhindarkan. Namun hal tersebut tak berlaku bagi Badrudin. Dengan santainya ia lalu lalang mengurusi ternak dengan bau kambing bersatu dengan bau kotoran mereka.

Sore itu, ia bersama enam orang lainnya memindahkan pakan ternak berkarung-karung jumlahnya. Pakan itu dipindahkan dari sebuah pondok di depan menuju kandang dengan menggunakan gerobak. Ketika masuk ke kandang yang menyerupai rumah panggung, ia dengan sigap membersihkan kotoran dan mengecek keadaan hewan yang jumlahnya lebih dari 2.000 ekor.

Badrudin ikut memberi makan hewan ternak (Foto: Ridho Robby/kumparan)

Pekerjaan semacam itu rutin ia lakukan setiap hari tanpa libur. Ia berangkat pagi pukul 07.00 WIB pagi dan baru selesai pukul 16.00 WIB. Badrudin tidak memiliki tugas tertentu, setiap proses di kandang mereka jalani bersama-sama mulai dari menyiangi rumput, mengolah pakan ternak, hingga menjaga kandang.

“Saya senang juga ngurus peternakan. Saya punya dua kambing di rumah,” ucap Badrudin ketika ditemui kumparan (kumparan.com) di Bagas Farm pada Sabtu (12/7).

Pemuda Desa Sukamulya seperti Badrudin kebanyakan bekerja di sektor pertanian dan peternakan. Sebelumnya, ia bekerja di perkebunan singkong milik tuan tanah. “Berhenti karena di sana nggak teman dan cuacanya kering.”

Setelah berhenti meladang di kebun singkong dan menganggur, Badrudin ditawari masuk menjadi peternak di Bagas Farm. Ia mesti belajar dari awal.

“Dahulu belajar dengan kawan-kawan yang lebih dulu bekerja di sana. Diajarin cara kasih makan dam memberi minum seperti ini,” beber Badrudin.

Keseharian Badrudin sebagai peternak kambing (Foto: Ridho Robby/kumparan)

Perkenalan singkat ini langsung membuatnya senang di dunia peternakan. "Suatu saat kalau ada rezeki Tuhan ingin punya cita-cita punya peternakan sendiri,” ucapnya.

Dua kambing Badrudin di rumah adalah langkah awalnya untuk merangkai cita-cita. Meski demikian, ia tahu masih panjang jalan yang harus ia tempuh. “Ilmunya sudah cukup, modal yang susah.”

Bicara modal pun masih terlampau jauh di pikiran Badrudin. Pemasukan sehari-hari sebagai peternak sebenarnya terlalu pas bagi Badrudin yang juga memiliki istri dan dua anak perempuan yang beranjak dewasa. “Kalau cukup yang cukup. Segi materi lumayan. Buat saya sendiri, saya ambil hikmahnya.”

Badrudin, peternak yang bekerja di Bagas Farm (Foto: Ridho Robby/kumparan)

Bau kotoran dan beratnya beban yang harus ia angkut setiap hari telah menjadi rasa ikhlas di hati Badrudin. Namun hal itu dipandang lain oleh salah seorang pengurus Bagas Farm, Durrokhim Syamsoeri.

Menurut Durrokhim, peternak kebanyakan tidak terlalu serius menggembala karena potensi yang minim. Peternak kebanyak menghadapi pilihan; menjalani pekerjaan sambil beternak atau menjadi pekerja di peternakan namun gaji keci.

“Hasil yang sampai ke mereka cukup kecil. Justru yang menikmati hasil yang cukup besar itu belantik dan pedagang. Hampir kurang lebih 60 - 70 persen keuntungan justru diambil oleh pedagang.”

Mendekati masa panen kurban seperti saat ini, peternak bekerja semakin keras untuk memastikan kualitas hewan mereka bisa dibeli para Muzakki. Masa Idul Adha adalah masa panennya peternak justru menjadi masa panennya belantik dan para pemain tengah.

Kambing milik peternakan mitra Lazismu (Foto: Ridho Robby/kumparan)

Aspirasi mensejahterakan peternak inilah yang kemudian mendasari pendirian Bagas Farm. “Seperti saya lihat bahwa peternakan bisa dijadikan skala industri tanpa menghilangkan peternak yang level kecil.”

Visi ini kemudian mempertemukan para pendiri Bagas Farm dengan Lazismu. Lembaga amil zakat ini memiliki visi mensejahterakan ekonomi masyarakat dan ingin mengangkat derajat para mustahiq yang biasa menengadah zakat menjadi muzakki atau para pemberi zakat.

Segendang sepenarian, Durrokhim dan rekannya sekaligus pendiri Bagas Farm, Heryando, meyakini bahwa cita-cita Lazismu dapat didorong melalui pemberdayaan peternak. “Seorang mustahiq harus diberdayakan sehingga penghasilan dia terangkat. Jika mereka berhasil dan berkecukupan, kemudian mereka naik menjadi muzakki, maka ladang-ladang baru akan muncul,” ucapnya.

Kerja sama dengan Lazismu dimulai pada Maret 2017 untuk mengintegrasikan penjualan program pemberdayaan peternak yang ia jalankan. Nantinya, hewan kurban yang dibesarkan Badrudin akan dikemas dalam kaleng.

Peternak sedang mengolah pakan kambing (Foto: Ridho Robby/kumparan)

Dengan langsung bekerja sama dengan Lazismu, kambing-kambing yang dibesarkan oleh Badrudin dan kawan-kawan tidak perlu melalui perantara yang selama ini mengambil pemasukan peternak.

“Domba yang kami hasilkan itu juga hasil dari mitra-mitra peternak, yang dalam hal ini bukan domba biasa yang semata-mata dihargai dalam rupiah. Tapi di dalam domba itu, domba yang dibesarkan oleh peternak ada hasil keringat peternak.”

Sehingga, keringat peternak tidak akan terbuang sia-sia dan mereka benar-benar mendapatkan sesuai dengan tenaga yang mereka keluarkan.

“Muzakki yang beli dari kambing dan domba kami berarti berupaya untuk mengangkat muzakki-muzakki baru.,” tegas Durrokhim.

----

Anda bisa jadi bagian dari donatur untuk program NBIB dengan cara berdonasi di laman berikut:

embed from external kumparan