Langit di Jakarta Berkabut, tapi Cerah, Apa karena Polusi?

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana gedung bertingkat yang terlihat samar karena polusi udara di Jakarta, Rabu (28/9/2022). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Suasana gedung bertingkat yang terlihat samar karena polusi udara di Jakarta, Rabu (28/9/2022). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO

Dalam tiga hari terakhir, langit di Jakarta terlihat berkabut. Warganet pun mengira kabut itu karena polusi. Dokter Spesialis Anak, dr. Shela Putri Sundawa, SpA., bahkan mengungkap di laman Twitter pribadinya bahwa ia menerima banyak pasien anak dengan keluhan batuk pilek selama satu minggu terakhir. Ia menyebut, hal itu tak menutup kemungkinan disebabkan faktor udara yang buruk.

Kepada kumparan, dokter Shela memaparkan, kondisi lingkungan berpengaruh pada kondisi pernapasan.

"Kondisi lingkungan (yang buruk) bisa membuat iritasi pada mukosa saluran pernapasan, sehingga anak lebih rentan mengalami batuk pilek,โ€ jelas dr. Shela saat dihubungi pada Jumat (2/6).

instagram embed

Berdasarkan data yang dapat dilihat di aplikasi pemantau udara atau tingkat polusi Air Visual (IQ AIR), cuaca di Jakarta sejak Jumat (2/6) sampai hari ini, Senin (5/6), memang kurang baik, tapi paling parah pada Jumat dengan status tidak sehat.

IQ Air cuaca Jakarta sejak Jumat (2/6). Foto: Dok IQAir

Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengungkap, langit berkabut bisa karena banyak faktor. Di antaranya polusi dan juga mendung.

"Langit berkabut itu kan bisa banyak kemungkinan ya, bisa polusi, bisa juga karena mendung," kata Humas DLH DKI Jakarta Yogi Ikhwan kepada kumparan, Senin (5/6).

Meski demikian, Yogi tak menampik kualitas udara di Jakarta memang harus diperbaiki. Dari data terkini, 67 persen polusi di udara disebabkan oleh kendaraan.

Solusi Kurangi Polusi

Penyebab polusi udara yang paling tinggi menurut data DLH DKI adalah kendaraan pribadi, sehingga Yogi pun mengimbau kepada masyarakat, terutama di DKI Jakarta, untuk beralih ke transportasi publik massal.

Pemakaian kendaraan pribadi juga sebaiknya dilakukan dengan kendaraan yang telah lulus uji emisi.

"Sehingga misi, asap knalpot itu, yang keluar memenuhi baku mutu. Dengan dua saja keterlibatan masyarakat itu sudah akan cukup signifikan memperbaiki kualitas udara," kata Yogi.

instagram embed

Yogi juga mengimbau masyarakat rutin memantau kualitas udara. Dengan mengecek dalam skala rutin, warga diharapkan dapat membuat keputusan berdasarkan rekomendasi yang diberikan, terutama terkait aktivitas di luar ruangan. Salah satunya dengan menggunakan aplikasi JAKI.

"Kita ada stasiun pemantauan polusi udara, hasil itu bisa dilihat di JAKI, di sana kalau kondisi udara baik-baik saja mungkin enggak apa-apa beraktivitas di luar ruang. Tapi saat kualitas buruk ada advice untuk pakai masker dan tidak beraktivitas di luar ruangan," ujarnya.