Langkah Abadi Seniman Tari, Menjaga Warisan Budaya untuk Generasi Masa Kini
·waktu baca 11 menit
Di balik gemerlap panggung pentas, tersimpan kegelisahan para seniman tari. Mereka khawatir, tanpa upaya nyata melestarikan, warisan ‘gerak yang sarat makna’ ini perlahan hilang ditelan zaman.
Padahal tarian bukan sekadar hiburan, melainkan identitas bangsa yang harus hidup dan diwariskan ke generasi muda. Tujuannya agar budaya tetap hidup dan tidak terputus dari akar sejarahnya. Butuh kolaborasi bersama dalam mewariskan budaya ke generasi masa kini sebagai bentuk bakti pada negeri.
Mira Arismunandar, salah satu seniman tari yang menaruh perhatian pada upaya pelestarian tari tradisional. Lewat Yayasan Gema Citra Nusantara (GCN) yang berdiri sejak 2004, ia ingin setiap orang, terutama anak muda, tumbuh dengan kesadaran untuk mencintai budaya bangsa.
“Ya, karena memang kita diwariskan seni dan budaya yang sangat kaya, sangat beragam, berwarna, dan sangat indah. Itu sayang sekali ya, kalau kita enggak kasih sama generasi penerus bangsa, sayang sekali,” ujar Mira ditemui di Sanggar GCN, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Sabtu (16/8/2025).
Di sanggarnya, Mira tak hanya melatih satu tarian saja, melainkan berbagai tari tradisional, mulai dari Jawa, Sunda, hingga Aceh. Sejak usia 4 tahun, Mira memang menaruh kecintaan pada budaya tari. Dari yang awalnya dikenalkan beragam tari Jawa oleh orang tua, ia terus menekuni berbagai jenis tari tradisional di bangku sekolah dan kuliah.
Dedikasinya terlihat saat Mira luwes melatih tari piring dari Sumatera Barat hingga tari ratoh jaroe asal Aceh kepada muridnya yang rata-rata masih berusia 13-18 tahun.
Meski ada asisten, wanita berusia 60 tahun itu turun langsung membetulkan setiap gerakan. Bahkan, Mira juga mengajarkan tari kreasi Sanggar GCN, tari kembang kipas. Lewat tari-tari ini, ia selalu mengajarkan ke anak didiknya untuk menjadi penari yang berbudaya: dapat menjaga warisan dan membawa pesan budaya, etika, serta identitas bangsa.
“Tadi yang saya sampaikan pada anak-anak juga ada wiraga (gerak), wirama (irama), wirasa (rasa/emosi). Tiga faktor itu tidak mungkin kita bisa belajar dalam sekejap,” ungkap dia.
Mira menilai upaya pelestarian tari tradisional tidak lepas dari masa lalu, ketika guru dan maestro tari mengajarkan tari tradisional ke generasi penerus. Seperti yang ia rasakan saat berguru dengan sejumlah maestro, seperti maestro tari Sunda, Nugraha Sudireja dan Irawati Durban; hingga maestro tari Bali, Ayu Bulan Trisna.
“Itu membuat saya termotivasi ya. Seni tradisi begitu indah, janganlah dilupakan ya. Jadi saya memang walaupun sekarang banyak seni tari lainnya, tari modern, kontemporer, enggak apa-apa. It's okay, tapi seni tari tradisi jangan dilupakan,” jelas Mira.
“Karena saya sangat menghargai guru-guru yang memberikan itu semua kepada saya dan saya termotivasi untuk juga membahagiakan mereka. Kan mereka senang ya kalau tari tradisi masih ada hingga saat ini,” imbuh dia.
Bagi Mira, menari bukan sekadar upaya melestarikan budaya, tetapi juga misi untuk memperkenalkan jati diri bangsa ke panggung dunia. Ia meyakini, setiap penari adalah duta bangsa yang menyampaikan pesan lewat gerak dan irama. Keyakinan itu ia buktikan melalui pengalamannya tampil di berbagai negara.
“Karena kalau kita mengingat bahwa misi budaya berarti kita membawa sesuatu yang harus kita perkenalkan, kita promosikan di dunia internasional. Itu. Jadi, betapa bangganya menjadi seorang duta bangsa yang bisa memperkenalkan seni tari tradisi atau seni dan budaya Indonesia ini di luar negeri,” jelas Mira yang merupakan istri dari seorang diplomat.
Sebagai seorang istri diplomat, Mira merasa beruntung bisa turut memperkenalkan budaya Indonesia dari satu negara ke negara lain. Ia pun mengenang pengalamannya bersama KBRI Wina, Austria, mendirikan sanggar tari Gema Puspa Nusantara.
Lewat berbagai pertunjukan tari yang digelar sanggar ini, Mira merasa bangga karena banyak masyarakat Eropa yang semakin tertarik dengan seni tari Indonesia, bahkan ikut mempelajarinya.
“Alhamdulillah yang saya lihat mereka sangat menghargai, mereka sangat antusias untuk belajar, mereka juga sangat menyenangi tari Indonesia,” jelas Mira yang pernah tampil di banyak negara Eropa dan Asia.
Bagi Mira, misi budaya tak bisa hanya berhenti dirinya, melainkan harus diwariskan kepada generasi muda Indonesia. Ia percaya, ada kebanggaan yang tak ternilai ketika anak bangsa mampu mengharumkan nama Indonesia lewat tarian di panggung dunia.
“Jadi kesempatan itu (tampil di panggung dunia) dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Jadi mereka betul-betul bisa membawa nama harum Indonesia di luar, dan mereka lihat sendiri bagaimana orang di luar negeri itu menghargai budayanya. Jadi mereka lagi menari, mendapat sambutan yang bagus,” pesan dia.
Jadi betapa bangganya menjadi seorang duta bangsa yang bisa memperkenalkan seni, tari, tradisi atau seni dan budaya Indonesia ini di luar negeri.
-Mira Arismunandar
Misi budaya yang Mira wariskan ke generasi muda ini terlihat saat beberapa kali anak didiknya pentas dan berlomba di ajang internasional. Sanggar GCN rutin melatih tari dan terlibat di misi kebudayaan di beberapa sekolah di Jakarta, seperti SMP-SMA Al-Izhar Pondok Labu, SMP Al-Ikhlas Cipete, hingga Sekolah Cikal.
Baru-baru ini, GCN berhasil berhasil mengantarkan SMA Muhammadiyah 3 Jakarta merebut medali emas di ajang World Dance Festival 2025 di Sejong University, Korea Selatan, dengan membawakan tari ratoh jaroe.
“Mereka di sana waduh senang sekali. Mereka bangga datang ke sana. Secara tidak langsung, mereka juga cinta sama tanah air,” jelas Mira.
Jerih payah Mira melestarikan seni tari tradisional didukung penuh Bakti Budaya Djarum Foundation. Menurut Mira, hadirnya Galeri Indonesia Kaya di bawah naungan Bakti Budaya Djarum Foundation, menjadi ruang penting bagi para seniman untuk menyalurkan karya dan inspirasinya.
“Bukan hanya terhadap saya, terhadap banyak seniman dan apalagi dengan adanya Galeri Indonesia Kaya, mereka punya satu wadah untuk para seniman untuk menuangkan inspirasi,” pungkas dia.
Tari Tak Sekadar Hiburan
Mewariskan seni tari tak hanya soal menjaga sebuah hiburan tetap hidup, namun juga mewariskan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat Indonesia. Seperti yang diupayakan seniman tari kontemporer sekaligus koreografer, Hartati.
Perempuan yang akrab disapa Uni Tati ini melihat seni tari kerap diposisikan sebatas hiburan seremonial belaka. Padahal, menurutnya, makna seni tari jauh lebih luas: wadah untuk mengekspresikan pendapat sekaligus menyampaikan kritik sosial.
“Kegelisahan saya ini sudah lama karena dari saya mulai belajar menari sampai hari ini itu dunia tari masih di tataran hiburan yang lebih banyak, yang untuk seremonial dan seterusnya. Nah itu yang menjadi masih jadi PR,” jelas Uni Tati di kediamannya di Depok, Jawa Barat.
Ketua Yayasan Seni Tari Indonesia ini kerap menyuarakan kondisi masyarakat melalui tarian. Seperti pertunjukan tari ‘Jarum dalam Jerami’, yang ia bawakan sebagai refleksi tentang pentingnya memperhatikan hal-hal kecil yang bisa berdampak besar bagi kehidupan sosial maupun alam Indonesia sebagai negara agraris.
Dalam karyanya ini, jarum dimaknai sebagai sesuatu yang kecil namun berbahaya, tersembunyi di balik tumpukan jerami yang tampak sepele. Ia ingin memberi peringatan bahwa di tengah kegembiraan atau euforia, sering kali kita lengah dan melewatkan detail penting. Jika diabaikan, hal kecil itu bisa menimbulkan masalah serius.
“Mulai dari ‘Jarum dalam Jerami’ itu juga tentang kondisi alam. bagaimana kita selalu bicara pangan lebih penting gitu ya. Pangan itu bagaimana caranya pangan menjadi prioritas. Tapi kita kadang-kadang lupa gitu. Bahkan daerah saya saja yang misalnya adalah berbudaya agraris, mereka sudah tidak punya sawah lagi tuh. Sawahnya sudah dijual, sawah menjadi ruko,” jelas Uni Tati soal contoh makna dari tari ‘Jarum dalam Jerami’.
Pelestarian seni tari kontemporer ia dapatkan dari para guru yang membimbingnya, terutama saat menempuh pendidikan di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Lebih dari dua dekade, sejak masa kuliah hingga bergabung dengan Gumarang Sakti Dance Company pimpinan maestro tari kontemporer Gusmiati Suid, Uni Tati mendedikasikan hidupnya bagi dunia tari.
Selama perjalanan itu, ia beruntung dipertemukan dengan banyak maestro tari, di antaranya Sardono W. Kusumo, Farida Oetoyo, Julianti Parani, Dedi Lutan, Wiwiek Sipala, Tom Ibnur, Sentot, hingga Marautie. Sosok-sosok besar ini yang membentuk perjalanan seni dan jati dirinya hingga kini.
Uni Tati selalu mendorong anak didiknya untuk tak melupakan ‘akar mereka’: siapa dirinya, dari tradisi apa ia berasal, dan bagaimana akar itu membentuknya.
Baginya, kekuatan sebuah karya tari terletak pada karakter dan identitas yang lahir dari pemahaman soal akar budaya. Karena itu, menurut dia, setiap tarian harus menyampaikan pesan yang bermakna, entah soal isu-isu terkini atau kegelisahan pribadi.
Apakah (isi tarian) tentang isu yang up to date, apa pun yang mengganggu kondisi dirinya (penari) dan dia berpikir bahwa ini harus menjadi karya.
-Hartati
"Nah, lalu kalau kekhawatiranku hari ini, dengan pesatnya media sosial, teman-teman kecenderungannya adalah menyusun gerak. Mereka menyusun gerak, menjadi gerak atraktif. Itu juga bagus dan tidak masalah, tapi ada pengetahuan yang harus mereka juga punya bahwa tari itu sama loh dengan seni-seni yang lain,” jelas seniman asal Minang ini.
Asa Uni Tati melestarikan seni tari kontemporer turut didukung Bakti Budaya Djarum Foundation.
Menurutnya, Bakti Budaya Djarum Foundation memberikan ruang bagi seluruh seniman tari maupun musik di Indonesia tanpa membedakan latar belakang: apakah mereka berfokus pada pelestarian seni tradisional, kontemporer, atau menyuarakan pandangan sosial lewat karya seni.
Dukungan tersebut juga ia rasakan lewat hadirnya ruang-ruang kreasi di berbagai daerah, yang tujuannya mendorong lahirnya generasi baru seniman muda.
“Ini adalah tahun kelima saya melakukan kolaborasi dengan teman-teman daerah misalnya mereka mau membuka platform penciptaan bagaimana meregenerasi koreografer muda,” terang dia.
“Saat itu ada di Sumatera Barat, Festival Mentari. Kita pernah melakukan Festival Tari di Jambi, kemudian ada Festival Gurindam 12 di Kepri, kemudian ini baru sekarang di Riau yaitu Gerak Riau. Itu semua atas supporting Bakti Budaya Djarum Foundation,” pungkas Uni Tati.
Estafet Pelestarian Budaya
Pelestarian budaya seringkali berjalan layaknya sebuah lari estafet. Tongkat nilai dan karya diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya agar tak pernah berhenti di tengah jalan.
Seperti yang dilakukan Mira Tejaningrum Gumbira, putri dari maestro sekaligus pencipta Jaipongan, Gugum Gumbira. Seperti atlet yang menerima tongkat estafet dari pelari sebelumnya, Mira dengan penuh tanggung jawab meneruskan langkah sang ayah yang meninggal pada 2020.
Ia tidak hanya menjaga keaslian Jaipongan sebagai warisan budaya, tetapi juga berupaya menghadirkannya dalam wajah yang relevan dengan zaman.
“Kami sedang meramu. Jadi kami ini anak-anak yang ditinggalkan oleh Pak Gugum kemudian membentuk tim, ini kira-kira gimana nih untuk lebih lagi. Jadi kita tidak tidak puas dengan pencapaian yang sekarang, tapi artinya kan kita mengikuti perkembangan zaman,” jelas Mira ditemui di Padepokan Jugala, Bojongloa, Kota Bandung. Di padepokan ini, Jaipongan lahir dari tangan Gugum Gumbir pada 1978.
“Regenerasi untuk yang kami lakukan adalah salah satunya kami membuka sekolah tari Jaipongan Jugala ini. Tapi di luar itu, tempat ini bukan cuma tempat latihan, tapi ini adalah rumah kedua mereka di mana mereka akan merasa nyaman,” imbuh dia.
Mira menjelaskan Jaipongan adalah gaya tarian yang menonjolkan gerak yang energik dan dinamis, sehingga mampu memikat generasi muda. Seni ini oleh Gugum Gumbira dijadikan pembaharuan kesenian Sunda, dengan menggabungkan elemen dari ketuk tilu, pencak silat, dan berbagai seni tradisi lain.
“Ciri dari Jaipongan tentunya energik, dinamis. Itu yang bikin anak-anak sekarang senang karena memang dinamisnya itu, energiknya, menantang. Karena beda sekali, bentuknya beda sekali dengan kesenian yang pernah ada di tanah Sunda sebelumnya,” terangnya.
Setidaknya ada 21 tari jaipongan –kemungkinan lebih– yang diciptakan Gugum Gumbira dan dilestarikan Padepokan Jugala, salah satunya adalah Kawung Anten yang diciptakan pada 1992. Hingga kini, tari ini masih terus dilatih ke anak murid Padepokan Jugala sebagai bentuk regenerasi penari Jaipongan.
“Menceritakan seorang putri dari Patih Jayaperkosa yang namanya Nyi Mas Kawung Anten. Beliau itu eh yang yang digambarkan di tarian ini itu adalah ketika Nyi Mas Kawung Anten ini sedang diberi mandat, sedang diberi tugas oleh ayahnya yang lagi perang untuk menjaga areanya dan itu tersimbolkan pohon Hanjuang,” cerita Mira soal tari Kawung Anten.
Pelestarian Jaipongan kini semakin mendapat ruang untuk tumbuh. Dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation melalui Galeri Indonesia Kaya menjadi pemantik semangat bagi para seniman, termasuk Mira untuk terus berkreasi dan menjaga warisan sang ayah.
“Jadi untuk saya dan untuk tim kami sangat bersemangat dengan adanya dukungan tersebut. Jadi kami enggak mati nih berkreasi terus gitu,” terang dia.
Lebih dari sekadar melestarikan, Mira memiliki harapan besar: menjadikan Jaipongan sebagai warisan dunia yang diakui UNESCO. Ia ingin memastikan tarian ini tetap hidup, dicintai lintas generasi, dan tak hilang ditelan zaman. “Itu kebanggaan buat saya dan saya ingin menularkan kebanggaan ini kepada anak-anak sekarang,” tegasnya.
Estafet yang dilakukan Mira dari sang ayah bukan sekadar menjaga sebuah tarian, melainkan menjaga identitas budaya yang mengakar pada masyarakat Sunda dan bangsa Indonesia. Dengan semangat estafet itu, Mira membuktikan warisan budaya dapat terus berlari melampaui batas waktu.
Jadi kalau enggak kita, siapa lagi yang akan meneruskan ini. Ini adalah warisan yang nilainya luhur.
-Mira Tejaningrum Gumbira
"Kita akan bersama-sama bisa berkarya dalam hal apa pun, sekarang saya mewakili komunitas Jaipongan, siapa pun yang cinta dengan Jaipongan atau umumnya dengan budaya-budaya yang ada di Indonesia, mari kita berkarya karena itu adalah identitas dan karakter bangsa,” pungkasnya.
Dari lintas generasi dan gaya tari, Mira Arismunandar, Hartati, dan Mira Tejaningrum Gumbira menyuarakan satu asa yang sama: mewariskan budaya ke generasi masa kini. Bagi mereka, menjaga seni tari bukan sekadar menjaga gerak, melainkan menjaga identitas bangsa di tengah arus globalisasi.
Dengan terus berkarya dan menurunkan semangat itu kepada generasi muda, mereka menjadikan pelestarian seni tari sebagai bentuk bakti pada negeri, agar Indonesia senantiasa dikenal dunia karena warisan budayanya yang hidup dan berkelanjutan.

