Langkah BNPB Tangani Meluasnya Karhutla: Water Bombing hingga OMC

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan ribuan personel dan sejumlah armada udara untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi di Sumatra dan Kalimantan.
Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat BNPB, Brigjen Djohan Darmawan, mengatakan terjadi peningkatan titik api dalam beberapa hari terakhir, khususnya di Kalimantan Barat (Kalbar), Kalimantan Tengah (Kalteng), dan Kalimantan Selatan (Kalsel).
“Sejauh ini untuk Kalbar, Kalteng, dan Kalsel kita dalam BNPB sudah mengerahkan unit-unit water bombing, operasi modifikasi cuaca (OMC), maupun heli patroli,” kata Djohan dalam konferensi pers, Sabtu (22/8).
Di Kalbar, BNPB mengerahkan 10.010 personel untuk melakukan pemadaman, pendinginan, serta penyekatan wilayah terdampak kebakaran. Penanganan tersebut juga didukung 11 unit heli dan enam unit water bombing.
Lebih lanjut, Djohan menuturkan BNPB membuka dua pangkalan Satgas Udara di Kalbar, yakni di Pontianak dan Ketapang. Dari kedua pangkalan itu, sejumlah unit heli patroli dan water bombing digeser untuk memperkuat penanganan di wilayah terdampak, khususnya Ketapang, Kayong Utara, dan Kubu Raya.
Sementara itu di Kalteng, BNPB mengerahkan 10 unit helikopter yang terdiri atas tiga unit helikopter Bell, satu Caravan yang dapat digunakan untuk patroli maupun OMC, serta enam unit water bombing.
BNPB juga menyiapkan dua pangkalan, yakni di Bandara Tjilik Riwut dan Kabupaten Sampit, untuk mempermudah penanganan karhutla di sekitar wilayah tersebut.
Untuk Kalsel, menurut Djohan, BNPB mengerahkan sembilan unit helikopter dan sekitar 9.800 personel yang terdiri dari unsur TNI-Polri, Masyarakat Peduli Api, Manggala Agni, BPBD, swasta, dan unsur lainnya.
Djohan juga menjelaskan, luas lahan yang terbakar di Kalsel hingga saat ini mencapai sekitar 8.900 hektare.
Sementara di Riau, BNPB mengerahkan tujuh unit helikopter Bell maupun Caravan untuk mendukung operasi pemadaman dan pendinginan karhutla. Penanganan tersebut dilakukan di area terbakar seluas sekitar 16.249 hektare dengan dukungan 17.764 personel.
“Sejauh ini unit yang tergelar di Provinsi Riau ini sudah melakukan pemadaman dan pendinginan di kurang lebih area yang terbakar itu 16.249 hektare,” jelas Djohan.
Kemudian di Sumatra Selatan, BNPB mengerahkan sembilan unit Satgas Udara yang terdiri dari heli patroli, water bombing, dan OMC dengan jenis Caravan. Sebanyak 11.567 personel dikerahkan untuk melakukan pemadaman dan pendinginan.
“Di sini kami menggelar kurang lebih 11.567 personel, yang di dalamnya dari TNI-Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, BPBD, swasta, dan unsur-unsur yang membantu dalam pemadaman dan pendinginan di lokasi-lokasi terdampak di wilayah Sumatera Selatan,” terang Djohan.
Adapun luas lahan yang terbakar di Sumatra Selatan hingga 22 Agustus tercatat sekitar 1.926 hektare.
Sementara di Jambi, BNPB mengerahkan enam unit heli, yang terdiri dari heli Bell, satu Caravan untuk OMC, serta empat unit water bombing. Sebanyak 5.818 personel turut dikerahkan.
Secara keseluruhan, Djohan mengatakan jumlah heli dan Caravan yang dikerahkan di wilayah Kalimantan dan Sumatra mencapai 52 unit, dengan 30 unit berada di Kalimantan dan 22 unit di Sumatra.
