Langkah Pramono Benahi Polusi Jakarta: Bangun PLTSa-Target 10 Ribu Bus Listrik
·waktu baca 2 menit

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan sejumlah langkah untuk menekan polusi udara, mulai dari pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) hingga percepatan penggunaan kendaraan listrik.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan salah satu fokus utama penanganan polusi adalah pembangunan PLTSa yang ditargetkan mampu menghasilkan listrik hingga 120 megawatt.
“Yang jelas, Jakarta segera berbenah menangani persoalan polusi. Salah satu yang utama adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah, kalau nanti sudah selesai kurang lebih akan menghasilkan sampai dengan 120 megawatt,” ujar Pramono di RPTRA Planet Senen, Jakarta Pusat, Senin (4/5).
Ia juga menyoroti sumber polusi lain yang berasal dari aktivitas industri berbasis batu bara, termasuk di kawasan sekitar Suralaya, Cilegon, Banten, yang dinilai berdampak pada kualitas udara Jakarta.
“Dan itu kalau sudah selesai, saya akan meminta salah satu sumber utama dari polusi di Jakarta itu kan masih adanya industri yang menggunakan pembangkit listrik tenaga batubara,” kata Pramono.
“Kalau itu bisa dikurangi terutama di daerah Suralaya yang kemudian apa udaranya masuk ke Jakarta, itu akan secara signifikan mengurangi,” lanjutnya.
Selain itu, Pemprov DKI menargetkan penggunaan kendaraan listrik secara masif pada 2030. Salah satu yang disiapkan adalah pengembangan bus listrik untuk Transjakarta hingga 10 ribu unit.
“Bahkan dalam program ke depan, saya menargetkan tahun 2030 Jakarta sudah betul-betul semua mobil busnya, EV busnya, atau bus listrik yang jumlahnya kurang lebih 10.000 akan kami wujudkan,” ujar Pramono.
Saat ini, menurut Pramono, jumlah bus listrik di Jakarta sudah mencapai sekitar 460 unit dan akan terus ditingkatkan dalam pengadaan tahun-tahun berikutnya.
“Sekarang kita sudah sampai dengan tahun ini sudah 460-an dan tahun depan pengadaan untuk bus listrik dalam porsi yang lebih besar,” ucapnya.
Di sisi lain, Pemprov DKI juga tengah menangani penumpukan sampah di sejumlah titik, termasuk di Penjaringan, Jakarta Utara, yang disebut sebagai dampak dari kondisi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.
Area TPST Bantar Gebang mengalami insiden longsor sampah di Zona 4 pada Minggu (8/3). Hal itu menyebabkan pembuangan sampah ke Bantar Gebang dibatasi.
“Jadi sampah di mana saja sebagai efek dari Bantar Gebang kemarin, sekarang sedang kita tangani dan mudah-mudahan dalam satu dua hari ke depan termasuk yang di Penjaringan sudah selesai,” pungkasnya.
