Lapor COVID: 450 Kasus Corona Meninggal saat Isolasi Mandiri, Terbanyak di Jabar
·waktu baca 2 menit

Kasus pasien COVID-19 yang meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri (isoman) kini semakin banyak ditemukan. Bahkan tak hanya terjadi di Pulau Jawa saja yang menjadi episentrum penyebaran virus, kasus ini juga ditemukan di wilayah lainnya.
Kondisi ini disampaikan oleh Co-Inisiator Lapor COVID-19 Ahmad Arif yang juga redaktur Harian KOMPAS. Menurutnya sampai malam tadi, terdapat 450 kasus pasien isolasi mandiri yang meninggal dunia di seluruh Indonesia.
"Nah, ini data sementara sampai tadi malam, jadi hampir 450 pasien isoman yang terlacak dan dilaporkan meninggal di berbagai daerah di Indonesia," jelas Arif dalam diskusi berjudul 'Kolapsnya Fasilitas Kesehatan dan Kematian Pasien Isolasi Mandiri', yang ditayangkan virtual, Senin (12/7).
Berdasarkan data yang ia himpun, kasus kematian terbanyak memang terjadi di Pulau Jawa. Terbanyak di Jawa Barat, 160 kematian.
"Memang yang kami temukan yang terbanyak itu sejauh ini, ya, itu di Jawa Barat, sekitar 160 pasien isoman yang meninggal. Lalu di Yogyakarta, Banten, dan seterusnya," tambahnya.
Tak hanya di Jawa saja, temuan ini juga didapatkan di wilayah lain yang memang secara penambahan kasus tak sebanyak di Jawa. Hal ini, menurut Arif, menunjukkan bahwa penyebaran COVID-19 sudah cukup luas.
"Belakangan laporan mengenai pasien isoman yang meninggal ini sudah mulai terjadi di luar Jawa, ya. Jadi, kami juga menemukan misalnya di Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, dan di Sumatera Barat. Ya, walaupun belum seintens di Jawa, tetapi ini sebenarnya menjadi salah satu indikasi bahwa penyebaran wabah ini juga sudah intens di luar Jawa yang tentu saja harus jadi perhatian kita bersama," jelas Arif.
Dengan adanya data sebanyak lebih dari 400 orang pasien meninggal saat isolasi mandiri ini, Arif meyakini bahwa ada banyak lagi kasus-kasus serupa yang tidak terdata. Ini merupakan fenomena gunung es.
"Kami yakin ini fenomena gunung es karena tidak semua diberitakan atau terlaporkan," jelasnya.
Minimnya pemantauan kondisi pasien menjadi faktor lambatnya penanganan yang bisa ditindaklanjuti saat pasien mengalami perburukan gejala.
"Dari data-data kami menemukan bahwa pasien isoman ini meninggal karena tidak terpantau, karena terlambat dibawa dan ditangani RS karena penuh," tutup Arif.
Belum ada tanggapan dari Satgas COVID-19 terkait laporan ini.
