Laris Manis Penjualan Robot Humanoid, Bakal Gantikan Manusia?

Produksi robot humanoid berbasis artificial intelligence (AI) semakin masif. Banyak perusahaan berlomba-lomba menjual produk robot humanoid AI yang bisa membantu atau yang diproyeksikan di masa depan mampu menggantikan pekerjaan manusia.
Salah satu perusahaan yang menjual produk robot humanoid AI adalah Unitree Robotics. Perusahaan asal Hangzhou, China ini merupakan perusahaan robot global yang memproduksi robot berkaki empat (quadruped atau robot-dog) dan robot humanoid.
Selain Unitree Robotics, terdapat beberapa perusahaan lain yang memproduksi robot berbasis AI, seperti Booster, AgiBot, Kepler, hingga Tesla. Berikut adalah estimasi harga robot dari berbagai macam perusahaan.
Table Embed
Menampilkan 10 data dari 13 data
Robot | Harga Resmi (Juli 2026) | Ketersediaan | Tipe Harga |
|---|---|---|---|
Noetix Bumi | Peluncuran (Rp24,86 Juta) | Peluncuran ritel China Okt 2025; sekarang hubungi bagian penjualan | Harga peluncuran resmi |
Unitree R1 line (R1-D / AIR / standard / EDU) | Rp76,19 Juta / Rp87,03 Juta / Rp104,79 Juta / Rp186,49 Juta | Tersedia sekarang (langsung) | Resmi, tidak termasuk pajak dan pengiriman |
Booster K1 | Mulai dari Rp106,55 Juta (Geek Edition) | Terdaftar di situs resmi Booster; konfigurasi Edu dan Pro hanya melalui penawaran harga | Resmi, tidak termasuk pajak dan pengiriman |
Unitree G1 | Rp239,77 Juta | Tersedia sekarang (model dasar; EDU hanya melalui penawaran harga) | Resmi, tidak termasuk pajak dan pengiriman |
1X NEO | Rp355,22 Juta atau Rp8,86 Juta/bulan | Pra-pemesanan AS; deposit Rp3,55 Juta (dapat dikembalikan); pengiriman dimulai 2026 | Resmi |
AgiBot X2 | Rp430,53 Juta | Toko global resmi, tambah ke keranjang; biaya pengiriman tambahan Rp8,88 Juta–Rp53,28 Juta | Resmi; tidak termasuk bea masuk, pajak, dan pengurusan impor |
EngineAI T800 | Rp719,32 Juta–Rp1,44 Miliar | Pra-pemesanan; pengiriman pertama dari pertengahan 2026 | Harga regional resmi |
NEURA 4NE1 Mini | Rp385 Juta / Rp577 Juta | Reservasi; diharapkan tahun 2026 | Perkiraan harga resmi, tidak termasuk pajak |
Unitree H2 | Rp531,05 Juta | Terdaftar; ketersediaan terbatas | Resmi, tidak termasuk pajak dan pengiriman |
Kepler K2 Bumblebee | Rp618,08 Juta | Diproduksi secara massal dan dikirim menurut laporan perusahaan | Dilaporkan perusahaan, tidak ada toko publik |
Sementara itu, jika dilihat berdasarkan fungsi robotnya, harga yang tercantum pun bervariasi. Perbedaan harga terjadi tergantung pada tingkat kerumitan pemrograman robot tersebut.
Pada robot kebutuhan ritel dan layanan, misalnya, harga robot humanoid dibanderol sekitar Rp 532,8 juta hingga Rp 1,78 miliar. Robot tersebut memiliki fungsi, seperti menyapa pelanggan, pelayanan informasi, dan program pengiriman makanan.
Table Embed
Menampilkan 10 data dari 4 data
Kategori Aplikasi | Fungsi Robot | Perkiraan Harga pada 2026 |
|---|---|---|
Pendidikan & Pengembangan | Pemrograman, Pengujian Algoritma AI, Gerakan Dasar | Rp88,8 Juta – Rp355,2 Juta |
Ritel & Layanan | Menyapa Pelanggan, Layanan Informasi, Pengiriman Makanan Sederhana | Rp532,8 Juta – Rp1,78 Miliar |
Industri & Logistik | Penanganan, Pemilahan, Perakitan Terpandu di Lini Produksi | Rp1,60 Miliar – Rp4,44 Miliar |
R&D Canggih & Kustomisasi | Operasi Lingkungan Kompleks, Penanggulangan Bencana | Rp3,55 Miliar – Rp17,76 Miliar+ |
Bahkan, Unitree sempat mencatat penjualannya selama 2025 yang berhasil mencapai angka 5.500 unit. Kemudian, perusahaan seperti Agibot yang juga berasal dari China berhasil menjual robot humanoid sebanyak 5.168 unit. Sementara, merek Tesla asal Amerika Serikat mencatat penjualan robot humanoidnya sebanyak 150 unit.
Berdasarkan laporan Precedence Research, penjualan robot humanoid berbasis AI akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2025 saja penjualannya tembus Rp 32,65 triliun.
Pada 2026, penjualan robot humanoid diperkirakan mencapai Rp 38,32 triliun. Angka ini diproyeksikan meningkat hingga tahun 2034 dengan penjualan mencapai sekitar Rp 137,51 triliun.
Cerita dari Perusahaan AI
Berbeda dengan perusahaan lain, Amity Robotics, perusahaan asal Bangkok, Thailand, berfokus pada pengembangan teknologi AI untuk meningkatkan pengalaman pelanggan agar lebih mudah dan menyenangkan.
Amity Robotics tidak hanya mengembangkan AI dalam bentuk perangkat lunak (software), tetapi juga memproduksi robot dalam bentuk perangkat keras (hardware).
Produk-produk Amity Robotics umumnya ditujukan untuk industri hospitality. Robot tersebut dapat membantu pelanggan menemukan lokasi atau toko yang mereka butuhkan, sekaligus memberikan pengalaman layanan yang lebih interaktif.
Business Development Manager APAC (Asia-Pasifik) Amity Robotics, Siti Balqis, menjelaskan tujuan dari Amity sendiri fokus pada AI-concierge untuk meningkatkan pengalaman pelanggan. Bukan berfokus untuk 'menggantikan' manusia.
"Sebenarnya goal (tujuan) Amity adalah enhance customer experience (meningkatkan pengalaman pelanggan). Nah, that's why our customer... ya masih customer-facing (berhadapan dengan pelanggan). Jadi, kami tidak mencoba untuk replace human (menggantikan manusia), sama sekali tidak. Kita tidak pernah mengagungkan, 'we want to replace human'," tegas Balqis kepada kumparan, Rabu (26/8).
Memang perusahaan ini tak memproduksi robot dalam bentuk manusia (humanoid). Mereka lebih mengedepankan fungsi pemanfaatan AI secara efektif yang diikuti dengan visualisasi manusia di dalamnya.
Lebih lanjut, Balqis menjelaskan bagaimana timnya membantu pelanggan melalui formula robot AI yang dimiliki Amity Robotics.
"Nah, terus enhance customer-nya seperti apa? Jadi, menjawab pertanyaan FAQ, inquiries. At the same time, ya, directory (arah). Misalnya, customer nanya, 'aduh, bingung mau makan makanan apa', kita akan kasih rekomendasi list restoran tenant di mal tersebut," kata Balqis.
Tak hanya di mal, robot Amity juga kerap dimanfaatkan di tempat-tempat seperti hotel, bandara, rumah sakit, kantor, hingga smart city seperti di Timur Tengah (Middle East).
Amity Robotics juga menekankan bahwa AI atau robot yang mereka produksi hadir untuk mengurangi beban kerja (workload) manusia. Hal ini yang kemudian membuat Amity yakin produknya tak akan menggantikan sebuah pekerjaan manusia.
"Atau seperti di hotel, banyak customer itu menanyakan pertanyaan repetitif. Kalau di hotel pun, bahasanya terbatas yang bisa mereka gunakan, mungkin cuma bisa satu atau dua bahasa saja (untuk kru-nya). Tujuan kita adalah reduce (mengurangi) workload mereka. Jadi, tim hotel bisa lebih fokus pada human touch. Pertanyaan-pertanyaan umum dan repetitif bisa dijawab robot AI," jelas Balqis.
Balqis juga menjelaskan bahwa produknya menyajikan berbagai model robot AI, salah satu yang terbaru adalah ARC Move. Nantinya, robot ini bisa bergerak dan mengantarkan langsung customer ke tempat atau tujuan yang ingin dicari.
Harga yang ditawarkan pun bervariasi. Balqis menyebut sistem pembeliannya adalah langganan (subscription-based). Menurutnya, customer tidak perlu lagi membayar add-on maupun hidden cost (biaya tersembunyi).
"Jadi kita jualnya itu end-to-end. Subscription-based. Kita menjual tidak hanya hardware atau software-nya doang, tapi termasuk semua software, hardware, maintenance, customer success, dan support. ," jelas Balqis.
Ia menyebut ARC Move dibanderol dengan harga USD 1.500 atau setara Rp 26,5 juta per bulan. Sementara, untuk robot ARC Base atau yang sudah banyak diperjualbelikan ke berbagai negara berada di angka USD 750 atau Rp 13,2 juta per bulan.
Harus Berporos pada Kebutuhan Manusia
Menurut founder PIKAT Demokrasi (Pusat Inovasi Kecerdasan Artifisial dan Teknologi untuk Demokrasi), Damar Juniarto, persoalan robot humanoid AI ini adalah pengembangannya yang dikhawatirkan tidak human-centric design (tidak berporos pada kebutuhan manusia).
"Apa yang jadi persoalan? Sebetulnya ada banyak persoalan. Pertama, kalau dari saya dan teman-teman di Etika Teknologi, teknologi ini kan sebetulnya diciptakan untuk membantu manusia. Problem yang selama ini sering kita temui adalah desainnya itu tidak berbasis pada human-centric design (tidak berporos pada kebutuhan manusia). Lebih sering pada poros efisiensi, misalnya, atau poros teknologi itu sendiri, mereka ingin tahu seberapa jauh mereka bisa meniru atau menggantikan manusia," jelas Damar kepada kumparan, Selasa (27/8).
Ia juga menilai bahwa sebagai produsen teknologi yang semakin maju, seharusnya perusahaan bisa mengutamakan produk yang membantu manusia, bukan menggantikannya. Ia menambahkan bahwa jika demikian, batasan tentang human-centric design seharusnya diterapkan oleh para produsen, dengan prinsip dasar bahwa robot AI tidak boleh dipakai untuk menggantikan, melainkan untuk membantu atau meng-assist manusia.
"Maka kalau tadi ada teman yang bekerja di perusahaan AI mengatakan arahnya ke sana [mengurangi beban kerja], ya itu masih align. Cuma kalau tanpa pengawasan, bagaimana? Human-centric design ini hanya terjadi kalau memang ada regulasinya dan ada pengawasannya," sambungnya.
Selain itu, persoalan lain pada robot humanoid AI yang disebutkan Damar ada pada risiko keamanan siber (cybersecurity).
"Lalu tantangan yang paling coba saya bawa misalnya adalah risiko cybersecurity. Robot-robot ini membutuhkan AI dan membutuhkan sistem jaringan internet. Kalau ada risiko di-hack robotnya, seperti itu, seberapa jauh kita siap untuk memastikan bahwa robot-robot ini nanti tidak mencelakai manusia? Ini juga perlu dipikirkan," tegas Damar.
Menurut Damar, pertanyaan-pertanyaan ini perlu diperhatikan lebih lanjut karena berkaitan dengan ancaman terhadap keselamatan manusia. Ia mempertanyakan siapa yang harus bertanggung jawab jika sebuah robot menyebabkan kecelakaan hingga berujung pada kematian seseorang, sementara jika risiko itu dilakukan oleh manusia, hukum pidana bisa langsung diterapkan.
"Tapi kalau ini dilakukan oleh robot, masa robotnya yang masuk penjara? Kan itu pertanyaan konyol yang harus kita jawab dengan cepat. Risiko cybersecurity atau cybersecurity risk itu ya harus dipikirkan dalam konteks sekarang," ujarnya.
