Latihan Rafting Berujung Petaka, 2 Mahasiswa Hilang di Sungai Cimanuk Indramayu
·waktu baca 3 menit

Peristiwa nahas terjadi di Bendungan Karet Lohbener atau yang dikenal dengan Bendungan Karet Bangkir, Kabupaten Indramayu, Sabtu (8/11).
Tujuh mahasiswa Politeknik Negeri Indramayu (Polindra) terseret arus deras saat melakukan kegiatan susur sungai menggunakan perahu karet.
Dari tujuh mahasiswa yang ikut dalam kegiatan tersebut, lima di antaranya berhasil diselamatkan warga sekitar, sementara dua lainnya hingga kini masih hilang.
Kegiatan itu diketahui merupakan bagian dari latihan rafting yang digelar oleh Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Polindra. Rombongan mahasiswa itu berangkat dari Desa Legok, Kecamatan Lohbener, untuk menyusuri aliran Sungai Cimanuk menggunakan perahu karet.
Namun, sekitar pukul 12.30 WIB, saat perahu melewati Bendungan Karet Bangkir, arus deras membuat perahu tak terkendali. Perahu sempat berputar-putar di pusaran air sebelum akhirnya terbalik dan menumpahkan lima mahasiswa ke sungai.
Sukarto (57), ayah Muhammad Lana Wiratno (20), salah satu korban yang belum ditemukan, mengaku terkejut saat menerima kabar anaknya hilang. Warga Desa Terusan, Kecamatan Sindang itu langsung menuju lokasi setelah mendapat informasi dari tetangganya.
“Masalah kegiatannya saya enggak tahu. Dia pulang dari Kuningan semalam, pagi-pagi sudah enggak ada di rumah. Cuma bilang ke pamannya, pulangnya sore,” ungkap Sukarto saat ditemui kumparan di lokasi pencarian, Sabtu (8/11) malam.
Ia mengaku anaknya tidak pernah meminta izin untuk mengikuti kegiatan tersebut. “Enggak izin ke saya. Saya juga enggak tahu ini kegiatan kampus atau kegiatan sendiri. Tapi kalau sendiri, dia enggak punya perahu karet. Kan yang punya perahu itu kampus,” katanya.
Sukarto berharap pihak kampus dan panitia kegiatan dapat memberikan penjelasan.
“Saya pengin tahu tanggung jawabnya bagaimana ini panitianya. Saya tanya ke sana-sini enggak ada yang respons,” ujarnya dengan nada kecewa.
Harapannya kini hanya satu, agar anaknya segera ditemukan dalam kondisi apa pun. “Saya penginnya anak saya ditemukan dulu, apa pun keadaannya. Orang tua mana yang tega anaknya hilang di sungai,” ucapnya lirih.
Arus Sungai Masih Deras
Sementara itu, Koordinator Basarnas Pos Cirebon, Eddy Sukamto, menjelaskan bahwa kecelakaan terjadi ketika arus Sungai Cimanuk tengah deras.
“Sekitar jam 12.30, tujuh mahasiswa melakukan rafting. Lima di antaranya tercebur, dua masih di atas perahu. Dari lima yang tercebur, tiga selamat, dua masih dalam pencarian,” jelas Eddy.
Menurutnya, para mahasiswa memulai perjalanan dari Legok menuju hilir sungai. Namun kondisi arus yang tinggi dan deras membuat perahu kehilangan kendali.
Untuk pencarian hari pertama, Eddy menyebut tim SAR masih berfokus pada pemantauan situasi dan koordinasi dengan pihak pengelola bendungan.
“Karena debit air sangat tinggi dan arus deras, kami akan berkoordinasi dengan pihak setempat untuk menutup bendungan sementara agar debit air berkurang. Setelah itu baru kami lanjutkan pencarian,” ujarnya.
Pantauan kumparan hingga Sabtu malam, proses pencarian dihentikan oleh tim gabungan dari Basarnas, BPBD, dan warga sekitar karena derasnya arus sungai dan akan dilanjutkan pada besok hari Minggu (9/11/2025).
