Lautan Massa Padati Bundaran UGM: Rakyat Bersatu Tak Bisa Dikalahkan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 1 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Aliansi Jogja memanggil menggelar aksi demonstrasi di Bundaran UGM, Senin (1/9/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Aliansi Jogja memanggil menggelar aksi demonstrasi di Bundaran UGM, Senin (1/9/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Lautan mahasiswa dan elemen masyarakat memadati Bundaran UGM, Kabupaten Sleman, Senin (1/9). Mereka yang tergabung dalam Aliansi Jogja Memanggil menggelar aksi demonstrasi merespons banyak hal terkait kondisi negeri.

Beberapa mahasiswa juga tampak mengenakan almamater. Mereka dari berbagai kampus menyampaikan orasinya. Demikian pula dengan elemen masyarakat lainnya.

"Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan," kata salah satu orator.

Aliansi Jogja memanggil menggelar aksi demonstrasi di Bundaran UGM, Senin (1/9/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Dalam aksi damai kali ini lokasi Bundaran UGM dipilih karena salah satu pertimbangannya menghindari aksi provokator jika digelar di Malioboro.

"Kenapa lokasinya di Bundaran UGM, yang pertama, ada isu yang cukup digoreng, kami juga antisipasi untuk melakukan aksi di Malioboro karena takutnya ada provokatif, entah kita enggak tahu itu dari mana," kata Bung Kus perwakilan Jogja memanggil.

Aliansi Jogja memanggil menggelar aksi demonstrasi di Bundaran UGM, Senin (1/9/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Jangan sampai pedagang di Malioboro terganggu aktivitasnya karena provokator.

"Jangan sampai teman-teman pedagang kaki lima yang mencari nafkah di Malioboro itu, ya, terganggu aktivitas ekonomi untuk mencukupi kehidupan mereka sehari-hari itu, karena ada aksi dan lain sebagainya, kira-kira seperti itu," jelasnya.

Aliansi Jogja memanggil menggelar aksi demonstrasi di Bundaran UGM, Senin (1/9/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Dalam aksi ini massa mengkritisi kebijakan Presiden Prabowo Subianto seperti efisiensi anggaran pendidikan, PPN 12 persen, soal naiknya tunjangan DPR beberapa waktu lalu yang menyebabkan amarah publik, hingga represifitas aparat.