LBH Duga Polisi Siksa Remaja hingga Tewas, Keluarga Korban Bantah soal Tawuran

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jembatan di kawasan By Pass yang disebut-sebut lokasi Afif Maulana melompat. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Jembatan di kawasan By Pass yang disebut-sebut lokasi Afif Maulana melompat. Foto: kumparan

Suasana duka masih menyelimuti kediaman Afif Maulana di Jalan Panyalai, Kampung Baru Nan XX, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), Senin (24/6). Afif, pelajar SMP itu tewas diduga disiksa polisi karena terlibat aksi tawuran.

Polda Sumbar telah menegaskan kekerasan yang dialami Afif tidak terjadi. Jasad bocah 13 tahun ini sebelumnya ditemukan tewas di bawah jembatan aliran Batang Kuranji, Kota Padang pada 9 Juni lalu.

Polisi menyebut, Afif diduga melompat dari atas jembatan karena takut dari kejaran polisi yang berpatroli pada dini hari itu untuk mencegah aksi tawuran.

Afif merupakan buah hati dari pasangan suami istri Afrinaldi (36 tahun) dan Anggun Angriani (35). Keduanya kini tampak mencoba untuk tegar atas kepergian putra sulung tersebut yang penuh kejanggalan.

Afrinaldi dan Anggun Angriani, orang tua Afif Maulana. Foto: kumparan

Keluarga tak yakin Afif terlibat tawuran. Begitupun dengan kabar tewasnya Afif karena melompat dari atas jembatan. Kematian Afif, dinilai keluarga penuh kejanggalan.

"Kami meminta polisi membuka kasus ini secara terbuka, jujur dan transparan. Kami harapkan keadilan, dan pelaku kekerasan dihukum," kata ayah Afif, Afrinaldi saat ditemui kumparan, Senin (24/6).

"Kami tidak terima kronologi yang disampaikan pihak kepolisian. Karena banyak kejanggalan. Tidak masuk akal bagi kami kalau anak saya itu melompat dan anak saya ikut tawuran," sambungnya.

Afrinaldi mengungkapkan, dari keterangan rekan Afif yang memboncengi, anggota polisi menendang sepeda motor yang dikendarainya hingga terjatuh.

"Kalau seandainya anak saya lompat, itu melompat sebelah kiri jembatan harusnya ditemukan di sebelah kiri jembatan. Ini ditemukan di kolong jembatan, di tengah," ujarnya.

Lalu, lanjut Afrinaldi, apabila jatuh dari ketinggian jembatan tentunya terdapat tulang-tulang yang patah atau mungkin luka di kepala. Namun, kondisi itu tidak ada saat Afif ditemukan.

"Bercak darah tidak ada. Keterangan polisi bilang tulang rusuk yang patah. Polisi bilang penyebab kematian tulang rusuk patah, robek paru-paru," ungkapnya.

Foto Afif Maulana. Foto: kumparan

Jarang Keluar Rumah

Menurut keluarga, Afif sangat jarang keluar rumah pada malam hingga dini hari. Pada saat kejadian, Afif diketahui keluar rumah perdana hingga larut malam karena nobar pertandingan sepak bola.

Afrinaldi mengaku sempat menghubungi anaknya pukul 20.00 WIB. "Malam itu saya telepon jam 8 malam. Afif bilang lagi di kawasan cengkeh. Jam 11 malam saya video call lagi, Afif sebut sedang di rumah teman. Mau nobar pertandingan sepakbola. Saya tanya jam berapa pulang, jam 2 dini hari katanya," imbuhnya.

Afrinaldi pun berpesan kepada anaknya untuk tidak usah pulang jika sampai larut malam. Karena ia khawatir anaknya dibegal.

"Saya bilang jangan pulang, nanti dibegal. Tidur saja di sana. Afif lalu WhatsApp, kalau malam sekali tidur di pos ronda saja. Saya bilang kunci stang sepeda motor. Saya tidak ada kepikiran akan tawur, karena tidak pernah terdengar anak saya ini ikut tawur," tegasnya.

Menurut Afrinaldi, anaknya itu biasa menghabiskan waktu di rumah. Hanya sesekali ke luar rumah, itu pun untuk bermain futsal.

"Kalau Afif itu sehari-harinya di luar jam sekolah di rumah saja. Di rumah main hp, sesekali keluar ke rumah saudara. Terus main futsal. Hobinya olahraga. Anaknya baik, di sekolah rajin. Pergaulan di lingkungan rumah, seperti anak lainnya. Baik. Memang dia lebih suka di rumah," ujar Afrinaldi.

"Saya tidak yakin anak saya terlibat tawuran. Saya tidak pernah lihat anak saya nakal. Afif juga penakut orangnya," sambungnya.

Kediaman Afif Maulana, bocah yang tewas diduga disiksa polisi. Foto: kumparan

Kapolda Beri Penjelasan

Kapolda Sumbar Irjen Pol Suharyono mengaku pihaknya menjadi korban trial by the press. Dugaan kekerasan terhadap Afif yang dilakukan oknum polisi tak ada bukti maupun saksi.

"Kami luruskan di sini, bahwa telah viral di media massa justifikasi seolah-olah polisi di sini bertindak salah. Polisi telah menganiaya seseorang sehingga mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain. Itu tidak ada saksi dan tidak ada bukti sama sekali," kata Suharyano.

Ia mengatakan dalam penyelidikan, tidak ada nama Afif Maulana dari 18 remaja yang diamankan karena keterlibatan tawuran. Namun diakuinya, rekan Afif bernama Aditia, mendengar ajakan untuk melompat ke sungai.

"Ini cerita sebenarnya. Karena ini kesaksian kami ambil dari kawan-kawan yang juga ikut serta dalam tawuran itu. Sehingga juga disaksikan aparat dan mereka bahwa Afif Maulana tidak termasuk yang dibawa ke Polsek maupun Polda," kata dia.

Meski begitu, Suharyano mengaku telah memeriksa 30 personel yang melakukan patroli dan pencegahan aksi tawuran pada malam itu. Ia menegaskan akan bertanggung jika memang terbukti ada tindakan oknum anggota yang menyalahi SOP.

"Andai kata ditemukan bukti baru yang kemudian ada oknum anggota yang bertindak tidak sesuai SOP, pasti kami akan menegakkan hukum terhadap anggota kami yang menyimpang dari SOP itu. Tetapi sejauh ini, anggota kami sudah menegakkan hukum maupun pencegahan ini dengan benar," pungkasnya.