LBH Jakarta soal Anak STM Turun ke Jalan: Semua Berontak, Semua Marah

kumparanNEWSverified-green

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konferensi Pers LBH Jakarta terkait Demo Mahasiswa 24 September. Foto: Ricky Febrian/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Konferensi Pers LBH Jakarta terkait Demo Mahasiswa 24 September. Foto: Ricky Febrian/kumparan

Dalam dua hari berturut-turut, ribuan mahasiswa di berbagai kota berunjuk rasa menolak sejumlah rancangan undang-undang (RUU). Gerakan #ReformasiDikorupsi hingga #GejayanMemanggil berhasil mengguncang Gedung DPR.

Namun hari ini, Rabu (25/9), giliran pelajar SMA dan SMK/STM turun ke jalan. Mereka mengaku ingin berdemo melanjutkan perjuangan kakak-kakak mereka, alias para mahasiswa.

Namun, aksi para pelajar berlangsung ricuh sejak siang hari. Melihat hal ini, Alghifani, perwakilan dari LBH Jakarta, menilai kericuhan itu sebagai bentuk pemberontakan dan amarah masyarakat atas aturan yang tak melibatkan masyarakat.

Kericuhan massa aksi siswa STM di sekitar Gedung DPR, Jakarta, Rabu (25/9/2019). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

“Saya pikir semua berontak, semua marah, terkait dengan kebijakan negara yang muncul tiba-tiba dan tidak menghiraukan aspirasi masyarakat. Dan mengancam demokrasi kita, mengancam kebebasan sipil kita,” kata Alghifani dalam konferensi pers di LBH Jakarta, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (25/9).

kumparan post embed

Ia menyadari, kacaunya RUU, seperti RUU KUHP dan Revisi UU KPK sudah dirasakan di kalangan pendidikan multilevel. Artinya, tidak hanya kalangan mahasiswa saja yang terganggu dengan adanya RUU yang kontroversial ini.

“Artinya persoalan yang kita hadapi hari ini persoalan serius, semua bersuara di semua tingkatan umum, semua isu, petani, nelayan, mahasiswa, buruh, saatnya pemerintah dengar aspirasi rakyat,” ucap Alghifani.

Kericuhan massa aksi siswa STM di sekitar Gedung DPR, Jakarta, Rabu (25/9/2019). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Alghifani meminta pemerintah tidak hanya menunda RUU. Namun, harus membatalkan RUU tersebut. Sedangkan untuk RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS), Alghifani setuju segera disahkan.

Meski sebagian besar pelajar memiliki alasan beragam turun ke jalan, seperti hanya sekadar unjuk rasa, menolak pemindahan ibu kota, dan tak tahu soal RUU, Alghifani tetap menaruh hormat kepada para pelajar STM itu.

“Menyampaikan ini, ya, tadi sudah kita sampaikan bahwa kita bangga, kita taruh rasa hormat. Tapi kami juga khawatir, akan adanya aksi represif dari aparat lagi,” tutup Alghifari.

Massa aksi siswa STM di rel kereta Palmerah, Jakarta, Rabu (25/9/2019). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan