kumparan
News23 Mei 2020 12:23

Lebaran Muram Para Tenaga Medis

Konten Redaksi kumparan
Ilustrasi tenaga medis
Tenaga medis bertaruh nyawa untuk menyembuhkan para pasien corona. Ilustrasi: Maulana Saputra/kumparan
Ramadhan para tenaga medis bukan Ramadhan biasa. Berjibaku di garda depan corona sambil berpuasa bukan soal gampang. Lebaran mereka pun bakal sunyi. Sejumlah perawat memilih “mengurung diri” demi menjaga keluarga mereka sendiri.
Bulan Ramadhan kali ini adalah salah satu yang terberat bagi Aprilia Puspita Ningrum. Ia yang bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Pusat Infeksi Sulianti Saroso kebagian tugas di ruang isolasi.
Tuntutan pekerjaan memaksanya mengenakan alat pelindung diri level tiga. Sehari bisa tiga jam tubuhnya dibalut hazmat. Sementara masker N-95 yang membekap mulut dan hidungnya, menurut April, bukan main panasnya.
Peluhnya mengucur deras setiap kali melepas APD. Ancaman dehidrasi menjadi tantangan paling paling berat. “Kalau habis dari (menangani) pasien di hari biasa, kita bisa langsung makan minum. Sekarang karena puasa, enggak bisa,” kata April.
Beberapa kali pula ia terpaksa tak bisa langsung berbuka ketika azan Magrib berkumandang. Biasanya ini terjadi ketika ia masih merawat pasien. Ia dan rekan-rekannya harus memberi makan pasien dan memastikannya meminum obat dulu.
“Mungkin bisa sampai setengah sampai jam 18.30 di ruang isolasi,” ucap April.
Begitu keluar pun, para perawat tak bisa langsung berbuka. Mereka harus mengikuti prosedur sterilisasi. Pertama-tama, membuka pakaian hazmat. Selanjutnya, mandi. Barulah mereka bisa membatalkan puasa.
Tri Hartono kelelahan diduga akibat dehidrasi
Tri Hartono, seorang tenaga medis yang kelelahan, diduga akibat dehidrasi. Foto: Twitter/@sayangbolekok
Sejawat April di rumah sakit yang sama, Nurdiansyah, punya cerita serupa. Baginya, di luar bulan Ramadhan saja, bekerja menggunakan hazmat beratnya empat kali lipat dibanding melayani pasien biasa.
Nurdiansyah menuturkan, masing-masing sif kerja punya tantangan sendiri. Saat bertugas sif malam, terkadang datang momen ketika pasien datang ke rumah sakit berdekatan dengan waktu sahur.
Para perawat harus segera menuntaskan sahur dan sigap menggunakan APD untuk melayani sang pasien. Bila kondisinya tak memungkinkan, mereka harus pintar-pintar mengelola sumber daya.
Caranya, dengan bergantian masuk ke ruangan isolasi. “Yang penting semua dapat sahur,” kata pria yang akrab disapa Ian ini.
Yang repot adalah kalau pekerjaan sedang banyak-banyaknya sejak pagi. Ian pernah masuk ke ruang isolasi sejak subuh sampai pagi terang.
“Wah, kalau gitu rasanya energi sahur langsung habis. Jam tujuh pagi saja sudah lemas,” kata Ian.
SQUARE, Ilustrasi tenaga medis
Tenaga medis bertaruh nyawa. Ilustrasi: Maulana Saputra/kumparan
Suhu dingin AC, ujar Ian, tak terasa saat mengenakan APD lengkap. Bila sudah kelelahan, perawat biasanya langsung ke hotel yang disediakan bagi tenaga kesehatan di garda depan penanganan COVID-19.
“Sudah, rebahan saja sambil nunggu buka,” tutur Ian.
Yang pasti berubah adalah kebiasan para tenaga kesehatan menjelang Idul Fitri. Demi keamanan keluarga besarnya, Ian memilih tak menemui orang tua dan mertuanya.
Padahal, orang tua Ian tinggal di Bekasi, tak terlalu jauh dari tempatnya berdinas. Sementara rumah mertuanya di Tangerang, dekat dengan kontrakan tempat ia dan istrinya tinggal.
Ian sadar degan risiko tenaga medis yang menangani pasien COVID-19. Ia khawatir kalau-kalau membawa virus itu dan menularkannya ke orang tua.
Ian juga berencana tak bersilaturahmi dengan tetangga sekitar rumah. “Kalau, misalnya, tetangga tiba-tiba sakit COVID, takutnya kita yang disalahin,” ujar Ian getir.
Dia tak ingin ada stigma perawat membawa virus ke lingkungan tempat tinggal mereka. Apalagi, beberapa waktu lalu banyak cerita perawat diusir dari kontrakan dan kosan.
April salah satu korbannya. Pemilik indekos tempatnya tinggal meminta dia tak memperpanjang sewa.
Urusan silaturahmi April dengan keluarganya di Malang, Jawa Timur, Idul Fitri, juga berantakan. “Biasanya sehabis lebaran atau sebelum lebaran. Kalau sekarang kayak gini nggak bisa pulang.”
April bertemu orang tuanya terakhir kali Desember 2019. Hanya dua bulan sebelum kasus virus corona pertama kali terdeteksi. Biasanya, tiga bulan sekali dia pulang ke Malang.
Sekarang, selain ada larangan pemerintah untuk pulang kampung, pekerjaannya juga tak bisa ditinggalkan. April sudah menyampaikan tak bisa pulang kampung ke orang tua. Keluarganya memahami.
“Melihat kondisi kayak gini—mereka kan juga memantau lewat berita kalau pasien bertambah—mereka paham, rumah sakit (tempat) saya kerja adalah rumah sakit rujukan bagi pasien COVID-19,” kata April.
Ia, seperti para tenaga medis lain, berharap pandemi segera berakhir dan masyarakat bisa disiplin agar kasus COVID-19 bisa ditekan.
***
Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona.
Yuk, bantu donasi untuk atasi dampak corona.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan