Lebih dari 1.100 Orang di Spanyol Meninggal Akibat Gelombang Panas

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 1 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Para wisatawan menyejukkan diri di air mancur saat gelombang panas melanda Ronda, Spanyol, Minggu (17/8/2025). Foto: JORGE GUERRERO / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Para wisatawan menyejukkan diri di air mancur saat gelombang panas melanda Ronda, Spanyol, Minggu (17/8/2025). Foto: JORGE GUERRERO / AFP

Lebih dari 1.100 kematian di Spanyol terkait dengan gelombang panas yang menghantam selama 16 hari. Laporan itu dirilis Institut Kesehatan Carlos III pada Selasa (19/8).

Jumlah pasti kematian terkait gelombang panas adalah 1.149. Jumlah kematian dihitung selama periode 8-13 Agustus.

Menurut data yang dirilis The New York Times pada periode tertentu suhu panas di beberapa wilayah di Negeri Matador menyentuh 42 sampai 44 derajat celsius.

Pada rentan waktu tersebut suhu di Spanyol masuk kategori sangat panas. Pemerintah baru mencabut status berakhirnya gelombang panas pada Senin (18/8).

Warga berjalan menggunakan payung saat gelombang panas melanda Ronda, Spanyol, Minggu (17/8/2025). Foto: JORGE GUERRERO / AFP

Institut tersebut menggunakan data penghitungan dari sistem Pemantauan Mortalitas dibandingkan dengan tren historis.

Dikutip dari Reuters, institut itu memasukkan faktor eksternal seperti data cuaca untuk menilai kemungkinan adanya lonjakan kematian.

Sebenarnya sistem Pemantauan Mortalitas belum bisa memastikan penyebab langsung antara kematian dan suhu ekstrem. Tapi, data itu memberikan perkiraan kematian paling andal yang mana suhu panas menjadi faktor penentu.

Sedangkan pada Juli 2025 lalu Institut Carlos III mengaitkan 1.060 kematian terkait suhu panas terjadi di Spanyol. Jumlah itu melonjak 50 persen dari setahun sebelumnya.

Menurut para ahli iklim pemanasan global memicu gelombang panas yang lebih lama, intens, dan sering di seluruh dunia.