Lebih dari 100 Ribu Penduduk di Meksiko Masuk ke Dalam Daftar Orang Hilang
ยทwaktu baca 2 menit

Lebih dari 100.000 orang saat ini tercatat dalam daftar orang hilang di Meksiko. Jumlah daftar orang hilang ini meroket seiring meningkatnya penyalahgunaan narkoba yang telah melanda negara itu selama 16 tahun.
Badan Daftar Orang Hilang Nasional Meksiko yang telah melacak orang hilang sejak 1964, melaporkan hingga Senin (16/5/2022) sejumlah 100.012 orang tidak diketahui keberadaannya. Sekitar 75 persen di antaranya berjenis kelamin laki-laki.
Orang hilang pertama yang dilaporkan di Meksiko berawal dari terjadinya perang antara pihak berwajib melawan kaum sayap kiri yang berlangsung selama 20 tahun lamanya, pada 1960-an hingga 1980-an.
Meksiko telah mencatat lebih dari 340.000 kematian yang sebagian besar dikaitkan dengan kelompok kejahatan terorganisir sejak 2006, ketika aksi pemberantasan narkoba oleh pihak berwajib diluncurkan secara besar-besaran di negara itu.
Komite Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada April lalu memperingatkan Meksiko sedang menghadapi tren meningkatnya penghilangan orang secara paksa yang mengkhawatirkan.
"Kelompok kejahatan terorganisir terutama bertanggung jawab atas penghilangan ini dengan berbagai tingkat partisipasi, persetujuan atau kelalaian oleh pihak pemerintah," kata pihak Komite PBB, dikutip dari AFP.
Pemerintah Meksiko juga melaporkan sekitar 37.000 mayat yang tidak teridentifikasi identitasnya masih berada di layanan forensik, meskipun organisasi sipil menyebut jumlahnya secara faktual di lapangan bisa jauh lebih tinggi.
Pihak berwenang pun berupaya untuk memperkukuh database orang hilang dengan sampel genetik, meskipun banyak mayat telah dikubur tanpa identitas, sebab kapasitas kamar mayat yang sudah penuh di negara itu.
"Hilangnya (orang-orang di Meksiko) itu mewakili tragedi kemanusiaan dengan proporsi yang sangat besar," kata Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Michelle Bachelet.
"Tidak ada upaya yang harus dilakukan untuk mengakhiri pelanggaran hak asasi manusia dan pelanggaran yang luar biasa luasnya ini dan untuk membela hak korban atas kebenaran, keadilan, kerusakan, dan jaminan bahwa (peristiwa ini) tidak akan terulang kembali," sambung Bachelet.
