Ledakan SMAN 72 Jakarta: Ancaman Baru Fanatisme Kekerasan di Sekolah
·waktu baca 12 menit
Wajahnya hampir tak dapat dikenali, bahkan oleh orang tuanya sendiri. Di ruang IGD Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) Cempaka Putih, siswa kelas X SMAN 72 Jakarta, LH, terbujur dengan tubuh penuh luka.
Bibirnya bengkak, sementara kulit wajahnya sebagian koyak dan terkena luka bakar. Luka bakar juga menyelimuti lengan dan tubuh LH sisi kiri. Yang terparah adalah bagian lutut kirinya yang robek.
Beberapa waktu sebelum LH ditindak ke RSIJ, Andri dan istrinya menerima telepon genting dari sekolah. Keduanya diminta segera menuju RSIJ setelah ada ledakan di sekolah anaknya. Mereka tiba di RSIJ tanpa mengetahui kondisi LH.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Keraguan sempat menyelimuti Andri ketika dokter memperlihatkan foto dan video kondisi LH yang mengalami luka parah. Wajah putranya nyaris tak bisa dikenali lagi. Namun, semua keraguan sirna ketika sang ibu mengenali celana pendek yang dipakai oleh anak yang sedang mengerang kesakitan itu. Celana itulah yang menjadi penanda bahwa anak tersebut benar LH.
“Boxer yang dia (LH) pakai, mamanya mengenali, ‘Iya, ini anak kita’...Akhirnya, ya mamanya langsung nangis. Dia (istri) langsung duduk di lantai, enggak bangun-bangun, nangis,” kata Andri bercerita pada kumparan di Jakarta, Kamis (13/11).
Di tengah kepanikan itu, Andri berusaha mencari tahu apa yang terjadi pada LH. Dari informasi yang diterima Andri, ketika ada ledakan di dalam masjid SMAN 72 –tepat saat para siswa bersiap salat Jum’at– posisi LH persis berada di sebelah kanan bom. Akibatnya, LH beserta 95 orang lainnya menjadi korban.
“Bomnya persis di samping kirinya dia (LH)” ucap Andri yang baru saja merujuk anaknya ke RSCM untuk penanganan lebih lanjut.
Hasil analisis rekaman CCTV oleh penyidik Polda Metro Jaya mengarah pada seorang siswa kelas XII SMAN 72 berinisial FN sebagai terduga pelaku. Beberapa jam sebelum ledakan, FN, yang kini berstatus anak berkonflik dengan hukum (ABH), terekam memasuki sekolah dengan membawa dua tas: sebuah tas ransel merah di punggung dan tas jinjing biru di tangan kirinya, yang diduga berisi bom. FN diduga memindahkan bom ke tas ransel merah, dan membawanya masuk ke masjid sekitar pukul 11.43 WIB.
Lalu sekitar pukul 12.02 WIB, FN terlihat melepas seragam dengan memakai celana hitam dan kaos putih. Kali ini, ia terpantau berada di lorong masjid, sembari menggendong senjata mainan di tangan kanannya. Senjata itu bertuliskan nama-nama pelaku teror dunia seperti Brenton Tarrant (penyerang masjid di Selandia Baru), Alexandre Bissonnette (penyerang masjid di Kanada), dan Luca Traini (ekstremis penembak migran di Italia). Sedangkan tangan kirinya diduga memegang remote untuk meledakkan bom.
Beberapa detik kemudian, kamera menangkap kilatan cahaya merah dari dalam masjid—momen ketika ledakan pertama mengguncang dan menghantam LH secara langsung, serta melukai puluhan siswa lainnya.
Setelah meledakkan bom, FN berlari menjauh dari masjid dan berupaya mengaktifkan bom lain berpemicu sumbu. Bom yang akhirnya mengakibatkan luka di bagian kepalanya sendiri.
Dari peristiwa itu, polisi menyebut FN diduga membawa 7 bom: empat bom yang meledak dan tiga masih aktif. Dua di antara bom itu menggunakan pemicu remote, sementara dua lainnya memakai sumbu.
Teror Baru yang Ancam Masa Depan Remaja
Belum setengah tahun LH menginjak bangku SMA, akan tetapi peristiwa teror ini berpotensi merenggut masa depannya. Saking parahnya mengalami luka bakar, sudah dua operasi yang ia jalani di RSIJ, di antaranya ialah cangkok kulit (skin graft).
Andri khawatir perawatan medis dan pemulihan anaknya tak mendapat jaminan dari pemerintah dalam jangka panjang. Ia juga was-was masa depan LH terganggu karena luka fisik dan trauma yang membekas.
“Masalah masa depan, contoh, kayak cita-cita dia mau jadi apa. Jadi masa depan dia itu, saya takut (terenggut) karena keadaan dia keterbatasan nanti,” kata Andri.
Kasus SMAN 72 membuat para peneliti terorisme melihat adanya pola yang berbeda dari ancaman ekstremisme anak muda di Indonesia. Jika sebelumnya aparat lebih sering berfokus pada jaringan keagamaan seperti JI (Jamaah Islamiah) atau JAD (Jamaah Ansharut Daulah), kini muncul “spektrum ancaman baru” yang lebih cair—tanpa doktrin agama, tanpa organisasi, dan tanpa struktur rekrutmen.
Pakar terorisme Universitas Indonesia (UI), Muhamad Syauqillah, menyebut meskipun Indonesia masih memiliki risiko ekstremisme berbasis agama, kini mulai terlihat ancaman ekstremisme baru seperti neo-Nazi, white supremacy, hingga ideologi far-right yang bercampur dengan budaya internet.
“Beberapa pihak menyebut ini sebagai fenomena hibridisasi dari ideologi. artinya me-mix. Enggak kelihatan ini ideologinya apa, dicampur-campur kayak gado-gado,” kata Syauqillah.
Meski simbol-simbol yang ditiru pelaku FN berasal dari aktor teror global seperti Brenton Tarrant atau Alexandre Bissonnette, Syauqillah menegaskan bahwa pelaku bukan penganut ideologis, melainkan meminjam inspirasi metode kekerasannya saja.
“Dia kecewa, dia di-bully. Inspirasi kekerasannya saja yang diambil,” ujarnya.
Polisi menemukan sejak awal tahun, FN aktif mengakses situs-situs yang menampilkan kekerasan ekstrem—mulai dari kecelakaan brutal hingga kekerasan massal.
Polisi menyebut ada enam figur yang menginspirasi FN mengebom SMAN 72 Jakarta–dari Eric Harris dan Dylan Klebold (pembantaian di SMA Columbine, AS, 1999), Dylann Roof (Charleston, AS, 2015), Alexandre Bissonnette (serangan gereja Quebec, Kanada, 2017), Vladislav Roslyakov (Rusia, 2018), hingga Brenton Tarrant (serangan di masjid Christchurch, Selandia Baru, 2019).
Meski demikian, polisi belum membeberkan apa situs atau komunitas online tempat FN menemukan referensi kekerasan itu. Namun menurut Syauqillah, FN diduga terhubung dengan komunitas True Crime Community (TCC).
TTC merupakan subkultur online yang kerap mengagungkan pelaku penembakan sekolah dan membagikan konten gore (kesadisan) sebagai hiburan atau meme internal komunitas .
“Seringkali orang yang melakukan aksi kekerasan itu memposting aksi kekerasannya di situ [grup] sebagai suatu bentuk mungkin rekognisi (pengakuan) atas dirinya,” kata Syauqillah.
Temuan itu selaras dengan analisis David Riedman, peneliti kasus penyerangan sekolah di AS. Riedman menjelaskan hampir semua penyerang remaja dalam lima tahun terakhir terhubung dengan kelompok online yang menyebarkan white nationalism, glorifikasi penyerangan SMA Columbine, atau konten kekerasan serupa.
“Tanda-tanda peringatan ketika remaja tergabung dengan percakapan atau komunitas online ini ialah apabila ia menggaungkan informasi yang menglorifikasi penembakan massal, atau mengglorifikasi rasisme yang terorganisir, dan jika mereka mulai menunjukkan minat luar biasa untuk melakukan kekerasan terhadap sekolah mereka sendiri,” kata Riedman kepada kumparan, Jumat (14/11), melalui sambungan Zoom.
Asisten Profesor di Department of Homeland Security and Emergency Services Idaho State University (ISU) itu menambahkan, walau para remaja ini menggaungkan paham-paham tersebut, namun sedianya mereka tidak terlalu memahami ideologi yang dimaksud.
“Yang tidak dimiliki oleh para pelaku penembakan sekolah adalah tujuan dan apa hasil yang mereka inginkan…Mereka melakukan kekerasan atas nama orang lain, karena mereka berharap orang lain akan mengingat mereka dan mengagungkan mereka di masa depan,” kata Riedman yang juga pendiri K-12 School Shooting Database, organisasi asal Amerika Serikat (AS) yang mendata kasus penembakan/penyerangan sekolah sejak 1966.
Bagaimana Siswa Terpapar?
Ledakan di SMAN 72 membuka pertanyaan yang lebih besar: bagaimana seorang remaja bisa terhubung dengan kultur kekerasan global yang sama sekali tak berakar dari lingkungan sosial terdekatnya?
Temuan survei dan analisis pakar menunjukkan bahwa ruang sekolah dan keluarga bukan satu-satunya arena pembentukan nilai remaja—sebagian proses itu kini berlangsung sunyi di layar ponsel.
Survei SETARA Institute pada 2023 mengungkap bahwa 5% siswa SMA tergolong intoleran aktif, sementara 0,6% siswa berpotensi terpapar ekstremisme/terorisme—dua kali lipat dari survei 2016.
Faktor pendorongnya luas. Survei menemukan bahwa keluarga, guru, dan orang dewasa di sekolah, peers (teman sebaya), media sosial, dan pemahaman kebangsaan adalah lima variabel yang sangat memengaruhi toleransi remaja.
Direktur SETARA Institute, Halili Hasan, menjelaskan paparan digital menjadi berbahaya ketika seorang remaja mengalami psychological grievance—rasa tersakiti, ketidakadilan, atau perundungan yang tidak terselesaikan.
Tindak kekerasan lantas menjadi inspirasi dan dianggap tepat karena pelaku melihat lingkungan di sekitarnya sudah tidak ada harapan untuk membuat hidupnya menjadi lebih baik. Seperti dalam kasus SMAN 72, FN diduga tidak memiliki teman cerita.
“Itu tindakan yang sebenarnya secara umum dipengaruhi oleh aneka faktor. Apa yang dia dapatkan di dunia digital, informasi yang didapat di internet, itu inspirasi saja dari persoalan laten yang berada pada dirinya,” terang Halili.
Namun Halili mewanti agar jangan sampai dunia digital dituding sebagai satu-satunya faktor yang memicu anak-anak berperilaku keras. Misalnya, wacana pemerintah memblokir akses game online yang diduga mengandung konten kekerasan. Halili menganggapnya tidak tepat. Sebab, jika seseorang tak memiliki ide dan kultur kekerasan pada dirinya, maka hal itu tak akan membuatnya meniru perilaku tersebut.
“Kalau kalau dia punya kemampuan untuk berpikir kritis, ketika misalnya game menggunakan elemen-elemen pornografi di dalam permainan, kalau nilai (yang dianut) -nya bagus, kulturnya bagus, critical thinking-nya tumbuh, dia [remaja] akan mengatakan 'Loh, ini tidak sesuai dengan nilai kita' dan game itu bisa dia tinggalkan,” ujar Halili.
Halili memandang, masalah dalam kasus ledakan di SMAN 72 muncul ketika pelaku terinspirasi teroris global di Selandia Baru hingga seorang beraliran neofasis di Kanada. Menurutnya, hal itu menunjukkan derajat kritisisme yang rendah dan ekosistem yang gagal memberi perlindungan.
Kondisi ini diperparah dengan paparan konten digital berbahaya dari komunitas online yang bersifat organik: tanpa struktur dan perekrutan. Riedman menyebut konten itu tersebar di seluruh media sosial. Seseorang hanya perlu berinteraksi sebentar, selanjutnya algoritma membuat konten ekstrem itu menjadi mayoritas konsumsi hariannya.
“Jadi ada sangat sedikit rekrutmen aktif untuk membawa orang masuk ke dalamnya. Ini lebih tentang seseorang yang merasa depresi, seseorang yang merasa terpinggirkan, [lalu] melihat sesuatu [kekerasan] sebagai jawaban dan mereka menjadi semakin terlibat. Sampai pada titik di mana itu meradikalisasi mereka untuk melakukan kekerasan,” terang Riedman.
Komunitas TCC misalnya, kata Riedman, berkaitan dengan delapan tragedi penembakan terakhir di AS. Di komunitas online inilah para remaja membagikan cerita, fan art, video, dan bahkan meme yang menggaungkan penembakan-penembakan yang terjadi di sekolah sebelumnya.
Meme, yang lazimnya dikenal sebagai konten hiburan, berubah fungsi di dalam komunitas pendukung kekerasan. Di dalam grup-grup ini, humor dalam meme dimanfaatkan sebagai kamuflase untuk menyebarkan pesan atau ideologi kekerasan. Menurut Riedman, taktik ini dipakai agar sulit dipahami dan dideteksi oleh orang awam.
“Bagi orang lain, itu mungkin terlihat seperti meme biasa untuk dilewati begitu saja. Itulah mengapa banyak orang tidak akan menyadari bahwa ada masalah,” kata Riedman.
Mencegah Fanatisme Kekerasan Remaja Berulang
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam peledakan SMAN 72 ialah pelakunya adalah anak Indonesia, bukan seorang kulit putih, beragama Islam, akan tetapi ia terinspirasi dari orang-orang berpaham white supremacy dan menargetkan masjid.
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Diyah Puspitarini, turut mempertanyakan soal jatidiri FN yang justru memilih target tersebut. Salah satu dugaannya ialah, FN sudah mengukur target tersebut dan ini bukan lagi persoalan soal salah atau benar berkaitan nilai agama.
Paradoks serupa terjadi bukan hanya di Indonesia. Di AS, serangan ke sekolah baru-baru ini pelakunya adalah seorang Latin atau Afro-Amerika, seperti pada kasus penembakan di Nashville, Tennessee, Januari 2025. Pelaku juga menyebarkan pesan-pesan dari kelompok berbasis kebencian dan white nationalism.
Riedman menilai, fenomena ini terjadi ketika seseorang merasa terasing di dunia nyata. Karena merasa tidak didengar atau diperhatikan, mereka mencari penerimaan di subkultur (komunitas kekerasan) online. Di sanalah mereka menemukan komunitas yang membuat mereka merasa diterima. Ikatan emosional dengan komunitas ini bisa tumbuh begitu kuat hingga mengaburkan fakta dan realitas di kehidupan mereka. Dalam kondisi ini, kata Riedman, identitas asli seseorang—baik itu etnis, agama, maupun warna kulit—menjadi tidak relevan.
“Jadi, misalnya, seorang anak di Indonesia atau seorang anak Afrika-Amerika di Amerika Serikat, mereka menemukan begitu banyak dukungan dan rasa memiliki di dalam komunitas berbasis kebencian…Jadi, sebenarnya tidak ada hubungannya fakta siapa Anda dan apa etnis, agama, atau warna kulit Anda. Ini tentang mereka mendapatkan nilai yang lebih besar dari afiliasi mereka dengan kelompok berbasis kebencian (online) ketimbang dunia nyata,” jelas Riedman.
Dus, pelajaran dari SMAN 72 Jakarta menurut pakar terorisme UI, Muhamad Syauqilah, ialah bagaimana mencegah hal semacam ini terulang dengan membuat semacam deteksi dini–bukan hanya sekadar keamanan fisik–di sekolah.
Misalnya, jika memang betul yang terjadi ialah perundungan dahulu terhadap pelaku peledakan ketimbang paparan kekerasan secara online, maka hal itulah yang semestinya ditanggapi.
“Itu (peledakan) terjadi karena dia tidak bisa meng-healing apa yang dia alami. Dan itu [healing] ternyata yang menawarkan adalah kelompok yang ternyata menawarkan apa yang dia inginkan, penyaluran kekerasan atau pembalasan,” kata Syauqillah.
Syauqillah pun mengusulkan adanya buku panduan untuk melihat dan mencegah kekerasan semacam ini, termasuk bagaimana mengkategorikan tipologi dan penanganannya. Menurutnya aparat keamanan, khususnya intelijen, tidak bisa lagi hanya berfokus pada ekstremisme berdasarkan ideologi keagamaan, karena muncul kasus SMAN 72 di mana media sosial memiliki peran.
“Ini juga sosial media kita mau apakan. Kalau pemerintah Australia sudah melakukan berbagai macam pendekatan regulasi atau kebijakan, apakah Indonesia akan mengikuti Australia atau seperti apa dalam konteks media sosial?” katanya.
Indonesia sebenarnya sudah memiliki PP 17/2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (Tunas). Regulasi ini mewajibkan semua penyelenggara sistem elektronik, termasuk media sosial dan platform digital, untuk menyaring konten berbahaya, menyediakan kanal pelaporan yang mudah diakses, serta memverifikasi usia pengguna.
Terlepas dari semua itu, bagi Diyah Puspitarini dari KPAI, guru di sekolah semestinya memiliki penilaian kerentanan anak dari sisi ekonomi, kondisi keluarga, dan perilakunya. Menurutnya, coretan FN di meja harusnya sudah bisa membuat guru curiga mengenai kerentanan yang dialaminya.
Dari foto diduga meja FN yang dilihat kumparan, coretan-coretan itu di antaranya ‘Die Young’ hingga ‘Natural Born Killer’.
“Apalagi sikap perilaku anak ini pendiam. Itu juga harus kita tanya dan ajak bicara kenapa (sebabnya). Saya yakin mestinya guru paham anak ini pintar, pendiam, mungkin pernah dapat bullying, itu mestinya direspons,” kata Diyah yang pernah menjadi guru bimbingan konseling itu.
Selain itu, yang tak kalah penting adalah kepedulian teman sebaya (peers) untuk mendeteksi kawan yang memiliki masalah atau terlibat komunitas online seperti TCC atau Groypers yang mempromosikan kekerasan. Sebab, menurut Riedman, bahasa kekerasan yang digunakan dalam grup tersebut tersamar dengan meme atau sekadar fan art.
Di antara cirinya ialah jika seorang siswa tiba-tiba tertarik pada senjata atau kekerasan massal, padahal sebelumnya tidak pernah. Sehingga sekolah harus mencari cara agar teman sekelas merasa nyaman memberitahu orang dewasa (orang tua atau guru) bahwa ada masalah dengan teman mereka.
“Orang yang paling mungkin tahu ada masalah adalah teman sekelas siswa tersebut. Bahwa perilaku mereka telah berubah, teman-teman mereka mungkin tahu bahwa mereka terlibat dengan konten ini. Mungkin mereka telah mengirim beberapa teman mereka meme yang memiliki pesan-pesan tersandi, (yang tersirat pesan) penembakan sekolah di dalamnya atau informasi tentang Columbine,” kata Riedman.
Pada akhirnya, kekerasan bukan jalan—jangan biarkan luka remaja berubah jadi ledakan. Cukup sudah kisah FN dan LH menjadi pelajaran. Mari pastikan, di ruang belajar mana pun, tak ada lagi pelaku yang tercipta dan tak ada lagi korban yang berjatuhan.

