Leeuwarden Jadi Ibu Kota Kebudayaan Eropa

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Peresmian Leeuwarden, Ibukota Kebudayaan Eropa. (Foto: dok. Rijksoverheid)
zoom-in-whitePerbesar
Peresmian Leeuwarden, Ibukota Kebudayaan Eropa. (Foto: dok. Rijksoverheid)

Kota di Belanda, Leeuwarden, resmi ditetapkan sebagai ibu kota Kebudayaan Eropa. Dewan Eropa, atas rekomendasi Komisi Eropa dan juri tahun ini menetapkan Leeuwarden sebagai Culturele Hoofdstad van Eropa (Ibukota Kebudayaan Eropa, red).

“Raja Willem-Alexander dan Ratu Maxima meresmikan pembukaan Leeuwarden-Fryslân (LF2018), ibu kota Kebudayaan Eropa, Sabtu (27/1) malam,” demikian laman resmi pemerintah pusat Rijksoverheid dikutip kumparan Den Haag (kumparan.com), Minggu (28/1).

Leeuwarden adalah ibu kota Provinsi Fryslân (Friesland), daerah penghasil susu dengan bendera provinsi yang cukup familiar bagi masyarakat Indonesia. Bendera Fryslân seperti yang terlihat pada kaleng susu Frisian Flag yang cukup familiar di kalangan masyarakat Indonesia.

Semboyan yang diangkat pada penetapan Leeuwarden Ibu Kota Kebudayaan Eropa adalah “Iepen Mienskip”, bahasa setempat yang artinya masyarakat solider dan terbuka untuk dunia yang berubah.

Peresmian dimeriahkan dengan penampilan seni budaya yang menunjukkan bagaimana ribuan warga Friesland bersama warga Eropa lainnya bekerja sama untuk membuat daerah mereka menjadi daerah yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Temanya adalah dunia yang kaya keragaman sosial dan keragaman hayati, ditampilkan oleh para seniman, petani dan wetenschappers (para ilmuwan). Acara sepanjang tahun ini terdiri dari 60 sub kegiatan dan ratusan prakarsa di seluruh provinsi Friesland.

Bersama Friesland, Dewan Eropa tahun ini juga menetapkan kota Valetta (Malta) dengan status yang sama. Penetapan ini dilakukan setiap tahun sejak 1985 dengan tujuan untuk menunjukkan kekayaan dan keragaman kebudayaan Eropa.

Sejak 2004 Dewan Eropa setiap tahun memilih dua kota sekaligus. Kota terpilih akan menyusun acara terdiri dari berbagai kegiatan yang mengangkat warisan sejarah dan kekayaan kebudayaan setempat.

Laporan: Eddi Santosa (kumparan Den Haag)