Lestarikan Tradisi, Sido Muncul Latih Pedagang Angkringan Yogya Meracik Jamu
·waktu baca 4 menit

PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul) melatih lebih dari 100 pedagang angkringan di Yogyakarta untuk meracik jamu. Kegiatan ini berlangsung di Westlake Resto, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis (31/7).
Direktur Sido Muncul, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat, hadir langsung memberikan motivasi ke para pedagang angkringan. Hadir pula Ahli Herbal Media, dr. Rianti Maharani, M.Si (HERBAL), FINEM AIFO-K, untuk melatih cara meracik jamu yang baik dan benar.
Irwan mengatakan, upaya memberikan pelatihan ini diharapkan dapat membantu pertumbuhan UMKM sekaligus mendorong para pedagang angkringan bisa semakin mengembangkan bisnisnya.
“Kami berharap UMKM ini bisa nanti tumbuh. Tumbuh menjadi suatu kekuatan tersendiri. Dan mereka banyak sekali angkringan ini. Sehingga kan nanti bisa artinya meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri," kata Irwan.
Irwan juga memuji kehebatan para pedagang angkringan. Sebagai masukan, ia memberikan “kunci” rahasia dalam mempertahankan bisnis, yaitu produk yang baik, bersih, masuk akal, dan bisa diterima konsumen. Irwan juga berkomitmen mendukung pengembangan bisnis angkringan yang lebih luas.
"Saya kasih contoh-contoh, bagaimana saya memulai dari nol, dari kecil, bisa seperti hari ini. Saya juga berharap suatu hari mereka bisa menjadi lebih baik," jelasnya.
Dijual di Angkringan, Upaya Lestarikan Jamu
Sejak diakui secara resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh UNESCO pada akhir 2023, budaya sehat jamu atau Jamu Wellness Culture mendapat perhatian lebih. Kehadiran jamu di angkringan menjadi salah satu upaya pelestarian yang membumi dan relevan dengan gaya hidup masyarakat sehari-hari.
"Jadi kita harus melestarikan minum jamu. Karena kalau orang jual jamu tuh kan sudah hilang semua. Hilang karena tempatnya mahal, gitu, jualnya cuma satu macam. Kalau ini (angkringan) dia bisa survive karena jualnya macam-macam. Sembari melestarikan tradisi minum jamu supaya jangan sampai hilang, ya," kata Irwan.
Menurut Irwan, jamu gendong perlahan mulai menghilang dari keseharian kita. Kini, angkringan dinilai sebagai tempat yang potensial untuk menghadirkan jamu. Tak sekadar melestarikan tradisi, kehadiran jamu di angkringan juga diharapkan bisa ikut menyejahterakan para pedagangnya.
"Jadi, ya kalau mereka nanti menjual produk Sido Muncul, produk yang lain, atau mereka membuat produk sendiri, gitu, buat kami enggak masalah. Karena ini kan ada ribuan (pedagang angkringan). Nah, kalau dari ribuan bisa jadi puluhan ribu, itu kan jadi kekuatan tersendiri," jelasnya.
Angkringan: Jembatan Baru Kenalkan Jamu ke Masyarakat
Sejalan dengan Irwan, dr. Rianti Maharani, M.Si (HERBAL), FINEM AIFO-K turut memberikan pandangan terkait potensi distribusi jamu melalui angkringan.
Ia menilai bahwa angkringan merupakan bagian dari identitas kuliner yang kuat di Yogyakarta. Menurutnya, kehadiran jamu di angkringan menjadi peluang strategis agar jamu bisa lebih mudah dijangkau oleh masyarakat luas.
“Jadi, dengan angkringan-angkringan ini diharapkan masyarakat, terutama dalam hal ini di Yogyakarta, bisa mendapatkan jamu dengan mudah dan murah,” kata dr. Rianti.
Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi pedagang angkringan dengan Sido Muncul dapat membuka peluang baru. Para pedagang akan dikenalkan pada berbagai produk unggulan Sido Muncul yang praktis dan mudah disajikan.
“Nah, untuk teman-teman di angkringan ini merupakan kesempatan, jika berkolaborasi dengan Sido Muncul, nanti akan dikenalkan produk-produk unggulannya Sido Muncul yang mana itu akan memudahkan dalam penyediaan jamu,” ujarnya.
Sido Muncul sendiri telah menyiapkan produk jamu dalam bentuk praktis. Pedagang cukup mengembangkan cara penyajiannya sesuai kebutuhan. Rianti menegaskan bahwa produk-produk Sido Muncul sudah terjamin kualitas dan keamanannya.
“Sehingga teman-teman angkringan ini, enggak perlu khawatir belum pernah mendapatkan pendidikan tentang jamu, hanya latihan singkat hari ini. Tapi jangan khawatir karena produk dari Sido Muncul ini sudah tepercaya dan sudah ber-BPOM semuanya, sehingga sudah pasti aman dan berkualitas karena memenuhi standar mutu sendiri,” kata dr. Rianti.
Keberadaan jamu di angkringan memberi nilai tambah yang unik. Angkringan tak hanya menjadi tempat makan yang mengenyangkan, tetapi juga bisa menjadi tempat untuk menyehatkan.
“Kita datang ke angkringan tidak hanya mengenyangkan, tetapi menyembuhkan. Harapannya seperti itu,” ujar dr. Rianti.
Ia menambahkan, ke depannya angkringan juga punya peluang untuk bersaing dengan kafe-kafe yang menyajikan minuman tradisional dalam format kekinian.
“Tidak kalah, tetapi tetap murah,” jelasnya, menegaskan bahwa angkringan bisa tetap terjangkau tanpa kehilangan daya saing.
Antusiasme Pedang Angkringan
Retnasari (50 tahun), pedagang Angkringan Jos Blangkon di Jalan Mangkubumi, Yogyakarta, mengaku sangat antusias mengikuti pelatihan dari Sido Muncul. Pasalnya, angkringannya yang kerap dikunjungi wisatawan sering mendapat pertanyaan soal ketersediaan jamu.
“Mudah-mudahan nanti kita juga akan di-support produk (Sido Muncul). Mungkin kita nanti jualan produknya Sido Muncul juga. Karena memang banyak yang menanyakan jamu saat datang ke angkringan,” tutur Retnasari.
Karena berada di kawasan wisata, konsumennya datang dari berbagai kota dan sering mengeluhkan kondisi seperti kelelahan atau masuk angin. Selama ini, menu minuman di angkringannya baru sebatas jahe sereh.
“Mungkin, setelah pelatihan, saya akan masukkan jamu ke menu juga. Kalau di Jawa, racikan jamu Yogya kan, khususnya yang masih diremas-remas. Ada pakai telur, lain-lainnya lah. Mungkin juga bisa dicampur seperti itu lalu di-mix dengan produk Sido Muncul,” jelasnya.
