Letusan Gunung Merapi pada Rabu Pagi Relatif Besar

Gunung Merapi kembali meletus freatik pada Rabu (23/5) dini hari. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menilai, letusan tadi pagi terbilang besar. Dengan amplitudo 50 milimeter, kolom asap akibat erupsi yang menyertainya mencapai 2.000 meter.
Dari sisi kegempaan, letusan kali ini juga relatif lebih tinggi lantaran terdapat gempa multiphase (MP) dan gempa vulkanik (VT). Hal ini menandakan adanya akumulasi tekanan yang cukup besar.
"Gempa VT muncul ketika ada batuan yang pecah karena tekanan yang sangat besar," ujar Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso kepada wartawan.
Jeda letusan freatik pagi tadi juga lebih panjang dibanding letusan pada Senin (21/5) lalu. Sehingga, BPPTKG akan terus memantau kondisi gunung, dan menjadikan aktivitas Merapi sebagai sampel. Hal ini untuk memperkirakan apakah jeda letusan itu akan semakin pendek atau sebaliknya.
"Kalau dari sisi letusan freatik jedanya malah tambah panjang. Tanggal 21-22 (Mei) itu delapan jam, kalau sekarang lebih dari satu hari, atau 26 jam. Jadi kalau dari sisi letusan freatik jedanya semakin panjang,"

Menurutnya, berdasarkan tren yang terjadi, letusan freatik memang bisa saja mengarah ke letusan magmatik. Hanya saja, kata dia, hal tersebut memerlukan pembuktian melalui analisa material letusan.

"Dan sampai sekarang belum ada hasil yang meyakinan bahwa material abu dari letusan freatik material baru," terangnya.
Agus mencontohkan, pada erupsi magmatik 2010 lalu, ada beberapa tanda sebelum Merapi meletus. Misalnya, puncak Merapi kala itu terlihat runcing, yang menandakan adanya sumbatan kuat di area puncak.
Sementara, jika dibandingkan dengan kondisi Merapi saat ini, justru jauh lebih tipis. Jadi, menurutnya, indikasi-indikasi yang muncul, berbeda dengan letusan pada 2006 atau 2010.
"Tentu magma dinamis kalau tidak bergerak berarti tidak aktif lagi. Perkiraan kita mungkin agak sulit untuk memprediksi magma sampai mana, karena sistem magmatis di permukaan sangat berbeda dengan sebelum letusan 2006 dan 2010," bebernya.
Menurut dia, yang terpenting saat ini, masyarakat harus memahami bahwa letusan freatik tidak membahayakan jiwa penduduk di luar radius bahaya yang ditentukan. Mereka hanya diminta untuk menjauhi radius 3 kilometer dari puncak Merapi.
Pemicu erupsi akibat gempa tektonik di Samudera Hindia, selatan Yogyakarta, belum bisa dibuktikan
Dini hari tadi, wilayah Samudera Hindia selatan Yogyakarta diguncang gempa 5,1 magnitudo sekitar pukul 02.38 WIB. Dikutip dari laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa berjenis tektonik tersebut tidak berpotensi tsunami.
Saat ditanya apakah gempa ini berpengaruh pada erupsi freatik Merapi dini hari tadi, Agus mengaku belum bisa menyimpulkan. "Ini sebenarnya spekulatif (terkait gempa tektonik dan erupsi Merapi)," jelasnya.
Morfologi Kawah Tak Berubah
Agus menjelaskan, setelah Merapi mengalami beberapa kali letusan freatik, visual morfologi kawah Merapi tidak mengalami perubahan signifikan. Bahkan dibanding tahun 2013, letusan kali ini jauh lebih kecil.
"Dari beberapa kali letusan tidak ada perubahan signifikan. Dibandingkan letusan dulu 2013 ini relatif lebih kecil yang perlu kita waspadai freaktif letusannya sangat intensif dalam beberapa waktu terakhir," jelasnya.
Agus mengungkapkan, letusan yang terjadi mendadak, biasanya juga bukan letusan magmatif. Letusan freatik hanya berisi material akumulasi gas atau uap air yang mendorong terjadinyan letusan.
Merapi sudah mengeluarkan letusan freatik sejak Senin (21/5). Letusan pertama terjadi pukul 01.25 WIB, disusul letusan kedua pada 09.38 WIB. Pada Senin sore pukul 17.50 WIB, letusan terjadi dalam durasi tiga menit.
Lalu pada Selasa (22/5) dini hari, Merapi kembali meletus sekitar pukul 01.47 WIB dan Rabu dini hari. Terbaru, Merapi kembali meletus pukul 13.49 WIB.
