Limbah Pabrik Pengolahan Kulit di Yogya Dikeluhkan Warga, Pemilik Janji Perbaiki

Limbah pabrik pengolahan kulit di Kalurahan Prawirodirjan, Kemantren Gondomanan, Kota Yogyakarta dikeluhkan warga karena menimbulkan bau selama tiga bulan terakhir.
"Terutama yang dirasakan warga adalah bau. Kalau berisiknya nggak sampai ke sini. Karena baunya yang menyengat jadi ada keluhan dari warga," kata Ketua RW 18 Kampung Prawirodirjan, Wikan, pada Kamis (6/8).
Bau yang timbul ini terjadi siang maupun malam. Terlebih saat anginnya mengarah ke timur, maka bau yang dirasakan warga semakin menyengat.
Soal gangguan ini, warga telah menyampaikan keluhan ke pabrik. Warga juga melaporkan hal ini ke DPRD Kota Yogyakarta.
"Kita berharap warga aman dari bau dan sebagainya," katanya.
DPRD Sidak ke Lokasi
Ketua DPRD Kota Yogyakarta Wisnu Sabdono Putro bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, mengunjungi lokasi pabrik pada Kamis (6/8).
"Bersama dengan Kepala DLH, staf ahli, ada Pak Camat, Ada Pak Lurah, kami sidak di sini. Ternyata ambune ora karu-karuan (baunya tidak karuan). Bisa kehabisan napas ini," kata Wisnu.
Wisnu mengatakan dari sidak diketahui pabrik tersebut tidak punya prosedur standar operasional yang baku.
"Standarnya cuma warga. Masak pabrik seperti ini standarnya warga bau tidak. Kalau bau berarti ada kebocoran, kalau tidak berarti tidak. Kan nggak boleh begitu," tuturnya.
Wisnu mengatakan berdasarkan keterangan pemilik pabrik, bau ditimbulkan dari matinya aerator. Seharusnya hal ini bisa diantisipasi dengan alat cadangan dan tidak dibiarkan.
Dia meminta pabrik memiliki SOP soal limbah. Maka pihaknya merekomendasikan agar pabrik melakukan perbaikan supaya pengelolaan limbah menjadi baik dan tak mengganggu warga.
"Yang jelas kalau sampai nanti ini masih mengganggu terus ya kami akan merekomendasikan untuk menutup sementara. Kalau misalnya menutup sementara ternyata tidak diindahkan ya terpaksa kami rekomendasinya akan menutup total karena sudah mengganggu warga sekitar. Mungkin merekomendasikan pindah di wilayah yang jauh dari penduduk," tegasnya.
DLH Usut
Kepala DLH Kota Yogyakarta Rajwan Taufik mengatakan akan menerjunkan tim untuk mengusut persoalan ini.
"Pertama (penyebabnya) aerator mati itu sehingga proses IPAL menjadi tidak lancar, otomatis limbah yang ada jadi bau. Kedua, kita temukan dari limbah itu ada yang masuk ke saluran air hujan. Kemudian ketiga, ada kebocoran saluran sehingga menimbulkan bau," kata Rajwan.
"Dari tiga itu kami tindak lanjutnya akan menerjunkan tim untuk meneliti yang lebih detail. Karena hari ini kita baru melihat permukaannya nanti akan kami terjunkan tim khusus," katanya.
Tim ini berisi ahli lingkungan yang akan memeriksa pengelolaan limbah hingga pengelolaan tingkat ambang batas bau dalam tiga hari ke depan. Hasil temuan akan disampaikan dalam bentuk rekomendasi tindak lanjut yang harus dilakukan pabrik.
"Tim nanti cek kualitas air, sumur, kemudian baku mutu udara, tim itu yang akan bekerja di situ," katanya.
Kata Pemilik Pabrik
Direktur PT Sinar Obor, Amir, mengatakan akan melakukan perbaikan agar pabriknya ramah lingkungan.
"(Kerusakan aerator) kita memerlukan waktu satu minggu kemarin. Jadi terhenti karena terkendala perbaikan itu jadi menimbulkan bau seperti bau busuk," kata Amir.
Limbah yang bocor juga akan pihaknya perbaiki dengan turut menggandeng DLH.
"(Perbaikan) mungkin sampai akhir bulan. Kita harus bangun-bangun cukup banyak bangun-bangunnya," katanya.
