kumparan
27 Agustus 2019 7:25

LIPSUS: Meredam Bara Papua

Lipsus Meredam Bara Papua
Lipsus Meredam Bara Papua. Ilustrator: Indra Fauzi/kumparan
Ribut-ribut di Asrama Mahasiswa Papua Surabaya yang merambat sampai Bumi Cenderawasih, lalu berbalik lagi ke Jawa dalam bentuk demonstrasi masif para pemuda Papua di berbagai daerah, membuat sebagian orang terheran-heran: apa yang sesungguhnya terjadi? Mari simak cerita utuhnya—yang bukan sekadar berita.

Bara Papua dari Asrama Surabaya

Asap hitam mengepul dari balik pagar Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan Nomor 10, Surabaya, Jawa Timur. Sepanjang pagar teralis asrama itu dililit spanduk nyaris rapat, sehingga orang dari luar perlu mengintip melalui celah kecil untuk melihat asal asap itu.
Di halaman asrama, terlihat api menyala di atas tumpukan kayu bakar. Penghuni asrama, yang kebanyakan mahasiswa rantau asal Papua, tengah sibuk memanggang masakan untuk disantap bersama. Orang Papua memang punya kebiasaan makan bersama di ruang terbuka usai masak-memasak.
Namun kali itu, mereka tak ingin orang luar mendekat. “Tidak, tidak. Jauh-jauh!” teriak seorang lelaki yang tengah melahap makanannya kepada siapa pun yang hendak berkunjung.
Selengkapnya pada laporan mendalam berikut:

Aparat di Pusaran Prasangka terhadap Papua

Ruang tengah Asrama Yahukimo Papua di Jakarta tampak ramai siang itu. Puluhan pasang mata mahasiswa sibuk memandang layar kaca, menyaksikan nyala emosi saudara di kampung halaman.
Hari itu, Senin (19/8), kota Manokwari, Jayapura, dan Sorong bergejolak gara-gara tindakan rasialis terhadap mahasiswa Papua beberapa hari sebelumnya di Surabaya. Teriakan “monyet" dan "usir Papua" memantik emosi yang selama ini terpendam di hati warga Papua.
Ketika tengah menonton siaran televisi yang menayangkan situasi panas di Papua itulah, para mahasiswa di Asrama Yahukimo dikejutkan dengan kedatangan belasan aparat kepolisian berseragam.
Selengkapnya simak laporan mendalam berikut:

Menanti Jokowi Meredam Bara Papua

“Istri saya namanya Iriana. Kenapa? Karena kakeknya dulu guru di sini—Irian (Papua). Kemudian pulang saat istri saya lahir, dikasih nama Iriana. ‘Iriana’ saja namanya. Jadi saya dan istri saya ini dekat dengan Papua, tidak bisa dipisahkan.”
Jokowi bercerita soal asal nama Iriana di Kampung Yoka, Jayapura, pada Juni 2014. Saat itu, ia tengah berkampanye untuk pertarungannya yang pertama di pemilu presiden. Dan Papua jadi salah satu wilayah yang menyumbang kemenangan baginya. Jokowi unggul di provinsi itu dengan mengantongi 72,49 persen suara. Ia dipilih oleh dua juta lebih rakyat Papua.
Lima tahun berikutnya, 2019, suara Jokowi kian melejit di Papua. Dalam Pemilu Presiden yang berlangsung April lalu, ia kembali menang telak di wilayah itu dengan meraup 90,66 persen suara. Artinya, kali ini Jokowi mendapat mandat dari tiga juta lebih warga Papua untuk kembali menjadi presiden.
Antusiasme untuk Jokowi misalnya tercermin pada kampanyenya di Sorong tanggal 1 April. Senin itu, malam telah larut. Waktu menunjukkan pukul 23.00 WIT atau satu jam menuju pergantian hari. Namun gedung Aimas Convention Centre riuh oleh seruan penuh semangat, “Jokowi! Jokowi! Jokowi!”
Itu empat bulan lalu. Namun pekan kemarin, di depan Istana Merdeka tempat Jokowi bekerja mengatur negeri, pemuda Papua ramai berseru-seru. “Jokowi adalah kaleng-kaleng. Ini tidak bisa selesai dengan minta maaf. Ini bukan Lebaran. Orang Papua butuh dihargai sebagai manusia!”
Selengkapnya pada ulasan mendalam berikut:

Periset LIPI: Masalah Papua Tak cuma Infrastruktur, tapi Marginalisasi

“Masalah utama di Papua tak cuma kurangnya infrastruktur, tapi juga identitas, kekerasan politik, pelanggaran HAM, pelurusan sejarah Papua, dan marginalisasi orang Papua. Jadi Jokowi baru menyelesaikan satu saja—pembangunan. Lainnya belum disentuh.”
Cahyo Pamungkas blak-blakan menuturkan deret persoalan Papua hingga yang terpahit. Ia tak asing dengan Papua. Bersama rekan-rekannya di LIPI, Cahyo meneliti soal Papua yang diterbitkan dalam buku berjudul Updating Papua Road Map: Proses Perdamaian, Politik Kaum Muda, dan Diaspora Papua yang diluncurkan Oktober 2016.
Papua Road Map memetakan empat masalah utama di Papua. Selengkapnya pada perbincangan berikut:

Mimpi Papua di Tanah Jawa

Kebanyakan mahasiswa Papua yang menuntut ilmu di Jawa berharap bisa kembali ke daerahnya untuk berbakti dan memajukan negeri. Namun, tak jarang tantangan yang ada membuat usaha mereka jadi berkali lipat lebih berat.
Ketika perbedaan dialek menjadi kendala, dan stigma negatif yang melekat pada mereka menjelma prasangka, masih adakah ruang untuk memahami?
Selengkapnya tonton video berikut:
Video

Kami Papua, Kita Indonesia

Memahami Papua (dan wilayah lain di Indonesia) mesti dengan hati dan kepedulian, bukan dengan umpatan, kebencian, atau kekerasan.
Demo yang ditunjukkan oleh warga Papua merupakan bagian dari solidaritas kesukuan ketika salah seorang warganya terusik. Keterusikan ini bukan hanya pada orang Papua, sebab individu dan kelompok mana pun akan ‘melawan’ ketika ada umpatan tidak patut terhadapnya. Apalagi saat ini sorotan tajam terhadap sejumlah kasus intoleransi belum tuntas terselesaikan.
Selengkapnya analisis Sri Murni, pengajar Departemen Antropologi UI:

Perbaiki Cara Kita Melihat Papua

Jalinan kultural melalui pengiriman warga Papua ke kota-kota besar di Indonesia untuk menuntut ilmu, tampaknya tidak pernah mampu mengintegrasikan mereka dalam struktur kota tempat mereka tinggal. Di Jakarta, Yogyakarta, Makassar, mahasiswa Papua seperti tersekat di sekitar asrama Papua atau tempat-tempat indekos yang menerima mereka. Selebihnya, mereka dianggap orang asing yang dihadapi secara penuh prasangka.
Respons sebagian warga Papua terhadap semua pandangan negatif itu terentang dari yang hanya diam-diam saja, menahan marah, sampai berani meletupkan kemarahan, bahkan merancang perpisahan dengan NKRI.
Selengkapnya analisis Semiarto Aji Purwanto, Ketua Program Sarjana Departemen Antropologi UI:
_________________
Dapatkan perspektif jernih dalam Liputan Khusus kumparan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan