Lori Race, Balapan Memacu Adrenalin di Sukabumi

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

video youtube embed

Bagaimana rasanya melaju dengan kecepatan 40-50 km/jam di atas jalan menurun dengan papan luncur tanpa dilengkapi rem? Tentu sangat menegangkan bukan?

Nah, hal ini bisa ditemui di daerah Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Di sana ada perlombaan yang dikenal dengan lomba lori atau lori race.

Apa itu lori dan bagaimana perlombaannya?

Lori adalah papan luncur yang terbuat dari bambu dan kayu yang dirancang sedemikian rupa dan menggunakan tiga roda. Ban depan relaltif dibuat lebih besar sehingga membantu pengendara lori untuk menyeimbangkan diri saat melesat menuruni bukit.

Nah, yang membuat lori menarik sekaligus menegangkan. Lori sendiri tidak dilengkapi dengan rem, para pengendara harus bisa menggendalikan badan dan menggunakan kakinya untuk mengemudikan lori ini.

Meski sangat berisiko, antusias masyarakat untuk ikut berpartisipasi ternyata cukup tinggi. Terbukti tidak hanya kamu pria saja yang mengikuti ajang ini. Nini Dwin (20) salah satu perempuan yang memberanikan diri bersaing di ajang lori race ini.

"Saya suka mengendarai Lori, saya telah melatih diri untuk mengendarainya. Itu adalah pengalaman yang mengasyikkan. Meskipun saya tidak berhasil sampai ke posisi tiga, sangat menakjubkan melihat semua orang bersorak untuk saya," kata Nini seperti dilansir Associated Press, Selasa (29/8).

Meski dimudahkan dengan memiliki tiga roda. Tetap saja dengan tidak dilengkapi rem, mengendalikan lori ketika meluncur dengan kecepatan 50 km/jam tentu bukan hal yang mudah. Tak jarang para pebalap ini terjatuh atau keluar dari lintasan balap.

Untuk menangani pengendara yang terluka, panitia telah menyiapkan ambulans dan tim medis.

Balapan lori di Sukabumi. (Foto: Associated Press)

Lori yang sempat hilang kini kembali lagi

Lori race sendiri biasanya diadakan untuk memperingati perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Namun, karena kegiatan ini sangat berrisiko, balapan Lori telah kehilangan pesonanya dan dihentikan pada tahun 2008. Namun Saputra dan teman-temannya memutuskan untuk mengorganisir olahraga tersebut setelah sembilan tahun fakum, dengan harapan untuk kembali melestarikan kegiatan turun menurun ini.

"Ini adalah olahraga yang berisiko tapi pada saat bersamaan sangat menyenangkan, tapi berhenti pada tahun 2008. Kami ingin menghidupkannya kembali untuk generasi muda. Kami senang orang-orang berpartisipasi dalam olahraga dan menikmati balapan yang mendebarkan ini," kata Saputra sepert dilansir Associated Press, Selasa (29/8).

Lori race ini memperebutkan uang pembinaan. Untuk juara pertama mendapatkan Rp 1 juta, kedua Rp 750.000 dan ketiga Rp 500.000 serta favorit Rp 300.000.

Sempat terhenti cukup lama, Saputra menuturkan ingin kembali melestarikan olahraga turun temurun di daerahnya ini dan berharap generasi mendatang tetap mengenal budaya asli mereka.

"Ini adalah olahraga warisan kita dan kita ingin lebih banyak orang berpartisipasi di dalamnya sehingga kita bisa menyebarkannya kepada generasi masa depan kita," tutup Saputra.