SQ- Karnaval italia dampak virus corona
21 Maret 2020 18:11

Love in the Time of Corona

Love in the Time of Corona (79976)
Karnaval Venesia di Italia, 24 Februari 2020, sebelum corona mengubah segalanya. Foto: REUTERS/Ohad Zwigenberg
Be calm. God awaits you at the door.

– Gabriel García Márquez, Love in the Time of Cholera

47.021 kasus infeksi dan 4.032 kematian. Italia mencatatkan rekor kematian corona terbanyak dalam sehari—627 orang—pada 20 Maret 2020, dan membawanya memuncaki daftar negara dengan jumlah kematian COVID-19 tertinggi di dunia, mengalahkan China yang merupakan negara asal penyakit itu.
Di masa pandemi yang menakutkan inilah mimpi soal pernikahan ideal harus dilepas Luca Mariotti dan Tia Setiyani, pasangan Italia-Indonesia yang berencana menikah pada 4 April.
Love in the Time of Corona (79977)
Luca Mariotti dan Tia Setiyani, pasangan Indonesia-Italia. Foto: Dok. Tia Setiyani
Luca menyimpan impian orang Italia pada umumnya: menggelar pesta pernikahan meriah yang dihadiri para kerabat dan sahabat.
Ia dan kekasihnya bolak-balik Roma-Treviso sejak 17 Februari untuk mengurus dokumen pernikahan.
Mereka sudah punya rencana rapi: melangsungkan akad nikah di Treviso—kota di Region Veneto di utara Italia yang merupakan kampung halaman Luca; dan menggelar resepsi perkawinan di sebuah pulau dekat Venesia.
Pertengahan Februari itu, coronavirus belum mengganas. Ia sudah menjangkiti utara Italia, namun diyakini bakal cepat tertangani.
Sayangnya, keyakinan itu terlalu prematur.
Februari berganti Maret, dan wabah corona menggila di seantero Italia. Membuat pemerintah Italia mengunci seisi negara. Istilah populernya: lockdown.
Love in the Time of Corona (79978)
Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte. Foto: AFP/Andreas Solaro
... è la nostra ora più buia, ma ce la faremo—ini masa terkelam kita, tapi kita akan melaluinya,” ujar Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte menukil ucapan Winston Churcill, Perdana Menteri Inggris periode 1940-1945, saat mengumumkan karantina total atas Italia, Selasa (10/2).
Ia menegaskan tak mau berkompromi dengan keputusan yang ia ambil.
“Tak ada waktu lagi. Kita menghadapi peningkatan signifikan kasus infeksi dan kematian. …. (maka) seluruh Italia akan jadi zona terlindungi. Semua tindakan yang telah diambil di zona merah kini diperluas ke seantero negeri,” kata Conte dalam konferensi pers yang digelar dini hari waktu setempat—jam 02.00 pagi!
Zona merah yang dimaksud Conte semula hanya mencakup 10 kota di utara Italia yang berada di Region Lombardy dan Veneto, termasuk Milan yang jadi pusat finansial dan mode negeri itu, dan Venesia yang dikenal sebagai destinasi wisata favorit warga dunia.
Italia utara yang dihuni 16 juta orang tersebut adalah episentrum corona di Eropa. Dan itu artinya termasuk Treviso yang berada dalam wilayah Veneto.
Love in the Time of Corona (79979)
Wisatawan mengenakan pakaian pelindung di Karnaval Venesia, Minggu (24/2), saat corona belum menunjukkan taringnya. Foto: REUTERS/Ohad Zwigenberg
Mulai 10 Maret, wajah Italia berubah drastis. Masyarakat Italia yang gemar berkumpul dan berpesta seolah tercerabut dari tradisinya.
Tak ada lagi acara-acara publik. Festival kebudayaan, konser musik, dan pertandingan olahraga dilarang. Demikian pula prosesi pemakaman, misa di gereja, dan tentu saja: resepsi pernikahan.
Luca dan Tia jelas harus mengubah rencana.
Love in the Time of Corona (79980)
Patung santo pelindung Francis of Assisi di San Fiorano, Lombardy, dipasangi masker. Foto: Marzio Toniolo/via REUTERS
“Kami tak tahu apa yang bakal terjadi nanti,” ucap petugas di Kantor Kependudukan Treviso kepada Tia dan Luca.
Ia meminta pasangan itu untuk memangkas daftar tamu dalam akad nikah mereka. Ruangan yang biasanya bisa dihadiri 80 orang, kini dibatasi jumlah tamu undangannya.
Jarak interaksi antar-individu pun diatur minimal satu meter. Kalau berani melanggar, sanksi pindana dan denda menanti.
Luca dan Tia amat paham situasi yang mereka—dan dunia—hadapi.
“Ini bukan cuma tentang pernikahan kami. Ini soal kepentingan semua orang,” kata Luca ketika berbincang dengan kumparan.
Jangankan soal pernikahan, perkara sehari-hari saja jadi sulit di Italia.
Otoritas Italia tak main-main soal lockdown. Warga yang keluar rumah harus membawa surat berisi maklumat kepatuhan atas peraturan karantina wilayah yang ditetapkan negara. Selain itu, setiap orang yang melintas di jalan umum bakal diperiksa polisi yang berpatroli.
Hanya dalam kondisi ketat warga boleh keluar rumah, di antaranya berbelanja ke toko/supermarket dan memeriksakan diri ke dokter karena sakit. Untuk pergi ke supermarket pun, tiap keluarga hanya boleh diwakili oleh satu orang.
“Momen paling menyenangkan saat ini adalah pergi ke supermarket,” ujar Luca terkekeh.
Love in the Time of Corona (79981)
Penjaga minimarket di San Fiorano, Lomardy, menggunakan masker. Foto: Marzio Toniolo/via REUTERS
Elia Moneda, seorang warga Italia yang tinggal di Cantù, Region Lombardy, sependapat dengan Luca soal pergi ke supermarket.
“Pergi berbelanja artinya juga bisa sedikit berjalan-jalan,” ujarnya kepada Nancy Larasati, kekasihnya di Indonesia.
Nancy dan Elia kerap bertukar cerita soal kondisi wabah corona di negara mereka masing-masing. Nancy yang tinggal di Jakarta paham betul, situasinya di Jakarta belum tentu lebih baik dari Elia.
Ia sendiri cemas, jangan-jangan ia telah tertular corona, setidak-tidaknya menjadi carrier. Sebab, belakangan ia merasa tak enak badan.
Elia berkata, “Paling tidak kami di Lombardy sering tes (corona) dibanding wilayah-wilayah lain di Italia, sehingga hasilnya bisa lebih cepat diketahui.”
Love in the Time of Corona (79982)
Pusat perbelanjaan Galleria Vittorio Emanuele II di Milan langsung sepi di hari pertama Italia lockdown. Foto: REUTERS/Flavio Lo Scalzo
Lombardy di Italia utara memang lebih makmur ketimbang kawasan selatan negeri itu. Bisa dibilang, wilayah utara ialah mesin perekonomian Italia. Sistem perawatan kesehatan di sana adalah yang terbaik di seantero Italia.
Pun begitu, menurut Kepala Unit Krisis Perawatan Intensif Lombardy Antonio Pesenti kepada surat kabar Corriere Della Sera, sistem perawatan kesehatan di wilayahnya kini berada di ambang kehancuran.
Pasien corona yang membeludak tak sebanding dengan fasilitas kesehatan yang tersedia—dan terbaik sekali pun. Lorong-lorong rumah sakit sampai ikut digunakan untuk merawat pasien.
Sistem perawatan kesehatan universal yang dianut Italia, seperti ditulis The Atlantic, juga ketiban beban tambahan karena harus memberikan jaminan akses kesehatan untuk semua warga Italia tanpa kecuali, termasuk pengangguran tak berduit.
Love in the Time of Corona (79983)
Petugas Palang Merah mengecek kondisi tunawisma di Roma. Foto: REUTERS/Guglielmo Mangiapane
Penerapan lockdown artinya juga membuat pemerintah Italia harus menjamin ketersediaan kebutuhan dasar warga seperti listrik, air, dan gas. Dampaknya, Italia diprediksi bakal mengalami krisis ekonomi terparah sejak Perang Dunia II.
Belum lagi, kasus pasien corona di masa lockdown terus bertumbuh, termasuk angka kematian mereka. Ini, salah satunya, karena demografi masyarakat Italia yang dihuni banyak orang tua—kelompok yang paling rentan terhadap corona.
“We’d better still alive when the plague is over,” kata Nancy.
“Amen,” jawab Elia.
Love in the Time of Corona (79984)
Peserta Karnaval Venesia mengenakan masker, Minggu (24/2) . Foto: REUTERS/Ohad Zwigenberg
Love in the Time of Corona (79985)
Karnaval Venesia sebelum corona mewabah parah. Foto: REUTERS/Ohad Zwigenberg
*kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk membantu pencegahan penyebaran coronavirus COVID-19. Yuk, bantu donasi sekarang!