LPSK: Unik, Putri dan Yosua Masih Bertemu di Kamar Usai Kekerasan Seksual

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

Wakil Ketua LPSK Edwin Partai dalam Konferensi Pers di Gedung LPSK, Jakarta, Senin (15/8).  Foto: Zamachsyari/Kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Ketua LPSK Edwin Partai dalam Konferensi Pers di Gedung LPSK, Jakarta, Senin (15/8). Foto: Zamachsyari/Kumparan

Peristiwa dugaan kekerasan seksual di Magelang yang dilakukan Brigadir Yosua ke Putri Candrawathi masih jadi polemik. Ada sejumlah kejanggalan yang muncul dari klaim Irjen Ferdy Sambo dan istrinya itu.

Kejanggalan itu antara lain dicium Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi. Edwin mengatakan, beberapa hal janggal dilakukan oleh Yosua dan Putri sebagai relasi korban dan pelaku. Misalnya, keduanya masih bertemu di kamar setelah kekerasan seksual terjadi.

"Ketika di rekonstruksi masih tergambar bahwa pasca-peristiwa kekerasan seksual di Magelang, PC [Putri Candrawathi] masih bertanya kepada RR [Ricky Rizal] 'di mana Yosua?' Dan Yosua masih menghadap PC [Putri] di kamar," kata Edwin saat dihubungi, Senin (5/9).

"Jadi korban bertanya kepada pelaku dan pelaku menghadap korban di kamar, itu suatu hal yang unik.

--Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi

Putri dan para ajudan Sambo. Foto: Dok. Istimewa

Edwin mengatakan, rumah di Magelang merupakan rumah Putri dan Ferdy Sambo. Jelas itu merupakan penguasaan Putri, bukan Yosua. Dalam konteks kekerasan seksual, ada relasi kuasa: pelaku dominan dibanding korban.

"Dalam konteks ini tidak tergambar relasi kuasa karena Yosua anak buah, ADC, ajudan, dan driver PC, dan anak buah dari FS. Jadi tidak tergambar relasi kuasa," jelas dia.

Tak hanya itu, bila memang kekerasan seksual terjadi ini merupakan perbuatan yang nekat yang dilakukan Yosua kepada Putri. Sebab, ada Kuat Ma'ruf (sopir) dan Susi (ART) yang disebut-sebut orang pertama yang datang setelah kegaduhan terjadi.

Ferdy Sambo bersama Putri Candrawathi saat rekonstruksi pembunuhan Brigadir Yosua di rumah dinasnya, di Jalan Duren Tiga Barat, Jakarta Selatan, Selasa (30/8/2022). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Dalam konteks hukum, kasus ini tidak akan berpengaruh dengan kasus pembunuhan Yosua yang tengah berjalan. Edwin juga pesimistis kalaupun dugaan pelecehan seksual ini dilaporkan atau diselidiki, akan berhenti seperti laporan pelecehan seksual di Duren Tiga ke Polres Jaksel.

"Walaupun dilaporkan, kan tetap berakhir penghentian perkara karena yang dilaporkan meninggal, dan tetap berpotensi laporan palsu lagi," ucap dia.

Dugaan Kekerasan Seksual Putri Candrawathi

kumparan post embed

Dugaan adanya kekerasan seksual di Magelang oleh Yosua terhadap Putri pada 7 Juli 2022 masuk dalam rekomendasi Komnas HAM berdasar pemeriksaan oleh Komnas Perempuan kepada Putri. Berdasarkan pemeriksaan itu, mereka yakin ada dugaan kuat terjadinya kekerasan seksual.

Sayangnya, tidak ada saksi yang menguatkan peristiwa itu. Ferdy Sambo dalam BAP-nya juga hanya mendapat cerita dari Putri lewat telepon dini hari dilanjutkan dengan cerita lengkap di rumah pribadi di Jalan Saguling, Jaksel, ada sore harinya.

Bahkan, Ferdy Sambo menyebut, Yosua memperkosa hingga membanting Putri ke lantai. Kegaduhan di kamar ini lalu didengar oleh Kuat Ma'ruf dan Susi yang langsung datang ke kamar.

Namun, tidak dijelaskan juga apa yang dilihat Kuat dan Susi saat itu. Apakah masih dalam kondisi diperkosa atau kondisi lainnya.

Pihak Sambo dan Putri sebelumnya juga telah merekayasa bahwa pelecehan itu terjadi di rumah dinas di Duren Tiga dalam laporannya ke Polres Jaksel. Tapi, setelah Bareskrim menegaskan tidak ada tindak pidana seperti yang mereka laporkan, klaim pelecehan beralih ke rumah di Magelang.

Polri akan mendalami dugaan kekerasan seksual itu. Tapi tidak dijelaskan juga dari mana dan berdasarkan bukti dan keterangan apa untuk memulai pendalaman atas rekomendasi Komnas HAM itu.