Luhut Sebut Corona di Jakarta Sudah Turun, Benarkah?
·waktu baca 6 menit

Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan belum memutuskan perpanjangan PPKM darurat. Meski begitu, ada sejumlah wilayah yang menunjukkan tren positif, seperti Jakarta yang kasus coronanya disebut mulai turun.
"Kami melihat ada beberapa daerah yang mencapai penurunan mobilitas dan aktivitas masyarakatnya sudah cukup baik dan penambahan kasusnya sudah flattening dan menurun, seperti DKI Jakarta," ucap Luhut dalam jumpa pers virtualnya, Sabtu (17/7).
Lalu, benarkah kasus corona di Jakarta sudah mulai menurun sejak PPKM darurat berlaku 3 Juli 2021?
Berdasarkan data dari situs corona.jakarta.go.id, Minggu (18/7), kasus corona di Jakarta terbilang fluktuatif. Penambahan kasus terendah terjadi pada 7 Juli, yakni 9.366 kasus dan tertinggi pada 14 Juli , 14.619 kasus. Sejak saat itu, kasus corona harian terus turun.
Berikut data kasus positif harian COVID-19 di Jakarta selama PPKM Darurat:
3 Juli: 9.702 kasus
4 Juli: 10.485 kasus
5 Juli: 10.903 kasus
6 Juli: 9.439 kasus
7 Juli: 9.366 kasus (total tembus 100.062 kasus positif di Jakarta)
8 Juli: 12.974 kasus
9 Juli: 13.112 kasus
10 Juli: 12.920 kasus.
11 Juli: 13.133 kasus
12 Juli: 14.619 kasus
13 Juli: 12.182 kasus
14 Juli: 12.667 kasus
15 Juli: 12.691 kasus
16 Juli: 12.415 kasus
17 Juli: 10.168 kasus.
Meski begitu, Jakarta masih punya banyak pekerjaan untuk dapat dikatakan sebagai daerah yang benar-benar terkendali dari penyebaran corona. Sebab, bila diperhatikan, kasus corona di Jakarta mulai merangkak naik setelah arus mudik berakhir.
BOR Meningkat, masih di atas 90%
Okupansi tempat tidur (BOR) rumah sakit rujukan pasien corona di Jakarta masih terus meningkat. Dimulai pada hari Minggu (4/7) BOR isolasi di 140 RS rujukan mencapai 92 persen, sementara BOR ICU sudah 94 persen.
Dikutip dari Instagram resmi Pemprov DKI, @dkijakarta, per 4 Juli, dari 11.214 tempat tidur isolasi yang tersedia, sebanyak 10.333 atau 92 persen diisi pasien.
Sementara dari 1.377 tempat tidur ICU yang tersedia di RS rujukan, sebanyak 1.295 atau 94 persen diisi pasien.
Selanjutnya, pada Senin (12/7) okupansi tempat tidur (BOR) rumah sakit rujukan pasien corona di Jakarta masih terus di atas 90 persen.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Riza Patria menjelaskan kenaikan angka BOR ini yang tertinggi selama pandemi corona.
“Kalau lihat data dari ruang ICU di sini memang sudah mencapai 95 persen dan tempat tidur isolasi 92 persen. Ini angka yang tinggi sekali dalam satu setengah tahun ini, dan kami minta kerjasamanya,” ujar Riza di Balai Kota Jakarta, Senin (12/7).
Keterisian tempat tidur rumah sakit ini memang naik sedikit dibanding 4 Juli 2021. Saat itu, tempat tidur ICU terisi 94% dari total 1.377 tempat tidur yang tersedia.
Sedangkan, tempat tidur isolasi tetap 92% dari total 11.214 tempat tidur yang tersedia.
Masih Ada Ratusan RT Zona Merah di Jakarta
Penyebaran virus corona di Jakarta semakin meluas dengan terbukti adanya 293 RT Zona merah di Jakarta pada Rabu (7/7).
Angka ini bertambah 238 RT yang masuk zona merah atau tingkat penularan tinggi dalam waktu sepekan atau periode sebelumnya.
Data tersebut berdasarkan laman resmi corona.jakarta.go.id untuk periode 5 Juli hingga 12 Juli 2021.
Setelah sepekan, Jakarta masih belum aman dari penyebaran virus corona, dikutip dari laman resmi corona.jakarta.go.id pada periode terbaru, 12-18 Juli 2021, zona merah di Jakarta masih terdapat 269 RT.
Total ada 15.204 RT yang masuk dalam pengawasan Pemprov DKI Jakarta. RT ini masuk dalam kategori zona merah, zona oranye, dan zona kuning.
Dari jumlah itu, RT yang paling banyak zona merah berada di Jakarta Barat sebanyak 81 RT. Sebelumnya, Zona merah terbanyak ada di Jakarta Pusat yang mencapai 141 RT.
Banyak yang meninggal karena isolasi mandiri
Melihat penuhnya BOR setiap rumah sakit yang di Jakarta membuat banyak warga yang kelimpungan mencari ruang perawatan, ICU, hingga tempat isolasi mandiri (isoman).
Co-Inisiator Lapor COVID-19 Ahmad Arif mengatakan bahwa pasien yang melakukan isolasi mandiri berujung meninggal dunia di Jakarta dilaporkan mencapai 45 orang per harinya.
“Nah, ini data sementara kami sampai tadi malam hampir 450 pasien isoman yang terlacak dan dilaporkan meninggal di berbagai daerah di Indonesia. Kami yakin ini fenomena gunung es karena tidak semua diberitakan atau terlaporkan,” kata Co-Inisiator Lapor COVID-19 Ahmad Arif, dalam diskusi virtual di YouTube CISDI, Senin (12/7).
“Misalnya kami komunikasi dengan teman-teman di Dinkes Jakarta, ya, bahwa mereka rata-rata sehari itu menerima laporan ada 45 pasien isoman yang meninggal di rumah. Kami sekarang berkoordinasi dengan DKI Jakarta untuk meminta data per harinya yang untuk kemudian bisa kami integrasikan dengan data di Lapor COVID-19,” imbuh Redaktur Harian KOMPAS itu.
Menurutnya, rata-rata faktor penyebab meninggalnya para pasien COVID-19 yang melakukan isolasi mandiri di rumah karena pasien isoman tidak terpantau hingga terlambat dibawa ke RS.
Kasus kematian protap COVID-19 masih tinggi
Masih terus terjadinya lonjakan kasus positif COVID-19 di Jakarta berbarengan dengan masih terus bertambahnya kasus kematian dengan protap COVID-19.
"Perlu diketahui bahwa hari ini saja Dinas Pertamanan dan Hutan Kota memakamkan lebih dari 300 jenazah," kata Anies dalam rapat yang diunggah di channel youtube DKI Jakarta, Jumat (2/7).
Berdasarkan catatan situs corona.jakarta.go.id, catatan tertinggi pemakaman protap COVID-19 terjadi pada 29 Juni 2021. Ada 304 orang jenazah yang dimakamkan.
"Pada gelombang pertama kalau pun kita harus memakamkan tinggi-tingginya itu 140 per hari. Sekarang sudah lebih dari 300. Minggu yang lalu untuk pertama kalinya sampai angka di atas 150. Lalu di atas 200, lalu di atas 250, dan kemarin di atas 300," tutur Anies.
Dari data yang diunggah, pada 1 Mei, tercatat pemakaman dengan protap COVID-19 dalam sehari hanya 25 kasus. Angka ini mulai merangkak naik sejak Juni 2021.
Puncaknya, ada di tanggal 3 Juli 2021. Dalam sehari, ada 392 pemakaman dengan protap COVID-19.
Pada masa PPKM Darurat hari ke-10, Jakarta belum bisa bernapas lega karena angka kematian karena COVID-19 masih tinggi.
Misalnya, kasus meninggal harian tertinggi terjadi pada 9 Juli, yakni mencapai 196 orang. Ini juga diikuti dengan jumlah pemakaman protap COVID-19 harian tertinggi terjadi pada 4 Juli yakni 394 orang.
Dikutip dari corona.jakarta.go.id, Rabu (14/7), sejak 3-13 Juli 2021 saat PPKM Darurat diberlakukan di Jakarta, jumlah pasien corona yang meninggal tertinggi terjadi pada 9 Juli 2021. Saat itu mencapai 196 orang dalam sehari.
Begitu juga dengan pemakaman protap COVID-19. Angka tertinggi terjadi pada 10 Juli 2021, yakni 407 orang yang dimakamkan.
Jumlah kematian dengan pemakaman protap COVID memang berbeda. Jumlah kematian dihitung dari pasien yang sudah dinyatakan positif corona lalu meninggal.
Lalu, warga yang sedang menunggu hasil tes PCR, lalu meninggal juga harus dimakamkan dengan protap COVID-19 dan dimasukkan dalam angka itu.
Berikut data pemakaman protap COVID-19 di Jakarta selama PPKM Darurat:
3 Juli: 392 orang
4 Juli: 394 orang
5 Juli: 386 orang
6 Juli: 363 orang
7 Juli: 343 orang
8 Juli: 401 orang
9 Juli: 369 orang
10 Juli: 407 orang
11 Juli: 74 orang
12 Juli: 259 orang
13 Juli: 238 orang
14 Juli: 315 orang
15 Juli: 313 orang
16 Juli: 351 orang
17 Juli: 229 orang
