Lupakan soal Harga Tanah, Warung Bu Lasiyem di Yogya Punya Menu Murah Meriah

Warung Bu Lasiyem yang berada di Jalan Palagan Tentara Pelajar, Sariharjo, Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogya, ramai diperbincangkan. Warung makan milik pasangan Tukidi dan Lasiyem ini menyempil di antara bangunan Hotel Hyatt Regency, hotel mewah bintang lima di kawasan Sleman.
Meski berada di samping hotel bintang lima, harga makanan di warung ramesan tersebut tetap merakyat. Menu yang ditawarkan pun merupakan menu rumahan seperti telur, ayam, dan sayur mayur.
"Menunya sederhana hanya nasi sayur, minuman teh, kopi, es jeruk. Harga ya rata-rata nasi sayur Rp 6 ribu, es teh Rp 3 ribu jadi Rp 9 ribu. Nasi telur itu Rp 9 ribu. Masih terjangkau," kata Tukidi saat ditemui di warungnya beberapa waktu lalu.
Tukidi yang telah menempati tanah warisan tersebut sejak 1985 ini menjadi saksi perubahan zaman. Apalagi setelah hotel yang jadi tetangganya ini diresmikan tahun 1997 silam. Kemudian mulai ada kampus berdiri, perumahan bermunculan, dan kos-kosan menjamur.
Selain pelanggan setia, pembelinya semakin bervariasi. Misalnya saja para karyawan hotel, mahasiswa, dan lain sebagainya.
"Yang beli itu umum, karyawan hotel ada, orang-orang jalan ada, langganan dulu sebelum ada hotel, ada," katanya.
"Jualan selama ada COVID-19 ini memang lebih sepi, sebelum ada COVID-19 ya ramai," imbuh Tukidi.
Salah seorang warga, Jaya Kusuma, mengakui bahwa harga makanan di Warung Bu Lasiyem tetap murah. Dia hanya membayar 13 ribu untuk nasi lauk kepala ayam, sayur, tempe, dan teh panas.
"Teh panasnya kemepyar, rasanya juga enak," katanya.
Pria yang menggandrungi otomotif motor trail ini mengatakan lingkungan warung yang asri juga menjadi kelebihan warung ini.
"Pagar hotelnya kan rimbun juga. Ini seperti makan di rumah," katanya.
Hal senada juga dirasakan Wawan Hari. Warga Cangkringan, Sleman, itu menyebut bahwa selain enak, makan di warung tersebut juga mengenyangkan. Pasalnya pembeli bisa mengambil nasi sendiri.
"Jadi prasmanan. Bisa mengatur tingkat kekenyangan," ujar Wawan.
Warung Bu Lasiyem ini bisa dibilang bersejarah. Dulu, tanah seluas 1.000 meter persegi tempat warung itu berdiri juga sempat ditawar untuk menjadi bagian hotel. Namun Tukidi menolaknya.
Hingga akhirnya hotel tersebut dibangun pada 1995 lalu diresmikan pada 1997, warung milik Tukidi tetap pada di tempatnya. Warung dengan menu ramesan itu tetap menyempil hingga sekarang.
"Dulu tawaran Rp 25 ribu per meter tahun 1990-an," kata Tukidi.
Pria dengan dua anak dan empat cucu ini selama lebih dari 20 tahun bertetangga dengan hotel seluas 25 hektar. Bukan tanpa alasan, Tukidi menolak tanah ini dijual karena merupakan tanah warisan. Sejak 1985 dia sudah tinggal di sana. Selain itu harganya pun dia anggap kurang cocok.
"Kalau dulu dilepas malah uangnya sekarang udah habis. Kalau dulu hanya laku Rp 20 juta kala itu. Itu harga (mobil) Kijang tahun 90 itu anyar (baru) Rp 18 juta," ucapnya.
Pria ramah ini tak menyesali keputusannya. Bahkan dia yakin jika dia menjual tanah tersebut mungkin uangnya juga sudah habis.
Lalu berapa harganya jika tanah tersebut dijual sekarang? Tukidi tidak menjawab dengan gamblang. Hanya saja, perkiraan harga tanah di situ sekarang mencapai Rp 20 juta per meter.
"Harganya makin tinggi sekarang. Sekarang kurang tahu. Mungkin Rp 20 juta per meter," katanya.
