Macron: Eropa Tidak Harus Jadi Pengikut AS soal Taiwan
·waktu baca 2 menit

Presiden Prancis Emmanuel Macron meminta Eropa tidak boleh jadi pengikut Amerika Serikat (AS) atau China terkait isu Taiwan. Menurutnya itu akan membuat Eropa terjerembab ke dalam krisis.
Komentar Macron dianggap berbagai pihak akan memicu kemarahan Washington. Pernyataan orang nomor satu Prancis itu juga memperlihatkan perpecahan blok Uni Eropa terkait bagaimana pendekatan tepat terhadap China.
"Yang terburuk adalah berpikir Eropa harus menjadi pengikut atau membuat diri kami beradaptasi terhadap ritme Amerika dan reaksi berlebihan dari China," ucap Macron saat wawancara dengan media Les Echos dan Politico usai lawatan tiga hari di China, seperti dikutip dari AFP.
Macron menambahkan, yang terpenting dilakukan Uni Eropa ialah punya pandangan jelas mengenai sejumlah isu seperti kebijakan dengan AS hingga relasi dengan China terkait. Itu disebut Macron sebagai strategi Eropa.
"Kami tidak ingin masuk ke dalam logika blok melawan blok. Eropa tidak boleh terjebak pada kekacauan dunia dan krisis yang bukan milik kita," tutur Macron.
Isu Taiwan dipicu oleh klaim China terhadap kedaulatan pulau itu. Taiwan menolak klaim itu dan menyatakan sebagai negara berdaulat penuh.
Krisis Taiwan makin memuncak ketika Presiden Tsai Ing-wen bertemu Ketua DPR AS Kevin McCarthy di California. China marah besar atas peristiwa itu.
China langsung menggelar latihan perang yang disebut sebagai simulasi serangan ke Taiwan. Simulasi digelar tepat usai Macron meninggalkan Beijing.
